Breaking News
Home / Curhat / Praktek Tekanan Hidrostatis di Tandon Air

Praktek Tekanan Hidrostatis di Tandon Air

Ada dua tandon air di rumah. Satu di atas, satunya lagi sedikit di atasnya. Keduanya dihubungkan seri sehingga air sumur yang dipompakan akan masuk ke tandon atas lalu mengalir ke tandon di bawahnya. Tapi keluarnya paralel, bisa diambil dari tandon atas atau yang bawah.

Antara kedua tandon tersebut dihubungkan menggunakan pipa paralon yang memiliki dua pipa L dan keran sebagai saklar ON/OFF. Keduanya juga dipasang sensor pembaca ketinggian air. Jika ketinggian air di tandon atas kurang, sensor akan menyalakan pompa untuk mengisinya. Jika ketinggian air di tandon bawah kurang, sensor akan membuka klep untuk mengalirkan air dari tandon atas.

Semua sudah otomatis berkat sensor tersebut. Sekarang beralih ke air pengisi tandon tersebut. Air sumur di kota Solo bisa terbilang bersih. Tidak berkarat atau berpasir. Musuhnya tinggal satu. LUMUT. Spesies lumut ini LUAR BIASA. Bukankah ia sudah ada sejak jaman purbakala? Asalkan ada kelembaban apalagi kaya air, sedikit benih dari spesies ini bisa membuatnya berkembang biak. (Dalam hal ini perlu dikaji lebih dalam, benar atau tidak hehe).

Keberadaan lumut ini akan sangat mengganggu terlebih jika ia membangun pemukiman di sambungan antara dua tandon tadi. Keberadaannya otomatis akan menyumbat aliran air dari tandon atas ke tandon bawah. Walaupun bisa paralel, tapi tandon bawah menjadi tidak bermanfaat.

Solusinya ketika sudah tersumbat adalah “menggusur” lumut ini dari pipa sambungan. Melepas sambungan merupakan tindakan yang paling efektif. Tapi efisienkah? Saya coba memikirkan cara adakah cara lain selain melepas sambungan.

Tandon atas tidak terisi penuh. Hanya separuh. Bisakah saya memanfaatkan TEKANAN untuk mendorong paksa lumut dari sambungan? Dan itulah cara yang saya pikir lebih efisien daripada melepas sambungan. Mengisi penuh tandon atas agar tekanan di bagian bawah lebih besar sehingga lumut di sambungan akan terdorong. Ingat rumus tekanan hidrostatis! (rho x g x h). Hanya variabel “h” yang saya bisa ubah.

Saya tunggu saja tandon atas terisi penuh, nanti lumutnya akan terdorong dengan sendirinya. Begitu tandon atas sudah penuh, lha kok tidak ada pergerakan. Sebegitu kokohkah lumut bercokol di sambungan sehingga tekanan yang merupakan total perkalian dari tiga variabel (rho, g, dan h) masih kurang kuat? Ah, ternyata realita fisika tidak semudah teori di atas buku.

Walhasil, sambungan tandon saya lepas. Ketuk-ketuk sedikit lubang sambungannya. Walaupun saya pikir cara tersebut kurang efisien sebelumnya tapi paling efektif daripada harus berlama-lama di atas genteng 😅

Begitulah kehidupan. Banyak cara menyelesaikan masalah seefektif mungkin, tapi belum tentu cara tersebut efisien. Analogi lain. Membunuh nyamuk bisa dengan BOM ATOM. Efektif, tapi efisienkah?

Rumah, 6 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram