Breaking News
Home / Opini / Semua Hanya Permainan

Semua Hanya Permainan

Tahun 2003, masa ketika imajinasi anak dipenuhi dengan ikan badut merah bergaris putih (atau putih bergaris merah?). Tak satu dua orang tua harus mengabulkan rengekan manja anak untuk menambah perabotan di rumah. Akuarium lengkap dengan ikan badut imut.

Penjualan ikan hias meningkat. Terutama ikan badut. Pedagang ikan diserbu orang tua. Kakinya terseret-seret sementara tangannya ditarik buah hatinya yang matanya berbinar melihat sekumpulan ikan badut berenang. Tanpa menyadari, mata sang ayah berair, enggan membayangkan seberapa dalam isi kantong bisa dikuras.

Sepertinya mereka lupa. Bahwa ikan badut itu cerdik. Siap (pura-pura) mati untuk keluar ke alam bebas. Persis seperti yang dikisahkan dalam film. Sesungguhnya, mereka membeli sesuatu yang “fana”.

Di balik layar yang jarang diketahui publik, hati para aktivis Lingkungan Hidup teriris perih. Perburuan ikan badut meraja lela. Entah berapa “apartemen” penduduk laut hancur. Bahkan satu ras  “Amphiprioninae” diculik. Dibawa menjauh dari kampung halamannya. Persis seperti yang dikisahkan dalam film. Sesungguhnya, mereka “terperosok” dalam lubang yang sama.

Lebih dari satu dekade berselang. Mencuat isu akan dibuat film sekuel dari ikan badut tersebut. Pedagang yang cerdik, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenuhi persediaan ikan badut. Kini, satu ras “Paracanthurus hepatus” kembali diculik, menemani satu ras yang sudah diculik satu dekade sebelumnya.

Pedagang yang cerdas akan mengembakbiakkan dua ras tersebut sebelum film dirilis. Alih-alih “memberangus”, ia memperbesar “potongan kue” yang ada. Kantong-kantong dibuka lebar-lebar, siap menampung pundi-pundi emas seketika film mencuat.

Itulah pedagang, harus jeli melihat kesempatan di mana kantong emas bocor dari langit. Berbeda halnya dengan sebagian besar penduduk belahan bumi sini ketika demam melempar bola monster mewabah. Alih-alih memanfaatkan momentum tersebut untuk mendulang emas, malah asyik mempermasalahkan arti dari banyak nama.

Lupa bahwa itu hanya permainan yang seharusnya sebagai obyek. Bukan kita yang “dimainkan”. Ah, saya juga lupa. Saya juga termasuk salah satu dari pemainnya. Hanya saya memilih untuk tidak ingin “dipermainkan”.

Sudah berapa telur yang kau tetaskan hari ini? 😀

Rumah, 22 Juli 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram