Breaking News
Home / Nalar / Personal Space

Personal Space

Dalam dunia kebinatangan (“binatang”, hewan. Bukan “bina tangan”. Please. Jangan baperan kayak tetangga “sebelah”. Mentang-mentang kemarin ValDay), dikenal istilah teritori. Anjing dan kucing sebagai contohnya, mereka menandai teritorinya dengan “mengencinginya”. Aroma yang timbul dari “kencing” tersebut merupakan sinyal “sudah berpenghuni”.

Layaknya binatang, manusia pun juga demikian. Dalam psikologi, dikenal istilah personal space. Setiap orang memiliki personal space tersebut. Katakanlah sejauh setengah meter melingkar dari tubuh seseorang, itulah personal spacenya. Jika ada orang lain yang berjarak “terlalu” dekat hingga masuk ke dalam teritori tersebut, ia merasa tidak nyaman. Ia merasa seakan dirinya “terjajah”.

Personal space ini sifatnya dinamis, bisa melebar, bisa pula menyempit. Mengikuti situasi dan kondisi di lapangan. Di situasi yang sepi, ia melebar. Radius “radar”nya dapat mendeteksi “penjajah” lebih jauh. Sebaliknya di situasi yang ramai, ia menyempit. “Radar”nya akan sedikit toleran dengan jarak yang semakin sempit.

Dalam kendaraan umum contohnya. Setiap orang menjadi lebih toleran ketika personal spacenya lebih terjajah, jika ramai. Kalau sepi, tiba-tiba ada orang asing yang memilih duduk di sebelah, seketika “radar” awas langsung menyalak. “Ia mungkin copet. Atau preman? Atau mungkin om-om hidung belang?” pikiran-pikiran negatif pun berseliweran.

Lain halnya jika orang asing tersebut ternyata mas-mas ganteng atau mbak-mbak cantik, lantas dengan halusnya meminta ijin untuk duduk di sebelah. Padahal masih banyak kursi kosong tersedia. “Radar” awasnya seketika mati tanpa sebab. “Mas/mbaknya jomblo ndak ya?” begitu.

Ketika sholat jamaah contohnya yang lain. Sang imam menyerukan untuk merapatkan shaf/barisan. Tumit menginjak batas shaf. Ujung kaki bertemu ujung kaki. “Bertemu”. Ingat. Cukup bertemu. Tak perlu terlalu bersemangat untuk mempertemukan ujung kaki lantas menginjak kaki sebelahnya. Ini namanya penjajahan. Dan ingat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. “Penjajahan harus dihapuskan”.

Keterinjakan kaki hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakkhusyukan. Belum lagi jika pahanya besar. Boro-boro bisa duduk tasyahud akhir. Bisanya hanya memposisikan duduk di antara dua sujud. Itupun kedua paha saling menghimpit. Kalaupun dipaksakan duduk tasyahud akhir, ujung kaki akan tertindas oleh paha orang sebelah yang lebih besar.

Personal space bisa melebar bahkan melebur dengan personal space orang lain. Katakanlah personal space sepasang kekasih. Personal space mereka melebur jadi satu. Ketika ada perempuan lain yang berdiri “terlalu” dekat dengan yang laki-laki, seketika “radar” awas yang perempuan menyalak. Tatapan mata tajam terjurus ke perempuan lain tersebut. “Jangan dekat-dekat. Jangan dekat-dekat.” ia merapal jampi-jampi. Berani dekat-dekat, jambak rambutnya. Kalau bukan rambut perempuan tersebut yang dijambak, paling tidak rambut laki-lakinya yang dijambak. Hahaha. Begitu juga sebaliknya.

Kalau suatu waktu anda menemukan ada dua perempuan jambak-jambakan sedangkan ada satu laki-laki di sekitarnya, atau sebaliknya, ada dua laki-laki jotos-jotosan sedangkan ada satu perempuan di sekitarnya. Satu dari dua perempuan atau laki-laki tersebut ialah penjajah. Ingat, “Penjajahan harus dihapuskan”.

Maka pilihan bagi anda ialah mendatangi mereka/ Langsung menggaet laki-laki atau perempuan yang di sekitarnya menjauh dari yang jambak-jambakan atau jotos-jotosan. Menjadi “penjajah” yang kedua. Atau lebih tepatnya “pembajak”.

*Astaghfirullah, kenapa saya malah mengajari yang jelek. :p

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram