Breaking News
Home / Nalar / Resiprokasi

Resiprokasi

Sejatinya, manusia merupakan makhluk sosial. Meskipun hidup soliter, tentunya di satu masa ia butuh orang lain. Entah itu ketika mengangkat meja, sampai maju ke pilihan gubernur.

Dan dalam berinteraksi ke sesama, ada istilah simbiosis dalam ilmu biologi. Ada simbiosis mutualisme di mana masing-masing pihak saling diuntungkan. Tapi juga ada simbiosis parasitisme, satu untung sedangkan yang lain merugi. Serta simbiosis komensalisme, hanya satu yang diuntungkan sedang yang lain tidak rugi maupun tidak untung.

Berbuat baik tentu akan menguntungkan minimal salah satu pihak, yakni obyek berbuat baik. Katakanlah saya mendidik seorang anak, maka yang diuntungkan adalah anak tersebut sedangkan saya, bisa jadi untung, rugi, atau biasa-biasa saja.

Sebagai perumpamaan, ambil saja posisi rugi. Saya rugi dengan mendidik, katakanlah pelajaran berbisnis. Karena dengan demikian, bisa jadi ada potensi pesaing yang muncul dengan mendidik orang lain. Umpamanya demikian.

Perbuatan tersebut dilakukan terus menerus. Minggu demi minggu. Pertemuan demi pertemuan. Sampai berada pada titik di mana anak didikan tadi mampu “dilepas” untuk “head to head” dengan saya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah bisnis yang saya ajarkan akan menurun? Menurun dalam artian, laba yang menurun dengan munculnya potensi persaingan. Jika dinalar, demikian adanya. Apalagi jika berada di pasar yang “sama”.

Tetapi ternyata bisa jadi berkebalikan. Ingat paragraf pertama di atas? Sejatinya manusia makhluk sosial. Ada sebuah istilah “resiprokasi” atau diartikan secara bahasa menjadi “timbal balik”. Perbuatan baik yang dilakukan berulang-ulang, bahkan dengan kondisi merugi, suatu saat perbuatan baik tersebut akan kembali. Entah dari yang bersangkutan, atau dari asal yang tidak diduga-duga.

Ada sebuah istilah yang sering saya dengar di pesantren dulu. “min haitsu la yahtasib”. Senada dengan tadi yang bermakna “(rejeki) datang dari arah yang tak disangka.”

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Jika kita tahu dan yakin dengan konsep ini, sejatinya kita tak perlu khawatir dengan “kerugian semu”.

Sayang, realita tak semudah teori. Sebuah gurauan berbunyi, “urip iku ora segampang lambéné Mario Teguh.”

Sekarang saya tanya, (tentunya kembali ke saya) “Sanggupkah anda berbuat baik terus menerus?” *ups perlu saya tambahkan, “Walaupun dalam kondisi merugi?”

Solo, 5 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram