Breaking News
Home / Curhat / Ramadhan ala perantau

Ramadhan ala perantau

 

Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning mengiringi seorang perantau yang sedang Ngabuburit . Ia yang juga seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi kedinasan yang kurang terkenal sedang berkeliling dengan sepeda sembari mencari Takjil untuk berbuka nanti. Bagi seorang perantau seperti dirinya, segala hal memang harus melakukan segalanya secara mandiri, terutama dalam berbagai hal di bulan suci Ramadhan ini yang akan membuat si perantau ini tambah kerepotan dari menyiapkan lauk pauk untuk sahur di pagi buta hingga menyiapkan makanan di sore hari untuk berbuka . Untuk menyiasatinya ia mempunyai berbagai tips & trik untuk mengatasi kerepotan tersebut :

  1. Berhemat

Saat mencari takjil untuk berbuka puasa, mahasiswa perantau ini tetap berhemat dalam menggunakan uangnya. Walaupun di matanya dan perutnya ingin melahap semua takjil, ia tahu hal itu hanya nafsunya saja. Nafsu inilah yang biasanya menjebak dan malah membuat pengeluaran di bulan puasa justru lebih besar dari bulan biasa. Lho kok bisa? Tanyakan pada perutmu saja.

 

  1. Tidak tidur terlalu malam

Karena dikeesokan hari ia harus bangun untuk melakukan sahur, mahasiswa perantau ini mempersiapkannya dengan matang. Tidur lebih cepat merupakan salah satu strateginya. Teringat akan nasihat ustadznya dulu di pondok pesantren yaitu “Nam mubakkiran, Qum mubakkiran”  yang artinya tidur lebih cepat bangun lebih cepat untuk menyiasati waktu sahur yang amat teramat sangat pagi bagi kebanyakan orang. Jangan sampai kalian terlambat bangun karena semalaman begadang Stalking linimasa media sosial mantan kalian kalau kalian punya, kalau ga punya Alhamdulillah berarti kalian adalah hamba Allah yang Istiqomah dalam ketaatan dan jangan sampai terjerumus ya . Punya mantan itu ga enak .

 

  1. Siapkan lauk sahur di malam hari

Untuk mempermudah hidup, si mahasiswa perantau ini mempersiapkan lauk untuk sahur di malam harinya. Entah ia masak sendiri entah ia membelinya di luar, yang jelas ia mempersiapkannya untuk mempercepat prosesi sahur yang akan dijalaninya esok . Kan gak lucu kalau kalian bangun mepet imsak dan kalian gak punya lauk untuk dimakan. Rasanya sakit tapi tak berdarah. Lauk yang ia siapkan juga tidak sembarangan. Ia menghindari lauk yang punya minyak berlebih seperti goreng2an ataupun muka mantan kamu, serta memperbanyak asupan karbohidrat dan glukosa untuk kalori menjalani hari esok. Jangan sampai kalian habis bahan bakar di tengah hari dan tergoda godaan Warteg bergorden yang Terkutuk.

 

Itulah sedikit tips dan trik dari mahasiswa perantau. Mungkin kalian yang mahasiswa perantau juga kangen dengan rumah kalian di kampung halaman. Dimana makanan dan segalanya disiapkan oleh orang tua kalian. Sabarlah nak, karena nikmatnya merantau ada di kepulangan kalian , jadi untuk sekarang nikmati saja ya.

Jangan lupa perbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an ataupun belajar dan lain sebagainya. Karena di bulan yang penuh rahmat dari Allah SWT ini pahala di lipatgandakan. Ibarat game, bulan ini adalah event dimana XP (Pahala) kalian dilipatgandakan setiap mendapatkannya. Selain memperbanyak pahala, amal ibadah juga dapat meningkatkan keimanan kalian agar kalian tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif seperti maksiat ataupun hal yang lebih berbahaya seperti menganggap bahwa Agama adalah sekedar warisan misalnya.

Mereka yang seperti itu mungkin perlu baca-baca lagi kisah para Nabi dan Rasul.

About penggigit_pensil

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram