Breaking News
Home / Puisi / Suka itu alih-alih memetik bunga, ia jutru menanamnya

Suka itu alih-alih memetik bunga, ia jutru menanamnya

SUKA itu alih-alih “memetik” bunga, ia justru “menanamnya”

Bisa jadi ia hanya “memandang” tumbuh berkembang. Bermekaran memenuhi pekarangan rumah.

Hanya memandang tanpa ada niat sedikitpun untuk memetiknya.

Bahkan ketika bunga itu semakin bermekaran di pekarangan rumah, ia tetap saja memandangnya. Dengan memandang sudah cukup baginya

Bahkan ketika ada orang lewat dan memetiknya. Ia hanya memandangnya. Memandang bunga yang setiap hari ia pandangi, dipetik orang lain.

Sangat mungkin ia geram pada orang yang memetiknya tersebut. Lantas meneriaki dan memakinya. “HEI, JANGAN PETIK BUNGAKU!”

Tanpa sedikitpun menghiraukan teriakan tersebut, orang lewat tadi tetap berlalu dengan bunga berada di genggamannya.

Semakin geram karena diacuhkan, ia keluar rumah. Berlari mengejar orang tersebut.

Kencang ia berlari mengejarnya dan meraih pundak orang yang lewat tadi. “HEI KEMBALIKAN BUNGAKU!”

Orang yang lewat tadi berhenti. Menoleh padanya. Dan ia terkesiap. Ia melihat bayangan dirinya sendiri.

Rumah, 22 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Lisan

Lisan ku tertutup rapat Diam membisu dalam doa Dalam ketenangan cintaku pada kuasa Kutitipkan hati …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram