Breaking News
Home / Kajian / Pikiran Berlari ketika Shalat

Pikiran Berlari ketika Shalat

Siapa sih yang tidak menginginkan mencapai derajat khusyu’ ketika shalat?! Ketika hati hadir dalam setiap gerakan takbir, sujud, hingga salam. Hati bergetar ketika lisan basah mengucapkan kalam-kalam Ilahi. Kepala tertunduk dan berlama-lama dalam posisi sujud sembari memohon ampunan dan welas asih-Nya.

Dalam sebuah kisah, ada seorang fuqoha tabi’in bernama ‘Urwah bin Zubair yang harus diamputasi karena penyakit yang dideritanya. Namun ia justru meminta amputasi tersebut dilakukan ketika ia dalam keadaan shalat [1]. Betapa khusyu’nya ia sehingga perihnya operasi tak dirasakannya.

Bagaimana dengan kita? Berapa kali kita dapat mencapai derajat khusyu’ selama hidup kita? Pernahkah? Merasakan bahwa shalat yang dikerjakan merupakan ibadah terakhir. Merasakan bahwa seusai mengucapkan salam, menoleh ke kiri, dan melihat malaikat Izrail sudah duduk di samping kita. Siap menjemput bahkan belum sempat berdzikir dan memohon kebaikan dunia-akhirat.

Atau barangkali dalam shalat, pikiran kita justru liar berlarian. Masih tersangkut pada pekerjaan yang belum tuntas. Masih bertengger pada tugas yang akan dikerjakan. Masih terpatri pada novel yang sedang dibaca. Sudah terduduk di meja makan dengan air liur yang semakin membanjir di dalam mulut. Bahkan lupa sudah berapa rakaat yang didirikan.

Dalam sebuah kisah lain, Rasulullah mengadakan sayembara bahwa barangsiapa yang shalatnya khusyu’ maka ia berhak mendapat hadiah. Berlombalah para shahabat dengan shalatnya. Semuanya tampak khusyu’ tetapi usai shalat, mereka bertanya tentang hadiah apa yang akan diberikan. Sudah barang tentu kekhusyu’annya justru diragukan karena lontaran pertanyaan tersebut [2].

Mengapa demikian? Mengapa derajat khusyu’ susah dicapai? Mengapa pikiran kita berlarian ketika shalat?

Penelitian dewasa ini membuktikan bahwa aktivitas otak manusia meningkat ketika shalat. Peningkatan semakin tinggi ketika berada pada posisi sujud, kepala menyentuh tanah. Begitu pula ketika mata terfokus di satu titik selama shalat [3]. Adanya peningkatan aktivitas otak inilah yang menyebabkan pikiran kita berlarian. Bahkan tak jarang ilham, sesuatu yang kita cari-cari, justru datang ketika shalat.

Maka, untuk mencapai derajat khusyu’, tinggal memfokuskan peningkatan aktivitas otak ini kepada satu. Dengan siapa kita menghadap.

 

 

[1]  Tuasikal, Muhammad Abduh. 2013. “Terhanyut Dalam Shalat Yang Khusyu’”. Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah. http://muslim.or.id/19040-terhanyut-dalam-shalat-yang-khusyu.html.

[2]  Ahmad, Ummu. 2007. “Bahagiakan Dirimu: Karena kamu yang muda juga berhak melewati hari-harimu dengan bahagia”. GenMirqat

[3]  Doufesh, Hazem, Tarig Faisal, Kheng-Seang Lim, and Fatimah Ibrahim. 2012. EEG spectral analysis on muslim prayers. Applied Psychophysiology and Biofeedback 37 (1): 11-8. Cancel

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram