Breaking News
Home / Nalar / Supply Demand

Supply Demand

Saya percaya konsep penawaran-permintaan (supply-demand). Saya juga percaya konsep tersebut akan mempengaruhi harga suatu barang. Logikanya sederhana dan mudah dicerna. Ketika permintaan suatu barang meningkat, harga barang tersebut juga akan meningkat. Ketika harga barang meningkat, penjual akan semakin menggebu-gebu untuk menjual barangnya. Apalagi kalau bukan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari meningkatnya volume penjualan.

Barang yang beredar akan semakin banyak, oversupply. Orang yang “mampu” membeli barang yang semakin mahal tersebut berkurang, tereliminasi oleh tingkat kedalaman dompet. Penjual menjadi kesulitan untuk menghabiskan persediaan barang yang sudah oversupply tersebut. Kemudian, harga kembali turun. Turun ke titik keseimbangan. Equilibrium price. Titik keseimbangan ini bisa jadi sama dengan titik semula sebelum harga naik, tetapi bisa juga berbeda, lebih tinggi atau lebih rendah.

Istilahnya keren, equilibrium price. Tetapi untuk mempelajari ilmu ini tak perlu harus belajar ekonomi di perkuliahan. Saya masih ingat ilmu ini diajarkan pula di bangku sekolah, di pesantren, oleh ustadz Dwi Jaka. Masih ingat? Kalau anda ingat, tentu masih ingat grafik supply-demand ini kan? Bentuknya seperti huruf X tetapi melengkung. Titik perpotongan kedua garis melengkung itulah yang disebut dengan titik equilibrium price.

Sekarang coba baca koran, barang apa yang harganya naik? Cabai merah? Bahan Bakar Mesin? Penerimaan Negara Bukan Pajak? Tarif Dasar Listrik? Pita cukai rokok? Buku nikah? #eh

Sekarang tanyakan kembali, apakah barang tersebut masuk dalam kategori barang yang diperdagangkan? Kalau bicara tradable-nontradable goods, sepertinya kita perlu sedikit membuka kembali buku ekonomi.

Belum lagi melihat apakah barang tersebut disediakan oleh satu atau banyak penjual (monopoli atau oligopoli), atau persaingan sempurna (perfect competition).

Dan seterusnya dan seterusnya. Yang penting ingat, konsep supply-demand.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram