Breaking News
Home / Opini / Sang Tengkulak Minyak

Sang Tengkulak Minyak

Bukan lautan, hanya kolam susu

Kail dan jalan cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampirimu

 

Lirik lagu ini sedikit banyak merupakan sebuah “sindiran” halus bagi masyarakat Indonesia. Betapa kita “dimanjakan” dengan melimpahnya kekayaan sumber daya alam dan keragaman budaya. Begitu juga dengan Arab Saudi, sang “tengkulak” minyak.

Arab Saudi memproduksi minyak mentah sebanyak 10,46 juta barel per hari di tahun 2016 dengan cadangan minyak sebesar 266,46 miliar barel. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memproduksi 0,89 juta barel per hari dengan cadangan minyak hanya 3,23 miliar barel. Dengan perhitungan kasar, maka cadangan minyak Arab Saudi masih bertahan selama 70 tahun sedangkan Indonesia hanya selama 10 tahun.

Pada sisi permintaan, Arab Saudi membutuhkan 80 ribu barel per hari. Maka, wajar jika ekses produksinya diekspor ke negara lain. Dan hasil ekspor tersebut merupakan pendapatan bagi negara, sang tengkulak minyak. Dengan harga minyak mentah di tahun 2016 rata-rata sebesar USD 40,76 per barel, maka anda bisa perkirakan berapa pendapatan sang tengkulak minyak. Itupun harganya sudah setengah daripada di tahun 2012 yang mencapai USD 109,45 per barel.

Pernah melihat pendapatan per kapita sang tengkulak minyak? Pendapatannya sekitar USD 23,55 ribu di tahun 2015. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya USD 3,44 ribu. Yah, selain populasi Indonesia yang 8 kali lipat dari Arab Saudi, Indonesia tidak bisa bergantung hanya pada hasil tambang terutama minyak yang jelas kalah jauh dengan sang tengkulak minyak.

Besarnya pendapatan sang tengkulak minyak ternyata justru bisa menjadi “bumerang”. Jika berlarut, maka sang tengkulak minyak akan termanjakan dan tidak kompetitif dalam jangka panjang. Ketika “warisan” itu habis, apalagi yang bisa ia jual? Beberapa strategi pun dilakukan, salah satunya ialah rencana privatisasi minyak. Strategi lain yaitu dengan memangkas produksi minyak mentahnya.

Jika sisi permintaan tetap tetapi penawaran turun, maka harga akan naik. Persis seperti grafik supply-demand dengan titik equilibrium price sebagai titik potongnya. Setelah OPEC merencanakan untuk memangkas produksinya, harga minyak naik menjadi USD 52,89 per barel. Naik hampir 30% dibanding tahun 2016.

Sang tengkulak minyak “harus” sadar bahwa warisan akan habis, maka ia perlu melakukan diversifikasi bisnisnya. Pariwisata bisa jadi alternatif. Entah berapa pendapatan yang didapat sang tengkulak minyak dari pariwisata “religi”, haji dan umroh setiap tahunnya. Jual sebagian “kepemilikan” minyaknya (privatisasi), “suntik” bisnis lain seperti: agrikultur, konstruksi, manufaktur, transportasi, dan utilitas.

*Sumber data statistik disarikan dari: OPEC Monthly Oil Market Report 13 Feb 2017, World Bank Data negara Arab Saudi dan Indonesia, serta Transcript of the Press Conference on Key Economic Developments in Saudi Arabia oleh IMF

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram