Breaking News
Home / Opini / Pendidikan, Investasi Jangka Panjang

Pendidikan, Investasi Jangka Panjang

Pendidikan merupakan investasi jangka panjang, katanya demikian. Siapa yang investasi? Orang tua. Bisa juga diri sendiri. Seberapa panjang jangka panjang tersebut? Sampai dapat memiliki profesi sendiri, paling tidak demikian. Oke, sampai sini dahulu. Nanti kita akan kembali ke sini.

Investasi menurut Wikipedia adalah “To invest is to allocate money in the expectation of some benefit in the future“. (Walaupun penggunaan Wikipedia sebagai sumber adalah tidak akademis, tetapi cukup jika hanya dijadikan wawasan). Ada empat kata kunci di sana, “money“, “expect“, “benefit“, dan “future“. Kata “expect” dan “future” seakan merupakan satu paket. Karena mengharapkan pastilah sesuatu di masa depan, yang belum terjadi.

Yang namanya berinvestasi, pastilah mengharapkan “benefit“. Katakanlah berinvestasi apartemen, misalnya. Membeli apartemen, yang tentunya barangnya belum jadi. Hanya maket dan promosi dari SPG yang dijual di awal dengan harga relatif lebih rendah. Namun ketika apartemen sudah dibangun, harganya dapat berlipat-lipat di atasnya. Benefitnya ialah selisih dari harga beli dan jualnya. Jangka panjangnya ialah jarak waktu beli dengan jualnya.

Investasi start-up mungkin bisa jadi contoh yang lain. Start-up yang sangat riskan untuk bangkrut karena kompetisi dengan pemain yang lebih raksasa. Riskan untuk bangkrut karena manajemen yang kurang pengalaman. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa ada investor yang berinvestasi kepadanya? Memberikan sejumlah dana untuk mendukung keberhasilannya. Maka, apalagi kalau bukan menginginkan “benefit” kelak di kemudian hari.

Apa sih benefit yang diinginkan investor? Keuntungan dari operasinya? Rasanya kok bukan. Jika menilik model start-up seperti Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, WhatsApp, dan lain sebagainya. Benefit yang dicari dari investor sepertinya justru menjual “kepemilikan” start-up tersebut ke orang lain. Yang berani membayar lebih dari investor pertama.

Dan sudah merupakan maklum ketika pemilik start-up, yang diinvestasikan, memberikan laporan keuntungan secara periodik kepada investor. Menunjukkan keuntungan yang sudah didapat agar investor semakin percaya dengan investasinya. Atau menunjukkan kerugian jika memang ada sehingga investor dapat (mungkin) mengarahkan ke “jalan yang benar”

Apakah melaporkan keuntungan dan kerugian tersebut dilakukan setelah jangka waktu yang panjang? Bukan, tetapi selama aktivitas produksi dari start-up tersebut. Bahkan bisa jadi investor akan “sidak” ke start-up untuk mengetahui bahwa dana yang diinvestasikannya digunakan dengan benar.

Mari kita kembali ke paragraf pertama. Pendidikan, investasi jangka panjang. Siapa yang investasi? Orang tua. Kepada siapa investasinya ditanam? Anak-anaknya. Meskipun orang tua (tidak) mengharapkan keuntungannya kembali kepada dirinya, tetapi justru kepada yang diinvestasikan. Seakan investasi satu arah.

“Ini, saya ingin memberikanmu pendidikan yang terbaik. Agar kelak engkau menjadi orang yang lebih baik dari saya, Nak.”

Pasti demikian. Yang diharapkan bukanlah dana investasi tersebut kembali dalam bentuk dana. Tetapi “orang yang lebih baik” yang lebih diharapkan. Lebih baik dari beliau. Pribadi yang dapat mengunggulinya. Mungkin saya belum jadi orang tua, tapi kira-kira demikian isi benak orang tua.

Lantas, sebagai yang mendapat investasi, apa yang bisa dilakukan? Memaksimalkan investasi tersebut? Sudah barang tentu. Tetapi ingat, itu “JANGKA PANJANG”. Dan bisa jadi panjangnya itu enam tahun, sembilan tahun, dua belas tahun, enam belas tahun, atau bahkan dua puluh dua tahun. Hanya berinvestasi, hanya memberikan uang saku. Terus menerus.

Sedikit kembali ke enam paragraf di atas. Melaporkan keuntungan dan kerugian, atau lebih tepatnya aktivitas produksinya. Orang tua mana yang tidak bahagia ketika anaknya menunjukkan prestasinya. Lumrah. Karena dengan demikian (mungkin) orang tua semakin percaya bahwa investasinya berhasil. Prestasi sebagai representatif dari keuntungan.

Namun, sebaliknya. Ketika yang ditunjukkan sang anak bukannya menunjukkan prestasi tetapi “kenakalan remaja” (sebagai representatif dari kerugian), maka bisa jadi orang tua akan “menegur” dengan caranya masing-masing. Mengapa investasinya tidak seperti yang diharapkan. Bisa jadi dengan pemotongan “anggaran”, pemberian hukuman, atau justru berinvestasi lebih banyak dengan menyekolahkan ke pesantren misalnya. Memberikan les tambahan bisa jadi merupakan tambahan investasi yang lebih besar.

(Sepertinya lumrah. Tapi untuk bagian ini perlu diklarifikasi lebih dalam. Yah, karena saya belum jadi orang tua, jadi untuk bagian ini saya hanya menalar).

Terlepas dari prestasi maupun “kenakalan remaja”, yang diharapkan minimal adalah adanya LAPORAN. Bukan lantas ketika diinvestasikan kemudian lepas begitu saja. Seakan-akan kabur membawa lari dana yang diinvestasikan haha. Dengan adanya LAPORAN ini, maka orang tua tetap dapat mengawasi investasinya. Bukan dananya secara umum yang diawasi, tetapi anaknya secara khusus.

Halah, bilang saja komunikasi. Pakai istilah laporan segala. HAHAHA. ya begitulah. Intinya adalah pada KOMUNIKASI tersebut. Sudah sudah. Jadi random ini tulisannya, karena saya memasukkan apapun yang sedang terlintas dalam pikiran tanpa menyaring dan memilihnya. hehehe

Jadi, sudahkah engkau laporan ke orang tua?

Rumah, 27 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram