Breaking News
Home / Curhat / .:: Pendengar Baik ::.

.:: Pendengar Baik ::.

Beberapa hari lalu sempat saya tanyakan dalam diri bagaimana jika saya berada pada posisi orang yang diajak dialog dengan atheis, mampukah saya memberikan jawaban yang logis sehingga dapat diterimanya. Belum puas saya mencari jawabannya, dengan sangat ajaib kesempatan itu mendatangiku lebih cepat. Kesempatan untuk berdakwah. Ah terdengar terlalu berat, biar saya ralat. Kesempatan untuk berbagi ilmu.

Satu buku bacaan sudah kusiapkan dalam tas. Ku harap dapat menemaniku selama perjalanan nanti di kereta. Buku yang sama yang memberiku inspirasi tentang tulisan tadi. Tantangan menjadi muslim di negara minoritas. Tetapi justru di negara tersebutlah ia, sang penulis, mendapatkan “cahaya”nya.

Kehabisan tiket kereta yang sudah direncanakan akan ku ambil berbuah keheranan. Kok bisa? Bersyukur bukan kekecewaan maupun gerutuan yang terlintas dalam benakku. Hanya terucap, “Mbak, kok bisa habis ya?” tanyaku ke penjaga loket. Walhasil, jadwal kereta selanjutnya yang ku ambil. Lumayan, 30 menit setelahnya. Itupun harus merogoh kocek yang berlipat 4,5 kali. Ah biarlah, daripada terdampar di stasiun.

Dengan ajaibnya, kereta yang ku incar semula justru datang terlambat. Bahkan keretaku yang 30 menit setelahnya berangkat, kereta tadi belum kunjung tiba. Ku tengok keluar jendela, membayangkan aku termasuk dalam kerumunan orang yang masih menunggu kereta. Sambil menggerutu. Memakan hati. Alhamdulillah.

Buku tadi sudah siap ku keluarkan, datang sebuah keluarga kecil beranggotakan sepasang suami istri dengan buah hatinya yang masih berumur 3 tahun. Masih dalam masa “luthu-luthuna”. Menenteng sebuah koper besar. Mengambil kursi di sampingku. “Maaf ya Pak. Saya titip koper di bawah bangkunya” sopan sekali meminta ijinku.

Pengalaman pertama bagi sang buah hati menggunakan kereta api, lincah sekali ia. Tak mau diam. Sambil bersenandung tentang pesawat dan kereta api. “Turun mana Bu?” ku buka percakapan sambil menutup resleting tas. Batal membaca buku. Dari situlah awal percakapan kami.

Rupanya keluarga kecil ini dari Pontianak dan pulang ke Solo karena adik dari sang suami akan melangsungkan pernikahan. Percakapan awalku adalah bersama sang istri. Dan sepertinya ia memegang “judge a book by its cover” karena ia mengiraku seorang mahasiswa dan berkeinginan menjadi pendeta. What? How come? Jenggot tipis yang coba ku pelihara ini sepertinya kurang merepresentasikan identitas sebagai muslim.

Sempat juga ia bercerita tentang betapa besar kesempatan bekerja di Kalimantan sambil berujar, “Banyak juga lho Chinesse yang membuka usaha di sana. Kalau mau ke sana, jangan lupa berdoa dulu.” Ah, lagi-lagi mata sipitku ini menipu orang. Terutama bagi sang istri ini. Hehe. Dan itulah akhir percakapanku dengan sang istri.

Lain halnya dengan sang suami. “Kalau saya berbeda pendapat dengan istri saya. Boleh kan saya berbeda pendapat?” sambil menoleh ke istrinya seakan meminta persetujuan. Singkat cerita, sang suami ini ternyata memiliki background pendidikan teologi. Bahkan profesinya di sana merupakan seorang pengajar di sekolah. Tiga puluh empat anak kelas 1 SD adalah murid-muridnya. Bahkan tanpa ragu, ia menggunakan istilah “brainwash” dalam metode ajarnya.

Kita tinggalkan sejenak kisah perjalananku yang belum usai. Terlintas dalam benakku tulisan tentang dialog di awal. Ah, ini seharusnya bisa jadi kesempatanku untuk “berbagi” ilmu. Tapi mampukah? Siang tadi sempat ku dapatkan pula bahwa manusia diciptakan dengan dua buah telinga tapi satu mulut. Itu berarti, mendengarkan merupakan kuncinya. Dan ah, dengan ajaibnya kesempatan ini datang. Mencoba menjadi pendengar yang baik. Mari kita kembali ke sang suami.

Mungkin berbekal dengan pengalamannya, pemilihan katanya sangat hati-hati sekali. Walaupun sampai tahap ini ia masih belum tahu pasti apa agamaku. Sampai akhirnya ia klarifikasi, berkali-kali mengucapkan kata maaf sebelum menanyakan saya kristen atau muslim. Ah, sopan sekali. Cerdas sekali.

Ku ambil jeda sedikit sebelum akhirnya ku lemparkan senyum, “Saya muslim Pak.” Sebenarnya ada rasa enggan ketika menjawab, karena hampir bisa dipastikan itu akan menjadi akhir percakapan kami. Tapi ternyata sebaliknya. Ku akui sang suami ini cerdas bin terampil. Pemilihan katanya menjadi semakin disesuaikan denganku. Semisal kata “Allah” dengan pelafalan huruf “A” yang berbeda dan “Isa” ketimbang “Yesus.” Dan ini berbeda sebelum ia tahu bahwa aku Muslim.

Setengah perjalanan sisanya benar-benar ku gunakan untuk lebih banyak mendengarkan walaupun berkali-kali ia mengatakan, “Ini hanya berbagi informasi saja sesuai dengan apa yang saya baca di AlKitab. Nanti Mas juga bisa berbagi informasi.”

Ia bercerita mulai dari penciptaan alam semesta dalam hitungan hari. Hari pertama apa, hari kedua apa, dan seterusnya. Berlanjut tentang Adam dan Hawa yang tinggal di Firdaus hingga akhirnya berdosa karena memakan Khuldi. Keturunan Ibrahim dari garis Israel. Hingga hanya perbuatan baiklah yang kelak “dilihat” entah apapun agamanya.

Apa artinya agama jika hanya di lisan tapi tak menyentuh ruh dengan dicerminkan dalam sebuah tindakan yang baik? Ia menggunakan istilah “atheis praktis”. Daripada beragama, lebih baik liberal atau atheis tapi berbuat baik. Sambil mengatakan bahwa ia berdasarkan dari apa yang diyakininya dari yang dibacanya. Satu lagi, andaikan semua orang berbuat baik, di sekolah di-“brainwash” demikian, pasti Indonesia menjadi hebat sambil mengacungkan jempolnya.

Ku dengarkan baik-baik. Tangannya bergerak semangat sesuai dengan berapi-apinya ceritanya. Matanya ku lekatkan dengan mataku sampai mendelik-delik. Ku condongkan badanku apabila ia condongkan badannya. Benar-benar kujadikan diriku cerminan dari apa yang dilakukannya. Berkali-kali ku berdehem mengiyakan tanpa lupa senyum ku tebarkan.

Dalam hati mencoba membandingkan persamaan, berkali-kali berusaha menentang sambil mengucapkan ta’awudz dan syahadat. Ah, bukan begitu Pak. Tapi, sekali lagi ku bertanya dalam diam. Bagaimana berdakwah yang “tepat”. Karena ia juga berkali-kali mengatakan berbeda dengan teman-temannya yang lebih “fanatik” sampai adzan saja menutup telinga.

Sempat ia tanyakan dulu SMP-ku di mana, begitu juga SMA-nya. Ah, sekali lagi ingin ku rahasiakan. Khawatir akan mengubah ritme percakapannya. Hingga akhirnya hanya ku jawab, “SMP di Sukoharjo, Pak. SMA-nya juga,” tanpa lupa ku sunggingkan sebuah senyuman. Entah diskusi seperti apa selanjutnya jika ia tahu diriku pernah “nyantri” bahkan sempat dipanggil dengan label “ustadz.”😝

Sebagaimana satu tulisan sebelum ini, ending dari diskusi (yang terkesan satu arah) ini adalah ku berikan nomorku dengan didahului memprospeknya bahwa aku adalah agen tiket kereta api dan pesawat.

Tak terasa keretaku sudah berhenti di stasiun tujuanku. Kami berpamitan. Aku sudah berjalan menuju bordes, sedikit berteriak ia begitu semangat mengingatkan semoga diskusi ini bisa berlanjut via sms atau telepon.

Dalam langkahku menuju rumah, tak sabar ingin kubagikan kisah ini. Hujan yang semakin deras membasahi baju dan tasku. Sampai “mbak-mbak” di sekitaran RRI (jika anda tahu apa maksudku hihihi) berujar, “Kok hujan-hujanan, Mas?”

Rumah, 1-2 Juni 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram