Breaking News
Home / Curhat / Website itu Tidak Gratis

Website itu Tidak Gratis

Memiliki website hanya sekedar melampiaskan hobi menulis ternyata tidak gratis. Banyak blog yang menawarkan fasilitas gratis seperti wordpress dan blogspot, yang keduanya juga saya miliki sejak tahun 2010. Tapi kustomisasinya sangat terbatas.

Alwi Husada, salah satu teman sekelas di pesantren (mungkin sekarang sudah di Jerman) dulu menyarankan untuk menggunakan wordpress. Sudah, sudah tak pakai. Tapi ya begitu, fiturnya terbatas. Atau entah mungkin saya yang masih gaptek hehe.

Sekembalinya ke pesantren, masih juga berkutat dengan blog-blog ini. Mulai dari blog milik CASA dan Lab MIPA, yang keduanya menggunakan wordpress. Ada banyak template yang bisa digunakan, cuman ya itu, yang keren ternyata berbayar.

Lalu Observatorium Assalaam juga memiliki website sendiri. Kali ini bukan gratisan menggunakan blog, tapi dengan hosting dan domain sendiri. Walaupun masih menggunakan template wordpress, tapi kustomisasinya lebih bebas.

Plugin-plugin yang semula tak bisa diinstall bebas di blog, kali ini tinggal pilih, mau plugin seperti apa. Pengaturan layout dan lain sebagainya bisa lebih nyaman untuk dikustomisasi dengan hosting dan domain sendiri.

Yah, ibarat tempat tinggal. Jika mengontrak rumah mungkin bisa mengubah tata letak perabotan di dalamnya, tapi tak bisa keseluruhan rumahnya. Berbeda dengan rumah sendiri, mau dirancang dari nol pun bisa. Mau menggunakan desain luar negeri pun bisa. Atau hanya dipasang tenda saja pun juga bisa. Suka-suka kita.

Website itu ibarat tempat tinggal. Bisa “kontrak” atau “rumah sendiri”.

Terlepas dari “rumah” tersebut, hobi menulis tetap harus jalan. Entah nanti akan “kontrak” atau punya “sendiri”. Itu masalah nanti. Yang penting kan isinya. Masalah kemasan bisa disusulkan belakangan. Kira-kira begitu hehe.

Sementara itu, “rumah”nya menumpang di facebook bertahun-tahun. Sayangnya, tulisan-tulisan lama “tenggelam” seiring semakin banyaknya tulisan. Apalagi kalau ada tulisan yang sengaja ku buat bersambung. Kasihan yang membaca, atau ketinggalan episode. Harus menscroll dalam-dalam di timelineku.

Sampai akhirnya, Mahardika Gilang, pemilik JetOrbit menawariku membuat website sendiri. Dipikir-pikir, udah lama “menumpang” di facebook, mungkin saatnya sedikit demi sedikit memindahkan “perabotan” ke “rumah sendiri”.

Tapi lihat “rumah”nya terlalu besar jika diisi saya sendiri. PUFT, muncullah ide SegoresTinta. Daripada asyik menulis sendiri di “rumah sendiri”, bagaimana kalau mengajak yang lain untuk “tinggal” ramai-ramai? Kan lebih asyik hehe.

Sekarang “rumah”nya sudah ada, tinggal memikirkan bagaimana merawatnya. Permak terus hehe.

Rumah, 6 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram