Breaking News
Home / Curhat / Sulap, Film, dan Novel

Sulap, Film, dan Novel

Sebuah trik sulap menjadi “emejing” karena baru kali pertama melihat. Tapi kali kedua, ketiga, pun belasan kali melihat tetap emejing karena ada asisten cantik sebagai pemanis pertunjukan.

Sulap tak lagi menarik ketika rahasia dari trik tersebut terbongkar. Hanya itu. Tiga film yang saya ketahui tentang sulap antara lain: The Prestige, dan dua sekuel Now You See Me. Meskipun hanya rekaan dan animasi komputer semata, tetap membuat decak kagum. Apalagi jika terealisasi di dunia nyata.

Pun dalam sebuah film. Film menjadi menarik ketika kali pertama ditonton. Tapi kali kedua, ketiga, pun belasan kali melihat tetap emejing karena ada yang menemani nonton. Eh bukan itu. Menarik karena perasaan penonton dibawa terombang-ambing mengikuti alur cerita. Baper.

Walaupun sejatinya bisa jadi jenuh karena sudah tahu akhir dari ceritanya. Pahlawan menang menumpas penjahat. Lelaki berhasil meminang sang putri meski harus adu hantam antar keluarga besar. Penyakit kronis yang menang dalam sabung nyawa dengan pasien kanker. Oleh karena itu, orang yang begitu “ember” memberi spoiler ketika menonton itu sangat menjengkelkan.

Tak jauh berbeda dengan novel. Persis kasusnya dengan film. Karena tak sedikit film yang diambil dari kisah sebuah novel. Jika doyan mengamati tulisan berjalan setelah film usai, di situ pasti tertera sutradara maupun penulis naskahnya.

Terbiasa menulis membuat kerangka berpikir jadi suka menebak ke mana arah jalan cerita. Dan inilah yang membuat saya kini “sedikit” malas membaca novel. Bagaimana tidak, dengan sedikit “petunjuk” yang diberikan di awal tulisan, akhir dari novel sudah tertebak. Kalaupun akhir yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, katakanlah berakhir tragedi/sad ending, pikiran ini bisa dipacu untuk membuat “bayangan” akhir yang bahagia dan sesuai harapan.

Meskipun demikian, membuat novel saya akui bukanlah pekerjaan mudah. Karena saya tahu sendiri bagaimana harus memulai, riset untuk bahan, pengenalan karakter, penguatan tokoh, pembuatan alur, dan segala lika-likunya. Dan itu harus diapresiasi.

Kalau sekarang belum doyan membaca, cobalah dengan mengkonsumsi tulisan bergambar semacam komik.

Lantas dikembangkan ke level yang lebih lanjut dengan membaca cerpen, cerbung, kemudian novel.

Seiring membaca, kemampuan bahasa asing juga dapat diasah dengan membaca karya yang berbahasa asing. Bekali dengan kamus di sampingnya. Toh sekarang semakin mudah dengan adanya aplikasi kamus di ponsel.

Tak sedikit penulis luar negeri juga merilis versi suaranya. Audio book. Sehingga membaca dapat dengan cara mendengarkan. Bisa disambi dengan aktivitas yang lain.

Kalau membaca sudah menjadi kegemaran, maka mengenyam materi dalam bentuk tulisan tak begitu memusingkan. Membaca jurnal ilmiah akan sangat membantu bagi mahasiswa/pelajar. Pun membaca laporan akan menjadi lebih singkat karena tahu apa yang dicari dari lembaran tebal laporan lengkap.

*ah, kalau sudah menulis begini. Saya sering lupa bagaimana harus mengakhirinya.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram