Breaking News
Home / Opini / Polemik Sekolah Full Day

Polemik Sekolah Full Day

Berbicara mengenai sekolah full-day ini menarik. Banyak pro dan kontra yang mengikuti (isu) kebijakan menteri pendidikan baru ini. Kalau anda tanya bagaimana pendapatku, mungkin tulisan ini bisa sedikit bagaimana caraku beropini.

Satu pertanyaan yang pertama kali muncul dalam pikiranku adalah “siapa”, siapa yang mengeluarkan “kebijakan” ini? Menteri baru. Yah, sepertinya manusiawi bagi penguasa baru untuk menunjukkan bahwa dirinya “berbeda” dengan yang sebelumnya. Menunjukkan bahwa ia memang memiliki “inovasi” untuk yang lebih baik. Dan wajar juga ketika kampanye dialogis kepemimpinan apapun pasti ditanya, apa yang ingin anda lakukan? sama atau berbeda.

Setiap orang ingin tampak BEDA

Maka wajar pula jika ketika menghadiri sebuah pesta atau pertemuan, kemudian ditemukan ada seseorang yang mengenakan pakaian yang sama. “Pulang aja yuk, Yang” | “Lhoh, kenapa?” | “Itu bajunya kembaran.” Atau yang demikian. “Lhoh bajunya seragaman ya? Dari panti mana?”. Hahaha

Terlepas dari itu, pertanyaan selanjutnya adalah siapa aktornya. Siapa aktor yang berperan dalam program sekolah full-day? Beberapa di antaranya adalah murid dan guru. Aktor utama dalam sekolah. Tapi ada yang lain seperti orang tua, penjaga sekolah, pedagang kantin, sopir kendaraan umum, dan masih banyak peran figuran lain.

Setiap aktor tersebut didaftar satu persatu kemudian dicari peluang dan ancamannya. Misal sebagai murid, kesempatan untuk mengerjakan PR di sekolah, kesempatan untuk mengulang materi yang belum dikuasai hari itu, kesempatan mengenal teman sekolah lebih jauh, dan sebagainya. Di sisi lain ada juga ancaman, kejenuhan dengan lingkungan sekolah, bosan ketemu guru, menu di kantin yang gitu-gitu saja, dan lain sebagainya.

Misal juga sebagai guru, kesempatan mengenal murid lebih dalam, kesempatan “mendoktrin” murid lebih jauh, kesempatan menuntaskan materi yang belum selesai, kesempatan memperkaya murid untuk ikut lomba, dan lain-lain. Tapi di sisi lain guru juga terancam untuk kehilangan waktu kebersamaan dengan keluarga sendiri, tidak ada yang memasakkan keluarga, kecemburuan keluarga terhadap murid, dan lain sebagainya.

Bagi pelaku bisnis, banyak kesempatan yang bisa digali. Kesempatan pedagang kantin untuk menjual lebih banyak, kesempatan supir kendaraan untuk menawarkan antar jemput sekolah, kesempatan mahasiswa part-time untuk bekerja sama dengan sekolah memberikan bimbingan belajar sebagai guru pengganti, dan sebagainya dan sebagainya.

Bagi pelaku bisnis, di sana ada kesempatan, di situ ada pundi emas yang bisa didulang

Terus apa lagi, terus apa lagi. Selalu mempertanyakan segala hal. Kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana. Siapa penyebabnya, apa dampaknya. Terus digali. Sampai akhirnya hilang cemoohan, “Sudah sarjana kok komen sak udele dewe.” Ahay.

Sayangnya saya baru memiliki pengalaman sebagai murid baik half day maupun full day. Juga pernah mengalami sebagai guru walaupun guru mata pelajaran “kosong”. Pernah juga sebagai penjaga sekolah kalau berada di kesantrian bisa disamakan demikian. Belum pernah menjadi orang tua, mungkin bisa melogikakan, tapi secara emosional belum dapat. Ingin anak pintar, melihat sekolah seharian apakah menyiksa, dan sebagainya dan sebagainya.

Dan terakhir, melihat sesuatu fenomena kehidupan tak lantas mengatakan hitam dan putih. Namun bisa melihat apa penyebab warna hitam dan putih atau bahkan bisa melihat warna-warni kehidupan yang begitu beragam.

Rumah, 10 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram