Breaking News
Home / Opini / Tarik Duit

Tarik Duit

Semasa kecil saya dulu, sempat bermain dengan adik menggunakan kartu tebak-tebakan. Sederhana sih, tebak-tebakan seputar wawasan umum. Dua jawaban yang masih saya ingat adalah modus operandi dan perum peruri.

Perum peruri merupakan perusahaan yang mencetak uang, sederhananya demikian. Lantas muncul pertanyaan dasar. Jika negara mampu mencetak uang sendiri, mengapa ia tidak mencetak sebanyak-banyaknya dan membayar hutang-hutangnya? Bahkan kalau perlu bisa membeli negara lain hoho.

Ketika saya sempat mengunjungi Museum Bank Indonesia, ada rentetan sejarah yang menceritakan sekilas perekonomian Indonesia. Salah satunya ketika Indonesia baru saja merdeka. Pada masa itu, bapak proklamator berkeinginan untuk membangun landmark sebanyak-banyaknya, di antaranya ialah Gelora Bung Karno dan Monas.

Dari mana uangnya? Mudah. Tinggal cetak sendiri. Toh ada perum peruri (Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia). Semakin banyak uang yang dicetak, maka semakin banyak uang yang beredar. Terjadilah inflasi.

Inflasi berdasarkan website Bank Indonesia ialah meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Katakanlah dulu beli gorengan cukup dengan satu koin lima ratusan. Sekarang satu gorengan butuh satu lembar seribuan. Dulu untuk membeli sekotak nasi bungkus dengan daging terik hanya lima ratus, sekarang menjadi dua hingga empat ribu.

Bagaimana bisa? Logika sederhananya ialah semakin banyak uang beredar maka semakin murah harganya.

Tahun 1998, saya masih kecil ketika itu. Maka tidak begitu tahu dampak dari krisis. Tetapi jika sekarang mencari tahu sebagian dampaknya dari sejarah sangat mudah. Salah satunya adalah ketakutan masyarakat dengan kejatuhan industri keuangan. Masyarakat beramai-ramai menarik tabungannya dari bank.

Bank yang tak memprediksi hal ini sontak kaget. Bagaimana bisa memberikan uang tersebut sedangkan uangnya sedang dipinjam dalam bentuk kredit? Belum lagi ketika usaha peminjam kredit tersebut tidak lancar akibat krisis, maka kredit macet.

Beberapa cara yang dilakukan bank kala itu adalah memberikan bonus mobil bagi nasabah yang memiliki saldo sekian digit. Ada juga yang kemudian memajang hadiah mobil tersebut di depan gedungnya, menunjukkan bahwa bonus itu bukan hanya isapan jempol semata.

Trik demikian digunakan agar bank tidak kolaps, bangkrut. Tetapi dampaknya juga kepada masyarakat. Uang yang beredar juga akan semakin banyak. Inflasi terjadi. Harga barang-barang menjadi naik. Krisis.

Entah ini kebetulan atau bukan. Krisis ini memiliki siklus dekade. Pertama di tahun 1998 kemudian 2008 juga terjadi. Meski pada tahun 2008 tidak sedemikian heboh dibanding 1998 yang beriringan juga dengan reformasi.

Apakah 2018 esok juga akan terjadi krisis? Atau akan dipercepat menjadi 2017?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram