Breaking News
Home / Kajian / “SIAPA BILANG BUMI BULAT?! SESAT ITU!!”

“SIAPA BILANG BUMI BULAT?! SESAT ITU!!”

“SIAPA BILANG BUMI BULAT?! SESAT ITU!!”

Pernyataan ini mengingatkanku tentang kisah di masa Middle Age. Terjadi pertentangan antara agama dengan ilmu sains. Ketika kuasa gereja begitu mendominasi di masyarakat. Setiap ada yang berani “bersuara” di luar itu, berarti ia menentang gereja. Menentang perkataan Tuhan.

Muncullah seorang pemuda. Ia berusaha menentang suara gereja masa itu. Tapi ia tersandung dengan finansial. Ia butuh sejumlah dana untuk pembuktiannya. Pintu demi pintu ia ketuk. Relasinya ia hubungi semua. Begitu berambisinya ia untuk “menentang” dominasi gereja. Hingga akhirnya sejumlah dana terkumpul dan dibelilah sebuah kapal dengannya.

Sisa ceritanya kita sudah tahu bersama. Kini, informasi viral yang kita temui “melempar” kita kembali ke jaman itu. Di mana kita “dipaksa” masuk ke dalam kotak-kotak terpisah. Antara agama dan ilmu sains “diadu-domba”. Padahal keduanya berjalan beriringan. Saling menguatkan satu sama lain.

Satu ayat AlQuran yang dijadikan dasarnya adalah QS Qaaf: 7

“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

Masya Allah. Begitu cerdasnya otak manusia ini. Kata “hamparkan” ini diartikan sebagai bahwa Bumi adalah datar.

Coba kita bayangkan berada di masa Rasul ketika ayat ini turun. Siapa yang akan mengira bahwa Bumi bulat? Belum ada orang yang melakukan perjalanan keliling dunia. Belum ada orang yang menjejakkan kaki di Bulan. Bahkan ketika Rasul melakukan perjalanan ruang dan waktu “Isra’ Mi’raj”, menembus langit ketujuh pun tidak melihat bulatnya Bumi. Maka, masa bodo dengan Bumi datar atau bulat. 

Mari kita sedikit mengintip salah satu kitab tafsir dari Ibnu Katsir mengenai ayat satu ini. Apa maksud dari “dihamparkannya bumi”? Di dalamnya dijelaskan secara singkat bahwa maksud darinya adalah Allah “meluaskan” dan “melapangkan”.

Ibnu Katsir bukanlah sembarang manusia yang “berani” menafsirkan “Kata Tuhan” seenak “udelnya”. Tafsir Ibnu Katsir ini menjadi rujukan dunia dalam menerangkan isi AlQuran.

Coba kita cari ayat serupa yang menyebutkan bumi sebagai hamparan tapi berada di surat lebih awal. Kita temukan QS AlBaqarah: 22.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Dijelaskan pula di kitab tafsir yang sama namun lebih panjang tentang apa yang dimaksud dengan hamparan ini. Ialah hamparan layaknya “kasur”. Seandainya Bumi ini tidak dilapangkan, permukaannya hanya terdapat batu-batuan tajam seperti stalagmit, bagaimana kita bisa tidur nyenyak di atasnya?

Lantas, masuk akalkah jika Bumi dihamparkan diartikan sebagai Bumi yang datar? Sedangkan ada orang yang di luar Bumi sana sedang memandang Bumi yang kita tinggali.

Lumajang, 2 Juli 2016

Simak tulisan berikutnya di Risk is Our Business

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram