Breaking News
Home / Kajian / Roda Kehidupan

Roda Kehidupan

Ada istilah “Roda Kehidupan”. Kehidupan bak sebuah roda yang terus berputar. Satu titik berada di atas kemudian berputar dan berada di bawah. Tak menutup kemungkinan akan kembali ke atas. Dan begitulah roda, berputar dan harus berputar agar kendaraan di atasnya dapat berjalan.

Jika manusia berada di titik yang bergerak ke atas, ia akan bahagia. Semakin tinggi titik tersebut, semakin bahagialah ia dibuatnya. Sampai berada di titik tertinggi, membuncahlah kebahagiaannya. Berharap keadaan tetap demikian selamanya.

Tak salah. Wajar. Dan begitulah semestinya manusia. Berharap hidup selalu bahagia. Berada di titik puncak pada roda kehidupan. Tetapi, mungkinkah?

Mungkin. Jika roda itu “berhenti”. Dan tak bergerak lagi. Yang berarti?

Tetapi, roda kehidupan harus tetap bergerak. Harus tetap berputar. Titik puncak tak lagi di puncak. Ia mulai bergerak turun. Semakin rendah. Semakin rendah.

Lantas manusia berujar, “Kehidupanku sedang diuji. Aku hanya butuh kesabaran. Karena kondisi demikian pasti akan berlalu.”

Ternyata, titik tersebut semakin turun semakin rendah lantas manusia mulai mengeluh, “Ya Rabb, sampai sejauh mana Kau akan mengujiku?” Hingga akhirnya titik berada di paling bawah dan manusia mulai ragu dengan “kesabarannya”.

Pilihannya kemudian bercabang menjadi dua: (masih) sabar atau (makin) ragu. Dan sampai di sinilah lidah semakin “basah” menyebut nama-Nya. Seharusnya demikian.

Apapun pilihan yang diambil, roda kehidupan tetap berputar. Titik tersebut juga tidak selamanya berada di bawah. Seiring berjalannya waktu, titik tersebut semakin naik. Semakin tinggi. Kehidupan semakin membaik.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, masihkah manusia ingat dengan Rabb-Nya? Masihkah lidahnya “basah” dengan memuji nama-Nya?

Ada satu ayat menarik di kitab suci. Bunyinya demikian.

وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat),seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk(menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Yunus: 12)

Rabbmu tidak hanya berada di bawah ketika kamu menunduk. Ia juga ada di atas ketika kamu menengadah.

Rumah, 25 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram