Breaking News
Home / Opini / Tangis Anak Kecil

Tangis Anak Kecil

Beberapa tahun lalu, saya mengamati sepasang kakak beradik di pusat perbelanjaan. Berdua ditemani ayahnya melewati etalase mainan “plastik mika”. Dilihat sekilas, kemungkinan keduanya masih balita. Baik si sulung maupun adiknya si bungsu.

Meskipun hanya berjalan lalu, tapi picing mata si sulung tertambat pada kotak mainan besar robot-robotan. Kala itu sepertinya memang sedang populer robot tersebut di tayangan televisi. Sambil melambatkan jalannya, ia sedikit menarik pegangan tangannya pada ayahnya.

Yah, beliin mainan itu ya?” sambil telunjuk kirinya mengarah ke deretan kotak mainan Pasukan Turbo. Sang ayah mencoba meraih kotak mainan tersebut sambil mengamati kemasannya bolak-balik.

Hmmm. Kapan-kapan aja ya, Kak?” sambil mengembalikan kotak tadi ke etalase.

Jalan si sulung berhenti. Kakinya terpaku di tempatnya. Tepat di depan etalase kotak mainan Pasukan Turbo. Matanya mulai membasah. Ucapannya pun mulai merajuk. “Yah, kapan beliinnya, Yah?

Kapan-kapan ya, Kak?

Bola matanya makin membanjir. Tiba-tiba tak terbendung lagi tangisnya. Meledak. Pusat perbelanjaan yang semula disenandungkan musik latar yang merdu menjadi terganggu oleh suara tangis si sulung yang menggema. Sontak para pengunjung melihat drama tersebut.

Si bungsu yang tak tahu menahu apa yang terjadi kini berada di gendongan sang ayah. Melihat kakaknya menangis, tiba-tiba ia juga ikut menangis. Sudah. Ramai betul karena dua kakak beradik yang “berorkestra” di depan etalase mainan.

Bisik-bisik orang mulai terdengar sayup-sayup oleh sang ayah. Namun tidak bagi kedua kakak beradik ini. Tangisnya makin meledak-ledak. Dan hanya satu solusi yang mampu meredam tangis itu, sekotak mainan besar Pasukan Turbo.

Aksi 4 November 2016

Di saat media ramai memberitakan aksi ini, rasanya tangan ini menjadi “gatal” jika tidak turut “sumbangsih” pemikiran untuk menulis. Meskipun mata ini sudah “kenyang” dengan begitu jamaknya pemberitaan dan komentar “baku hantam”, serasa ingin berkata, “Sudahlah, saya tak ingin masuk ke perseteruan yang entah apa keuntungan yang bisa diambil.”

Tanpa disadari, orang-orang terjeblos ke dalam kotak-kotak. Membangun sekat-sekat pembatas antara dirinya dengan saudaranya. Dirinya dengan rekannya. Semakin larut dalam suasana tersebut, semakin tinggi, semakin tebal sekat tersebut. Hingga menjadi dinding yang keras.

Saya tidak ikut aksi tetapi saya juga tidak mengecam tindakan aksi tersebut. Pun tidak menggembosi semangat teman-teman yang turut aksi. Apakah saya juga termasuk golongan manusia munafik? Jika saya ikut aksi, apakah hal tersebut menjadikan saya bukan manusia munafik?

Ah, hal-hal semacam ini yang menjadikan diriku dan dirimu terhalang oleh sekat. Lantas, timbul dikotomi. Semua merasa benar. Menunjuk siapa yang di luar (kotak) merupakan orang yang salah. Benar kata sindirian awkarin, “Kalian semua suci, aku penuh dosa.”

Terlepas dari tujuan dari aksi 4 Nov, saya ingin melihat demo sebagai sebuah aksi.

Umumnya, demo digunakan sebagai masyarakat di negara demokrasi untuk menyampaikan aspirasinya. Tujuannya jelas, aspirasinya tersampaikan dan ditanggapi positif. Apakah demo merupakan langkah pertama dalam menyampaikan aspirasi? Tentu bukan. Komunikasi terbatas antara yang berkepentingan dengan yang berwenang merupakan langkah awal.

Katakanlah seorang mahasiswa menemui rektor dan mengeluhkan kebijakan kenaikan SPP yang terlalu dini. Aspirasi tersampaikan, tapi (mungkin) tanggapan kurang memuaskan.

Satu orang, dua orang, datang bergantian menemui rektor mengeluhkan hal serupa. Aspirasi tersampaikan, jelas. Tapi tanggapan kurang memuaskan. Lantas, suarapun digalangkan. Dibutuhkan sebuah “aksi” agar timbul “tekanan” yang lebih besar. Menunjukkan bahwa keluhan tersebut tidak dirasakan oleh segelintir mahasiswa.

Bersyukur jika media meliput sehingga tekanan tidak hanya datang dari mahasiwa, tapi juga masyarakat. Lantas mendengar keluhan tersebut dan berharap turut menilai apa yang terjadi dengan kebijakan tersebut.

Ketika tekanan datang dari berbagai arah, maka rektor tersebut akan “gamang” dan kembali mempertimbangkan kebijakan tersebut apakah tepat atau belum. Jika memang tepat, perlu sosialisasi mengapa kebijakan tersebut diambil. Sehingga masyarakat (pada umumnya) dan mahasiswa (pada khususnya) mengerti dan memahami alasan pengambilan kebijakan tersebut.

Aksi 4 November belum terlaksana, tapi “gerakan” kecil sudah terlihat di mana-mana. Persiapan sudah terlihat di forum-forum diskusi. Bahkan media juga turut meramaikannya. Aspirasi sebenarnya sudah tersampaikan. Sudah terdengar. Bahkan (sepertinya) sudah ditanggapi. Lantas, masih perlukah aksi tersebut? Bukankah tujuan dari demo sudah tercapai? Tersampainya aspirasi dan tanggapan.

Kalau hanya dilihat dari dua hal tersebut maka jawabannya ialah tidak perlu. Tetapi rasanya bukan itu lagi tujuannya. Harus ada sesuatu yang “ditunjukkan”. Yah. Menunjukkan sesuatu. Entah apa sesuatu apa itu. Tapi ada sesuatu yang harus ditunjukkan.

Epilog

Beberapa tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan kakak beradik tadi. Kini keduanya tak lagi balita lagi. Si sulung, saya kenal sebagai penulis tulisan ini.

*mohon maaf apabila ada yang tersinggung dari tulisan ini. Tulisan ini sengaja dibuat hanya untuk mengisi website SegoresTinta hehe.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram