Breaking News
Home / Kajian / Puasa Arofah yang Semakin “Ramai”

Puasa Arofah yang Semakin “Ramai”

Seingat saya, puasa arofah tahun lalu ndak “seramai” tahun ini. Penyambutan kedatangannya maksudnya.

Hampir serentak di media sosial menyebarkan broadcast yang menghimbau untuk puasa Arofah. Dan kebanyakan berupa pesan bergambar. Lebih kreatif memang daripada sekedar tulisan. Apalagi disertai gambar yang menarik dan proporsional sehingga mudah diingat dan eye catching. Halah ngomong apa 😛

Bagus sih. Karena dengan demikian banyak orang yang mengamalkan “ballighu ‘anni walaw aayat” – sampaikan dariku walaupun satu ayat. Apalagi harapannya jika bukan amal jariyah dari pengamalan sunnah.

Dan sepertinya ini lebih “heboh” setelah saya berada di luar pesantren. Tahun lalu ketika masih di pesantren rasanya biasa-biasa saja. Sebagai salah satu penduduk dunia maya pun, ndak seramai tahun ini. Lantas, apa masalahnya?

Perubahan masyarakat yang lebih baik? Lebih madani? Ah apalagi itu madani. Istilah yang sering saya dengar ketika belajar sosiologi atau semacamnya. Masyarakat yang gemar saling mengingatkan?

Atau ini merupakan tanda dari kultur masyarakat yang mudah “like” dan “share”? Syukur jika yang di”like” dan di”share” merupakan kebaikan, ilmu, atau fakta. Bermanfaat bagi yang membacanya. Tapi bagaimana jika HOAX yang dibagikan?

Ah, kenapa saya menjadi su’udhon? Seharusnya saya bersyukur dengan demikian meskipun sudah berada di luar lingkungan pesantren, tapi masih banyak “pengingat” yang mengingatkan dengan pesan-pesan berantai tersebut.

Tapi bagaimana jika lambat laun, batas antara ilmu/fakta semakin bias dengan hoax? Bagaimana jika isu palsu tersamar, tercampur dengan ilmu/fakta? Dengan semakin mudahnya klik “like” dan “share”. Sampai-sampai susah membedakan, is it truth?

Dan mungkin, “tembok” tersebut tidak lama lagi “runtuh”. Atau jangan-jangan “sudah”?

Mana yang “haq”, mana yang “bathil”. Mana yang “hitam”, mana yang “putih”.

Semua samar.
Semua terlihat benar.
Semua terlihat salah.

Lantas, lambat laun semakin tak acuh.
Apatis. Tak peduli.

Mungkin di awal akan percaya. Tapi seiring dengan samarnya “berita”, kepercayaan itu akan luntur. Dan di akhir, kepercayaan (pada suatu berita) hanya berdasarkan kesukaan. Mana yang disuka, itu yang dipercaya. Bukan lagi obyektivitas, tapi subyektivitas.

Ketika sudah demikian. Orang waras akan dikatakan gila. Orang gila akan dikatakan waras.

Pilihannya hanya dua. Menjadi “waras” atau “gila”. Waras yang mana. Gila yang mana.

Sebagai penutup. Karena dakwah itu mudah. Cukup copy-paste. Maka penutup tulisan ini adalah sebagai berikut

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram