Breaking News
Home / Curhat / Hilangnya Jiwa Teman Seperjuangan
Bersama Ustadz H. M. Nasihin Taqwad.

Hilangnya Jiwa Teman Seperjuangan

Kami Satu Rasa Satu Jiwa! Kita Saudara Bukan lagi Teman!

Aku tak tau ingin bercerita tentang apalagi dan mulai darimana aku harus menuliskannya . Ada satu cerita yang kini masih ku pendam hingga sekarang. Ada masa dimana teman menjadi lawan, dan lawan akan menjadi kawan. Dan saat itupun tiba…

Kau anggap aku ini apa hah!?

Parasit dikehidupan mu, lalu kau sumpah serapahi diriku?

Kau hinakan aku didepan gerombolan dan golonganmu itu??

Sudah lupakah engkau wahai teman, janji yang kau teriakan dahulu saat kita wisuda di Pondok? “Kami Satu Rasa Satu Jiwa! Kita Saudara Bukan lagi Teman! Tanzanite 30 Selalu di Hati!”

Semua itu apa? Hah!? Omong kosong mu juga??

Saat kita mondok bareng, saling tegur-sapa, saling menasehati dalam hal kebaikan, saling memberikan semangat saat yang lain bersedih, saling membantu saat ada yang kesusahan, saat ada masalah angkatan, kita yang menjadi tameng dari kakak kelas kita. Kau dan aku sama. Dipukuli, ditendangi, dicaci, dijauhi, dan dibuat tidak krasan hidup di pondok. Tapi kita memilih untuk bertahan. Bertahan dalam tekanan, bertahan dalam ketidaknyamanan, dan bertahan dalam 1 tujuan. Yaitu Lulus.

Kini pun kau hanya bertanya sebatas perkulihan. “Tugas ini udah belum? Kalo yang ini udah juga apa belum? Kalo yang itu?”

Sudah bukan urusan kamu lagi mungkin. Kini kau sudah punya kepentingan lain selain kuliah. Kau sudah beda, beda banget. Apakah karena teman-teman permainan mu kau jadi seperti ini? Apakah memang aslinya kamu seperti ini sebelum masuk pondok? Lalu kau merasa bebas dan kembali ke kehidupan kamu yang dahulu??

Ingin aku menegurmu saat kau salah, ingin sekali aku ngobrol dengan kamu hanya sebatas bernostalgia saat di pondok dulu atau hanya sebatas ngobrol ringan tentang kuliah dan keseharianmu. Namun aku tak sanggup. Aku tak sanggup. Sungguh aku tak sanggup. Telah banyak beban berat yang kini aku panggul.

Memang bercerita dalam sedih dan haru tentang kehidupan ku dan kamu dahulu adalah suatu hal yang dapat membuat ku lega. Lega.

Saat ini kita hidup di “Era Milineal”.

Besarnya rasa gensi dan gaya hidup hanya untuk mendapatkan teman. Bukan rasa “andap asor dan tepo sliro” kata orang jawa bilang. Podo-podo mangerteni lah koe karo aku nang kene kui nggur anak rantau.

Kitapun saat ini hidup di jaman “Wong Jowo ilang Jowone”.

Dulu kau sempat hidup dalam kasih-sayang gendongan bundamu dan dalam hangatnya bedongan dengan balutan kain jarik yang sungguh apik. Dan bundamu bersenandung dengan kasih dan penuh sayang kepada mu,

“ Tak lelo…lelo…lelo ledung…
Cep menenga, aja pijer nangis
Anakku sing bagus rupane
Yen nangis ndak ilang baguse
Tak gadhang bisa urip mulya
Dadiyo cah lanang utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendekaring bangsa…”

Sudah saatnya kau kembali seperti kau yang dahulu.

Jujur saja, kau sudah termakan oleh teman-teman tongkronganmu yang membuat mu seperti orang yang buas, bringas, libas, tindas, dan lepas.

Ya aku tahu. Aku tahu. Ini adalah bentuk proses usia dari remaja dewasa menuju dewasa tanggung. Aku berharap kau berhati-hatilah dalam bertindak dan ingat batasan. Jauh dari awasan orang tua dan uang jajan yang berlimpah, membuatmu lupa akan apa kewajibanmu dalam perantauan mu saat ini.

Sudahlah kawan, gengsi tidak mengenyangkan perutmu itu. Kalau dahulu punya uang ataupun tidak, asalkan kita bersama maka kita dapat berkawan dan bermain dengan riang gembira.

Jika saat ini?? Mau berkawan saja asal ada uang maka kita akan dianggap teman.

Pedih, miris, marah dan sedih.

Saat kita melihat kawan akrab kita, teman seperjuangan kita sudah berubah menjadi orang asing. Yang dimana kita sudah dianggap orang lain yang tidak dianggap lagi.

Sekali lagi aku berharap. Kau membaca tulisan ku ini. Curahan dari isi hati dan unek-unek ku yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Jujur

Aku Fahreza, orang yang pernah kau anggap sodara dan teman seperjuangan. Aku kira selamanya ternyata bukan. Lepas almamater dan berganti almamater lain. Lepas pula omongan kamu dan semua yang pernah kau teriakkan saat kelulusan pondok dahulu.

“KAMI SATU RASA, SATU JIWA. TAKHASUS AL-AHADIAT, CHESTER TRIDENT 03, TANZANITE 30 KITA SEMUA SAUDARA”

About fahreza

#yukngaji #predatorquran #shiftpemudahijrah Informatics Engineer Uii Astrophotographer Drone Pilot MyBrother @riffaan_ Penulis ID Instagram : @pakdhe01st / @al_fasina

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram