Breaking News
Home / Opini / Sekolah Paling Aman

Sekolah Paling Aman

Fase sekolah merupakan fase “teraman”. Mengapa demikian? Karena pada fase ini, risikonya terbatas dan terukur.

Keseharian hanya duduk manis di bangku, mendengarkan guru menyampaikan materi. Kalau rajin ya dicatat. Tidak dicatat pun, no problemo. Toh gurumu tidak mewajibkan untuk mencatat setiap aksara yang keluar dari lisannya, bukan?

Fase ini akan berfluktuasi ketika guru memberikan tugas/ pekerjaan rumah. Sederhana, tinggal dikerjakan seketika sampai di rumah. Beres. Kalaupun tugas berkelompok, tentu bebannya lebih besar, risikonya lebih besar. Tetapi karena dikerjakan berkelompok, maka risikonya terbagi rata.

Risiko terbesarnya adalah ketika ujian. Masih terbatas. Masih terukur. Periodik lagi. Katakanlah setiap enam bulan dilaksanakan dua kali. Itupun pembobotan risikonya juga rata. Terima kasih kepada sistem penilaian kurikulum terbaru.

Mau di sekolah negeri atau swasta. Mau di sekolah favorit atau biasa. Sama saja. Risikonya masih terbatas dan terukur. Maka fase sekolah ini merupakan fase paling “aman”.

Banyak orang mengatakan bahwa sekolah merupakan investasi masa depan. Betul. Ketika berbicara investasi, maka melekat padanya risiko. Tetapi adanya risiko ini juga pasti mengharapkan imbal balik (reward) di masa depan. Semakin besar risikonya, maka semakin besar pula reward yang diharapkan.

Risiko terbesar dari fase sekolah sebagaimana yang disampaikan di atas tadi adalah ujian. Rewardnya adalah nilai akademik. Dengan nilai tersebut dapat digunakan untuk naik kelas atau mendaftar di sekolah di tingkat lanjut.

Melihat fase sekolah merupakan fase yang paling aman ini, itulah mengapa banyak alumni yang sudah melewati jenjang ini akan “rindu” dengan kehidupan sekolah.

Tak jarang yang kemudian mengabdikan diri untuk kembali ke fase ini. Tapi bukan lagi menjadi siswa, tapi untuk menjadi guru. Dan tentunya risikonya lebih besar dari sekedar menjadi siswa. Tapi mari kita lewatkan bagian ini.

Ketika berada di fase sekolah ini, jika menginginkan reward yang lebih besar dari naik kelas atau nilai akademik, maka harus berani mengambil risiko yang lebih besar. Apakah itu?

Berkompetisi. Olimpiade. Organisasi. Banyak hal yang bisa dilakukan yang memiliki risiko yang lebih besar tentu akan memberikan reward yang lebih besar.

Ah, tapi anak jaman sekarang tak perlu diberitahu tentang ini sudah banyak yang mengambil risiko ini. Tetapi apakah reward yang diharapkannya sudah sesuai? Apakah dengan berani mengambil risiko yang lebih besar ini, maka risiko utamanya sudah teratasi?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram