Breaking News
Home / Opini / Roti yang Diinjak

Roti yang Diinjak

Pasar secara umum didefinisikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli. Tapi dalam marketing, pasar didefinisikan sebagai calon pembeli. Di mana ada seseorang yang ingin (calon) pembeli, di situlah pasar.

“Customer is the king,” begitulah jargonnya. Karena dari pembelilah, pemasukan suatu bisnis didapatkan. Apa yang lu mau, gue sediain. Begitu pembeli “menghindar”, itu merupakan warning signal.

Saya mencoba mendeteksi efek seruan boikot (minggu kedua Desember 2016) terhadap performa penjualan.

Di penghujung tahun 2016, Sari Roti mencetak total sales sebesar Rp 2,52 triliun, meningkat dari Rp 1,84 triliun pada kuartal ketiga. Asumsi boikot selama 3 minggu terakhir (minggu II – IV Des) kurang “terasa” pada penjualan. Bahkan, laba bersih perusahaan ini tumbuh 16% YoY, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri roti yang hanya 8,5%.

Seruan boikot ternyata tidak terdeteksi dari komparasi total sales selama kuartal ketiga dan keempat. Selanjutnya saya coba membandingkan pertumbuhan antar kuartal. Dengan asumsi bahwa total sales selalu bertumbuh setiap kuartal, maka dengan adanya boikot “seharusnya” cukup mengambat pertumbuhan total sales.

Dengan menghitung pertumbuhan antar kuartal dari tahun 2014 hingga 2016, didapatkan grafik batang seperti yang tertera di atas. Pertumbuhan dari kuartal ketiga ke keempat sebesar 37%, sedikit turun dibanding pada tahun 2014 dan 2016 yang masing-masing mencetak pertumbuhan 38% dan 39%. Penurunan ini bisa jadi sinyal dari efek boikot.

Tetapi jika dilihat dari pertumbuhan antar kuartal yang lain memang variatif, sebagai contoh pertumbuhan dari kuartal pertama ke kuartal kedua sebesar 95% – 100%. Sedangkan pertumbuhan dari kuartal kedua ke kuartal ketiga sebesar 49% – 54%. Ada pola “cantik” yang terlihat di sini.

Sedikit melenceng, saya malah penasaran pada pertumbuhan dari kuartal pertama ke kuartal kedua yang rata-rata hampir 100% dengan kata lain dua kali lipat. Berarti permintaan roti ini pada bulan April – Juni dua kali lebih banyak daripada bulan Januari – Maret.

April – Juni merupakan masa kelulusan siswa. Dan masa ini sering dimanfaatkan untuk liburan. Ketika travelling, maka rest area yang mudah ditemukan yaitu di AlfaMart dan IndoMaret. Snack yang cukup mengenyangkan ya mengkonsumsi roti.

FYI, agen/distributor Sari Roti terbesar ialah kedua ritel tadi dengan presentase IndoMaret sebesar 38,68% dan AlfaMart sebesar 25,82% dari total distributor. 35,5% sisanya diecer ke selain ritel tadi.

Dengan pendapatan terbesar berdasarkan 60,2% dari roti tawar dan 37,6% dari roti manis.

Agen/distributor yang mendistribusikan diwajibkan untuk menyetor uang jaminan yang di akhir perjanjian (31 Desember 2016) akan dikembalikan yakni sebesar Rp 23,8 miliar.

Secara fundamental, perusahaan look fine to me. Kalaupun ada dampaknya, tidak terlihat signifikan. Pun kalau memang ada, perusahaan pasti punya cara untuk tetap menjaga kepercayaan shareholder. Entah itu market development, market penetration, product development, atau focus. Entah itu differentiation atau low cost strategy. 

Umumnya, investor sensitif dengan adanya berita negatif. Hal ini tercermin dengan pergerakan saham yang cenderung turun. Tapi entah mengapa, sepertinya aksi boikot tidak memberikan dampak signifikan pada pergerakan saham Sari Roti. Kita bisa mengecek sendiri dengan mencari di mesin pencarian dengan kata kunci “ROTI IDX” atau “ROTI.JK” jika di Yahoo Finance.

Pada tanggal 6 Desember 2016, harga saham berada di level Rp 1.520. Meski sempat diberitakan saham melemah tipis, hingga minggu kedua Januari harganya justru naik hingga Rp 1.750.

Sampai sini, saya jadi berpikir. Apa benar boikot merupakan cara efektif untuk “membangkrutkan” suatu perusahaan? Perusahaan di industri konsumer pula. Industri yang cukup tahan banting meski terjadi krisis ekonomi.

Anda mungkin masih ingat seruan boikot produk-produk Yahudi karena mendukung Israel seperti McD, KFC, Unilever, Danone, Coca Cola, dan lain-lain. Atau anda mungkin masih ingat boikot Starbuck akibat dukungannya terhadap pernikahan sesama jenis. Atau yang terbaru, anda masih ingat larangan tayangan Beauty & The Beast Emma Watson yang menunjukkan adegan gay. What happens next? Hanya Malaysia yang berani “mengharamkan” penayangannya di bioskop. Indonesia?! Negaramu kan?!

Kalau anda masih punya paketan data, coba mampir di tulisan saya malam hari setelah viralnya roti gratis saat aksi 212. Sebelum ada klarifikasi dari Sari Roti. Pedagang Roti Gratis (https://segorestinta.org/darmaone/pedagang-roti-gratis/).

*data statistik didapat dari Laporan Keuangan PT Nippon

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram