Breaking News

Tips Menulis

Lemparan Dadu

Pernah terbayang dalam lamunanku, melihat teman sekelas yang begitu beruntung memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Duduk paling depan di dalam kelas. Mencatat apa yang diterangkan dosen baik di papan maupun proyektor OHP. Sedangkan aku, duduk di barisan belakang. Berpangku tangan dan menatap kosong ke depan.

Ketika dosen melemparkan pertanyaan, tak segan ia mengajukan diri untuk maju menjawabnya. Menggoreskan formula dengan spidol hitam. Barisan variabel yang entah apa itu lambda, alpha, atau beta. Hanya barisan huruf Yunani yang mewakili suatu pengertian, tapi entah apa itu. Di akhir ia menorehkan garis panjang di bawah jawaban finalnya dan mengetuk keras papan dengan spidol. Membentuk sebuah titik. Begitu yakin dengan jawaban tersebut.

Sedangkan di sampingku, tertidur dengan lelapnya. Datang sudah terlambat dan kini kepalanya hanya mengangguk-angguk dengan tangan yang mencoret-coret abstrak. Aku tahu ia tidaklah sebodoh yang terlihat. Bahkan bisa dibilang ia jenius. Terbukti ia bisa dengan mudahnya diterima di kampus ini melalui jalur prestasi. Mungkin jika ditandingkan antara dirinya dengan temanku yang di depan tadi, ia mampu mengunggulinya. Atau jika tidak, sekedar menyamainya.

Ada orang yang melempar dadu dengan probabilita muncul angka 6 hanya 1/6. Tetapi ia melempar sebanyak 6 kali sehingga genaplah probabilita kemenangannya. Sebagaimana temanku yang di depan tadi. Aku tahu ia mendapatkannya (kecerdasan) bukan dari “kena sekali tembak”, tetapi dari berkali-kali lemparan dadu yang tak pernah ia tunjukkan lemparan-lemparan tersebut pada publik.

Tetapi ada juga orang yang memiliki “tangan dewa”. Sekali lempar langsung mendapatkan angka 6 seperti halnya temanku yang tertidur itu. Mudah baginya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sepertinya dewa keberuntungan selalu menyelimuti tidurnya. Hanya saja, lemparan dadunya tak sebanyak temanku satunya. Tetapi, he gets what he wants. Mungkin ia hanya membutuhkan banyak want atau paling tidak meninggikan standar want-nya daripada sekedar cuek dan apatis dengan keberuntungannya. Atau ia tidak sadar jika ia beruntung.

Atau mungkin, melempar dadu pun membutuhkan “sesuatu”. Sesuatu yang bernama “keberanian”. Keberanian mengambil risiko dan menikmati konsekuensinya. Melempar dadu pun tak akan memiliki arti jika hanya melempar. Kosong. Mainan. Jika tak ada yang dipertaruhkan. Karena dengan ada yang dipertaruhkan, maka lemparan dadu akan semakin “berat”. Dan itulah yang membutuhkan keberanian.

Lantas apa yang dipertaruhkan?

Uang mungkin?

Tenaga?

Jam tidur?

Pekerjaan?

Ego?

Atau . . . .

Waktu?

“DARMAWAN!!! SINI MAJU!! COBA KAMU KERJAKAN NOMOR 9.13!!”

“ah . . eh . . . oh” lamunanku terbuyar. Bulir-bulir keringat dingin mulai keluar dari dahi. Lidah kelu. “Ma  . . . maaf Pak. Saya tidak bawa buku.”

“KELUAR KAMU!!!”

Dan ada orang yang hanya menimang-nimang dadu tanpa melemparnya sama sekali.

Shalat hujan-hujanan?

Jadi ingat kejadian shalat Jumat serupa. Kebagian di luar masjid JHK Kudus saking penuhnya. Takmir pun memang sengaja mendirikan tenda multifungsi. Sebagai tempat shalat ketika Jumat dan lahan parkir sepeda motor selain Jumat. Tinggal gelar tikar plastik kuning hijau seperti di pengajian-pengajian.

Entah apa yang disampaikan khatib kala itu, tak begitu ku ingat. Yang ku ingat hanya bermain jari-jari tangan layaknya orang-orangan. Jari telunjuk dan tengah sebagai kaki kanan dan kiri. Kemudian saling tendang antara tangan kanan dan kiri. Layaknya gerakan “meteor” dalam animasi Dragon Ball. Maklum anak kecil tahun 90an. Waktu itu belum ada Naruto atau One Piece.

Berada di shaf paling depan tapi di luar masjid. Di belakang barisan sandal dan sepatu yang berjajar acak asal lepas dari kaki. Paham betul dengan tulisan “batas suci” yang melekat di anak tangga pertama menuju masjid. Meski ada beberapa pasang sandal yang “nangkring” di sela-sela pagar tanaman yang mengitari masjid. Berharap mudah ditemukan dan tidak tercampur apalagi tertendang ketika usai shalat Jumat.

Cuaca panas-panas mendung. Terik dari pagi tapi sedikit berawan tebal kehitaman di siang hari. Meski demikian, tak banyak yang sedia payung sebelum hujan. Padahal kala itu cuaca masih “normal”. Musim hujan antara September-Oktober dan berakhir di bulan Maret-April. Persis seperti yang diajarkan guru SD yang juga diambil dari buku-buku paket yang dipinjami setiap awal tahun.

Usai dua khutbah dan doa panjang, khatib turun mimbar, iqamah dikumandangkan, dan shalat pun didirikan. Shaf dirapatkan. Orang-orang yang semula duduk di anak tangga kehabisan tempat, mulai merangsek maju. Mengambil posisi di dalam masjid. Berdesak-desakan. Bahu bertemu bahu. Tak jarang kaki saling terinjak satu sama lain. Mau bagaimana lagi karena shaf sudah penuh dan sajadah pun tak bawa.

Tak ada yang kesal kemudian saling sikut. Karena mereka paham betul semua butuh posisi “wenak” apalagi untuk menghadap-Nya. Paling hanya “ngedumel” dalam hati. Hehe. Paling nyaman memang mereka yang di shaf awal. Posisinya sudah “settle”. Ganjaran dari berangkat ke masjid sedari awal. Ketika mp3 tilawah yang diperdengarkan melalui pengeras suara baru dinyalakan.

Imam sudah mengangkat kedua tangannya, takbiratul ikhram, sedari tadi. Jamaah yang tertinggal, baru selesai mengambil wudhu pun tak lagi berharap mendapat shaf di dalam masjid. Segera berlari-lari kecil mengambil posisi di belakang barisan sandal jamaah yang di bawah tenda. Mengambil lembaran kertas koran sebagai alas kepala saat sujud. Tapi ini jarang. Jarang sekali. Kebanyakan sudah membawa sajadah dari rumah. Apalagi jika sudah paham karena berangkat yang terlambat.

Tanpa diduga, menuju rakaat kedua, hujan deras melanda Kudus. Hujan selebat-lebatnya tanpa ada basa-basi gerimis yang mendahului. Aman bagiku, adikku, dan Abah. Tenda di atas kepala melindungi dari hujan lebat. Imam pun masih meneruskan bacaan shalatnya. Meski suaranya tak selantang sebelumnya. Derasnya hujan sedikit mengaburkan lantunan ayat dari pengeras suara.

Air mulai menggenang. Membasahi sandal dan sepatu jamaah. Tak terbayang bagaimana para jamaah yang memakai sepatu, apalagi jika mereka sekedar istirahat siang dari pekerjaan di kantor. Sudah pasti basah kuyup. Air memasuki lubang sepatu. Kaos kaki basah. Jika nanti dikenakan rasanya seperti kinyis-kinyis adem. Tapi bau.

Genangan air juga merambat ke bawah tenda. Ke tikar-tikar yang digunakan shalat. Kaki yang menepak di atas sajadah pun mulai merasa lembab pertanda air sudah menembus bawah sajadah. Tak butuh waktu lama, warna sajadah mulai makin gelap. Air sudah mulai merembes ke sajadah. Basah. Becek.

Imam mengumandangkan takbirnya lagi. Isyarat untuk melakukan gerakan selanjutnya, ruku’. Membungkukkan badan. Sajadah yang basah kini makin terlihat jelas basahnya. Sifat kapilaritas semakin membantu genangan air untuk membasahi sajadah keseluruhan tanpa terkecuali. Termasuk label sajadah yang berada di tepi bawah. (pasang iklan di sini)

Takbir dikumandangkan lagi pertanda untuk sujud. Ragu-ragu. Jelas-jelas basah. Lihat Abah sudah sujud duluan begitu juga jamaah yang lain. Meninggalkan aku yang masih setengah berdiri. Akhirnya ikut sujud juga. Nyesss. Dahi (dan hidung) basah. Dan enam bagian tubuh lain yang harus menempel ke tanah: telapak tangan, lutut, dan ujung depan kaki, baik kanan maupun kiri.

Imam mengumandangkan takbir lagi, duduk di antara dua sujud. Nyesss. Air mulai merambati celana. Kapilaritas. Basah. Hingga yang takbir terakhir, duduk tasyahud. Pantat kanan-kiri menyentuh tanah. Cresss. Basah sejadi-jadinya. Air makin membasahi celana. Sampai ke dalam-dalam. Rasanya menjadi adem-adem semriwing.

Tak mungkin untuk membatalkannya. Ini shalat Jumat. Shalat wajib bagi pria. Hanya sekali dalam seminggu (seJumat). Lantas mau bagaimana lagi. Pikiran sudah tidak fokus lagi. Yang terpikirkan kapan salamnya diucapkan, pertanda shalat diakhiri. Dan mendapati badan basah sebagian. Dari pinggang ke bawah. Kedinginan.

Percaya Diri

Percayailah pikiranmu. Sekalipun itu keliru, kelak kau akan menyadari kekeliruanmu berkat “rekaman” tulisanmu

Apapun

Tulislah apapun yang kamu mau. Karena tak ada yang bisa menyalahkanmu. Tulisanmu ialah jalan pikiranmu.

Sederhana

Tulislah apapun. Bahkan yang sederhana sekalipun. Yang umum dilakukan, dirasakan, dilihat, atau didengar