Breaking News
Home / Curhat / Tua di Jalan

Tua di Jalan

Goresan tinta itu bersumber dari gerbong kereta Prameks, pegangan bus TransJogja, dan tukang ojek Lempuyangan.

Ketika berjalan kaki ke stasiun di pagi buta sudah menjadi rutinitas keseharian. Jalan di gang “komplek” RRI yang sering “disapa” oleh makhluk-makhluk “malam” yang belum mendapat pelanggan. Sampai berbulan-bulan berikutnya sapaan itu berubah dari “tawaran” menjadi “berangkat Mas?”.

Suasana stasiun di pagi buta pun masih diselimuti kantuk. Bangku-bangku di luar peron diisi porter-porter tidur telentang, menyelonjorkan kaki, menunggu penumpang kereta malam yang membawa banyak bagasi.

Petugas loket pun tak jauh beda. Duduk tertidur di ujung loket. Kaki diangkat, dipangkukan di kursi lain. Menyandarkan punggungnya. Jarum pendek di jam dinding masih menunjuk angka tiga. Sayang, saya harus membangunkannya. Kaca loket ku ketuk-ketuk sambil sedikit berteriak kecil memanggil, “Mas! Mas! Prameks jam 5 satu!”

Tiket sudah di tangan. Masih dua jam untuk menyiapkan segala sesuatunya. Yang terpenting, bagaimana menjaga dua bola mata ini tetap terjaga. Berat. Apalagi gravitasi di atas kasur meningkat berlipat-lipat. Ditambah bantal yang melambai-lambai minta dipeluk.

Pukul 5. Stasiun tak lagi lenggang seperti tadi. Antrian di loket sudah mengular panjang. Manusia-manusia yang hidup dengan komuting. Diselimuti jaket tebal. Memanggul tas ransel besar-besar yang di dalamnya kursi lipat portabel. Persiapan ketika gerbong penuh dan tak mendapat kursi. Terlambat sedikit saja, alamat mendapat jadwal kereta satu jam setelahnya.

Kompetisi dimulai ketika kereta datang. Manusia-manusia komuting yang sudah berdiri sepanjang peron segera menyerbu pintu gerbong yang terbuka. Melempar pantat seketika melihat kursi kosong. Memindahkan posisi tas ke pangkuannya dan memejamkan mata. Menebus jam tidur yang sempat tersita karena antrian tiket.

Kali pertama melihat kegesitan manusia-manusia komuting ini, saya tercekat. Kalah cepat yang berujung pada memasang kuda-kuda selama 70 menit ke depan. Mata terjaga di saat yang lain sudah terlelap di atas kursinya, buah dari perjuangan berdesak-desakan. Tujuh puluh menit berharga itulah yang membuat pikiranku berlarian. Segores Tinta.

Tiba di Jogja pun, perjalanan belum berakhir. Menunggu satu armada bus TransJogja rute 3A. Armada yang mengitari kota Jogja melalui Ring Road Utara sebelum masuk ke pusat kota dari Jalan Kaliurang.

Seharusnya sepi tetapi tidak. Manusia-manusia komuting tadi juga banyak yang berebut bus 3A. Terminal Condongcatur menjadi transit destinasi yang banyak dituju. Jika tidak bersiap menempatkan diri di pintu halte, maka harus menanti bus 20-40 menit berikutnya. Wasting time. Dan 20-40 menit berharga itulah yang membuat pikiranku berlarian kembali. Segores Tinta.

Mendapat kursi di bus TransJogja tak bisa diharapkan. Kalah dengan ibu-ibu atau bapak-bapak paruh baya. Wajar. Terutama budaya Jogja yang ramah. Prioritas kursi bagi yang lebih tua (atau tampak tua). Jika memang ingin mendapatkan kursi, incarlah dua kursi samping supir. Tapi jika kursi ini sudah penuh, sekali lagi siapkan kuda-kuda selama 40 menit ke depan. Kuda-kuda yang lebih kuat karena akan sering terhuyung ke kanan dan ke kiri. Terlempar dari satu ketiak ke ketiak yang lain.

Kalau “beruntung”, ada jackpot menanti di Halte Calista. Om-om melambai yang “sengaja” melepaskan pegangannya, menjatuhkan badan ke depan, dan menjerit kecil, “AH!”. Gitu. Sedikit genit pura-pura memeluk dari belakang. Membuat bulu kuduk berdiri seketika. Merinding. Pucat. Kantuk sedari tadi sirna seketika.

Terakhir. Tukang ojek Lempuyangan? Itu hanya pelarian. Menghindari jackpot yang tak bisa diduga. Meski harus merogoh kocek lima kali lebih tinggi dari bus TransJogja. Sayang, tak bisa terlalu sering naik ojek. Membuat probabilita mendapat jackpot, lebih besar.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram