Breaking News
Home / Kajian / Risk is Our Business

Risk is Our Business

“Risk is our business”

Merupakan kutipan dari Kapten Kirk dalam film sekuel Star Trek. Film bergenre Sci-Fi yang rilis sejak 1966 ini penuh dengan teknologi yang belum ada di jamannya. Namanya juga fiksi, maka wajar jika penulis maupun sutradaranya berandai-berandai. Mereka memasukkan imajinasinya tentang masa depan ke dalam ceritanya.

Setengah abad berselang, ketika saya menyimak sekilas cuplikan film ini. What?! Film apa ini?! Animasinya terlalu kasar. Efeknya juga terlalu mencolok. Dan berbagai cercaan lain. Tapi kalau ini ditayangkan pada tahun 1966 di mana orang pertama kali menjejakkan kaki di Bulan saja baru tiga tahun setelahnya (Apollo 11, 1969), maka ini film KEREN.

Belum lagi teknologi-teknologi yang digunakan di dalamnya. Tablet, Text-To-Speech, dan Wireless Earphone, boro-boro sudah ada saat itu, komputer saja mungkin belum bisa membayangkan seperti apa. Mengingat saya yang kelahiran 90an saja masih merasakan penggunaan sistem operasi DOS dan Lotus. Bagaimana generasi 60an saat itu? Pasti gumun dengan teknologi yang digunakan.

Manusia Sang Evolusioner

Tak salah jika manusia diberi amanah sebagai khalifah di Bumi dibandingkan makhluk yang lain. Terlepas dari keraguan para malaikat pada manusia sebagai “penumpah darah”. Kemajuan adaptasi manusia sangat pesat.

Katakanlah jika teori evolusi itu benar. Jika manusia modern sekarang yang dikenal juga sebagai HomoSapiens merupakan spesies yang berevolusi dari manusia kera, maka “how amazing we are?!”.

Di saat banyak spesies musnah karena tak mampu mengimbangi perubahan Bumi dan lingkungan, manusia justru sebaliknya. Ia tak takluk dengan alam, tapi ia yang menaklukkan alam.

Mari kita mengingat sejenak pelajaran sejarah di bagku sekolah. Manusia mengawali hidupnya dari hidup secara nomaden. Persis seperti kebanyakan hewan maupun unggas. Ia pergi ke tempat di mana makanan bisa dimangsa karena berburu adalah cara utama untuk bertahan hidup.

Semenjak mengenal teknologi cocok tanam, manusia tak lagi hidup nomaden. Inilah salah satu bukti manusia menaklukkan alam. Dan masih banyak bukti lain antara lain “rumah” untuk menaklukkan hawa dingin sampai ditemukannya api.

Manusia Modern

Entah mengapa konsep evolusi manusia kera ini susah untuk saya terima. Siapa sih yang mau disamakan dengan kera?! Belum lagi pertentangan mengenai apakah Nabi Adam, manusia pertama juga seperti manusia kera?!

Maka mari kita kerucutkan evolusi manusia ini dari tahun 60an hingga 90an. Evolusi dari generasi X, generasi yang mengubah dunia hingga generasi Y. Lebih dipersempit lagi pada kemajuan teknologinya.

Telepati, mendengarnya saja serasa mustahil. Seakan itu hanya ada dalam karangan fiksi atau “orang sakti” yang “memperkerjakan” makhluk gaib. Tapi sekarang, setiap orang bisa menjadi “orang sakti” tersebut. Memperkerjakan makhluk gaib yang dikenal dengan nama “gelombang radio”.

Ilmu melipat Bumi. Dari namanya saja sudah terasa magis. Bagaimana mungkin orang dapat melakukan perjalanan dalam waktu cepat kecuali orang sakti yang dapat melompat terbang layaknya wiro sableng. Tapi sekarang, setiap orang bisa menyeberangi pulau besar dalam hitungan jam. Pesawat merupakan alat pelipat Bumi.

Dahulu Buta, Sekarang Melihat

Ada kisah di jaman Nabi Sulaiman. Dua orang ibu memperebutkan seorang bayi. Di bawalah ke hadapan Nabi Sulaiman sebagai pemberi keputusan. Masing-masing tak ingin kalah. Hingga akhirnya diputuskan.

“Belah anak itu jadi dua. Maka mereka mendapat bagian yang adil.” Keputusan mengagetkan yang menjadikan sikap kedua ibu tadi berbeda. Yang satu merelakan untuk dibelah sedangkan yang lain mengalah asal jangan dibelah. Sampai sini, kita tahu siapa ibu dari anak yang diperebutkan.

Jika pengujian DNA sudah ditemukan di jaman itu, maka anak itu tak perlu dibelah menjadi dua. Cukup “dibelah” seujung rambutnya untuk diketahui DNAnya maka diketahuilah siapa ibunya.

Kemajuan teknologi membantu orang yang “buta” menjadi dapat “melihat”. Dulu orang berasumsi semua benda langit berpusat pada Bumi. Teori Geosentris “menggambarkan” manusia sebagai makhluk egois nun narsis. Hegemoni religius menambah pekat “hijab” di mata manusia. Cap “sesat” dikenakan di dahi orang-orang yang berusaha menentang “Kata Tuhan”. Inilah masa sebelum Renaissance. 

Perhitungan matematis didukung dengan lensa optik bernama teropong, menggugurkan keegoisan manusia. Meruntuhkan Teori Geosentris dan muncullah Teori Heliosentris yang diakui hingga sekarang.

Dulu Bumi dianggap seperti bidang datar (bahkan hingga sekarang bagi sebagian komunitas). Tapi kini sejak para matematikawan, fisikawan, maupun astronom mengamati pergerakan bintang, menelurkan rumus, hingga melakukan perjalanan ke luar angkasa, diketahuilah bahwa BUMI TIDAK DATAR.

“ Dan bumi sesudah itu dijadikan oleh-Nya berbentuk bulat telur.” (QS. AnNaazi’aat: 30).

Sekali lagi, ilmu eksakta mendukung wahyu Ilahi. Bukan sebaliknya, meruntuhkan apalagi membantah “Kata Tuhan”. Yang diruntuhkan oleh ilmu eksakta adalah hegemoni pemikiran manusia. Pemikiran yang terbatas, tak ingin membuka diri, mengenal berbagai “tanda” yang tak tertulis.

Dan kita tahu bersama, kapan ayat itu “mencuat” ke permukaan? Empat belas abad yang lalu. Di mana belum ada bayangan bahwa manusia bisa terbang untuk melihat Bumi dari jarak jauh.

Kalau bulan bisa ngomong (oh yeah?)
Ada cinta yang terlalu
Ada rindu yang terlalu
Semua serba terlalu
padamu, ya padamu

Aku kehabisan kata
dan hampir tak dapat bicara
Dalam hati hanya ada rasa
yang tak dapat kuwakilkan
pada sajak lagu atau bunga

Demi kamu aku pamit
Sebentar aku ke langit
Akan kugendong rembulan
Kukantongi bintang-bintang
Segera kubawa pulang
(untukmu,) ya untukmu

Kalau bulan bisa ngomong (oh yeah?)
Sayang bulan tak bisa ngomong
Coba kalau bisa ngomong
Dia pasti tak akan bohongtentang cinta, cinta kita

Rumah, 4 Juli 2016

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Siapa Bilang Bumi Bulat?! Sesat Itu!

Simak tulisan berikutnya di Bumi Sebagai Hamparan

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram