Breaking News
Home / Curhat / Merana Karena Hidup kurang Bermakna

Merana Karena Hidup kurang Bermakna

Assaalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Namaku pakdhe, sering dipanggil fahreza. Mahasiswa Jogja asal Kabupaten Sragen. Pernah sekolah pondok 4 tahun di pinggir Kota Surakarta. Aku juga punya adik laki-laki yang juga sekolah pondok disana sejak Mts. Jadi dia udah hampir 6 tahun menimba ilmu disana.

Jujur, banyak yang ingin aku ceritakan kepada kalian.

Tak semua harapan akan menjadi kenyataan. Dan tak setiap kenyataan berawal dari harapan.

Kita hanya mampu berdo’a kepada tuhan. Dan menyerahkan semua kepada-Nya. Biarlah tuhan yang mengatur semuanya. Kita hanya melakukan peran sebagai hamba atas semua skenario Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka berdo’alah, ikhitiarlah, dan istiqomahlah dalam melakukan suatu hal yang kamu inginkan. Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikutimu. Segala sesuatu yang diawali dengan basmallah dan niat tulus untuk beribadah maka surga imbalannya.

Banyak manusia yang dengan jelas melihat dosa orang lain, namun buta melihat dosanya sendiri.  Begitulah realita hidup di jaman sekarang. Urusan dunia nomer satu tapi untuk urusan akhirat nomer kesekian, itu pun kalau tidak lupa lho ya.

Ketika hati mulai berkarat, pikiran dan jiwa sedang sekarat, mulut tidak lagi mau mengucap sholawat, amal tidak lagi untuk akhirat, apakah ini tanda kiamat mulai mendekat?? Dan tiba-tiba sang malikat pun mulai mendekat, lantas kau mampu apa untuk berbuat? Raga sudah tidak berdaya, pikiran entah pergi kemana, nyawa pun mulai merana. Ingatlah dan bersegeralah tobat. Karena kita tidak tahu jantung kita kapan berhenti untuk berdetak.

Untuk apa kita mengejar suatu hal yang belum tentu kita bawa saat bertemu Sang Ilahi nanti? Untuk apa semua yang kita kejar dengan jerih payah, dengan susah kita mendapatkannya, rela sakit untuk meraihnya tapi belum tentu diterima oleh Sang Pencipta? Untuk apa? Untuk apa semuanya bila tidak dapat imbalan berupa pahala untuk bekal di akhirat kelak? Untuk apa?? Sekali lagi aku bertanya, untuk apa?

Apa gunanya kita setiap hari bernafas dengan udara yang diberikan tuhan dengan gratis jika kita tidak mampu untuk bersyukur? Setiap jantung kita berdetak, setiap mata kita berkedip, setiap pikiran kita sedang berpacu, terdapat tangan Allah disitu yang membantu kita tanpa kita sadari. Bersyukurlah dan berbuat baiklah. Maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada kalian, dan apabila kalian mengingkari segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepada kalian, maka azab Allah sangatlah pedih. Itu kutipan terjemahan Al-quran surat Ibrahim ayat 7.

Aku fahreza, senang sekali rasanya jika kalian mampir dan membaca tulisanku ini. Apalagi  mampu membuat kalian semua yang membaca berubah. Walaupun yah, hanya sekedar berkeinginan untuk berubah. Hehehe. Maaf jika ada salah kata dalam penulisanku ini. Itu datangnya dari aku, kalau benar pasti datangnya dari Allah swt semata.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

About fahreza

#yukngaji #predatorquran #shiftpemudahijrah Informatics Engineer Uii Astrophotographer Drone Pilot MyBrother @riffaan_ Penulis ID Instagram : @pakdhe01st / @al_fasina

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram