Breaking News
Home / Nalar / Tut Wuri Handayani

Tut Wuri Handayani

Siapa yang tidak mengenal dengan slogan “Tut Wuri Handayani”? Pernah mendengarnya? Atau pernah melihatnya? Ring a bell?

Kata-kata ini tersemat di banyak atribut sekolah, mulai dari dasi, topi, atau gerbang sekolah. Tetapi apa sih arti dari Tut Wuri Handayani?

Slogan ini merupakan satu dari serangkaian slogan karya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Dua lainnya adalah “Ing Ngarsa, Sung Tuladha” dan “Ing Madya, Mangun Karsa” yang jika dirangkai utuh memiliki filosofi yang apik.

Mari kita coba menalar satu demi satu. Tentunya dengan gaya yang “sedikit berbeda” hehe

Ing Ngarsa Sung Tuladha
Aku di depan, contohlah aku!

Berada di depan, di mana semua mata tertuju, di mana tujuan tak terlihat. Hanya punggung orang yang terdepan yang terlihat. Katakanlah ada lubang di depan, atau ada banteng yang berlari dari arah depan. Siapa yang bisa melihat? Kecuali aku yang di depan? Maka, jika aku melompat, ikutilah lompatanku. Aku berhenti, ikutilah aku berhenti. Aku menghindar ke kiri, ikutilah menghindar ke kiri. Sekalinya mengeyel, mencoba mencari jalan yang lain, maka hadapilah sendiri.

Lantas, apa yang dibutuhkan di sini selain KEPERCAYAAN? Kepercayaan padaku, yang berada di depan. Dan tentunya kepercayaan tersebut memiliki “beban moral” tersendiri.

Ing Madya Mangun Karsa
Aku di tengah, aku fasilitator

Berada dalam kerumunan terlebih pada sebuah grup diskusi. Diskusi bisa menjadi tak berarah ketika masing-masing kepala memiliki pemikiran “liar” yang lepas dari “rel”nya. Maka aku sebagai fasilitator haruslah menarik mereka kembali ke rel yang benar.

Ibarat berjalan bersama rombongan anak kecil. Dengan mudahnya mereka akan tergoda dengan kupu-kupu yang terbang lantas mengejarnya dan keluar dari rombongan. Atau ada yang berdiri terdiam lantas mengaduh kecapekan. Maka tugaskulah menarik mereka tetap berada di dalam rombongan

Begitu pula ketika diskusi menjadi pasif, masing-masing mengambil tindakan “diam”. Lagi-lagi akulah yang harus memantik “kebakaran” agar suasana kembali hidup.

Tut Wuri Handayani
Santai jeh, aku nang mburimu!

Berada di belakang rombongan bukan berarti hanya dapat mengikut apa yang ada di depannya, tetapi justru memiliki beban yang “paling” berat, menjaga rombongan. Jangan sampai ada yang tertinggal.

Berada di paling belakang memiliki kemampuan untuk melihat keseluruhan tindak tanduk anggota rombongan, mulai dari yang terdepan hingga satu orang di depan. Ada yang berjalan tegap, pandangan lurus ke depan, tak menoleh sama sekali ke belakang. Ada juga yang berjalan santai, sambil tolah-toleh dan bersenandung. Atau juga ada yang iseng berjalan mundur sambil menghadap ke belakang. Selalu ada saja yang aneh-aneh dan itu semua tampak jelas bagi yang berada di paling belakang.

Dan ingat, “santai jeh, aku nang mburimu!”. Meskipun jalanmu lambat, meskipun kamu minta ijin untuk istirahat sebentar sekedar melepas lelah, “santai jeh, aku nang mburimu!”.

Tiga slogan Ki Hajar Dewantara ini sangat apik ketika diterapkan dalam pendidikan. Dan tentunya tak hanya diterapkan dalam bidang pendidikan saja, tapi di bidang yang lain. Beteng-betengan mungkin? hehe

Rumah, 24 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram