Breaking News
Home / Nalar / Pattern Recognition

Pattern Recognition

Jika anda diberikan 3 bilangan dalam deret, yaitu: 1, 2, dan 3, lantas ditanya apa bilangan selanjutnya. Tanpa perlu berpikir panjang, anda berseru “4”. Pernah menemukan hal ini?

Salah satu materi yang tersirat dalam uji kognitif adalah pattern recognition. Peserta (pasien) diuji seberapa baik ia mengenali sebuah pola sehingga dapat memprediksi pola selanjutnya. Pattern recognition ini dapat kita temukan di kehidupan sehari-hari juga lho.

Ketika berhenti di persimpangan lampu lalu lintas – bangjo (abang ijo). Lampu merah menyala yang diikuti lampu kuning. Tanpa menunggu lampu hijau menyala, kendaraan di belakang anda sudah menyalakkan klaksonnya keras-keras. Ia sudah tahu lampu hijau segera menyala. Bahkan bisa jadi ketika counter lampu baru menunjukkan detik ke lima, klakson di belakang sudah berorkestra. “Wes, maburo ae kono, Pak!

Kemampuan kognitif ini merupakan kecerdasan dasar yang kita miliki. Entah yang berIQ jenius maupun yang berIQ “jongkok” sekalipun. Tinggal kerumitan pola (pattern) yang membedakannya.

Cerdas. Tapi dengan kecerdasan ini, manusia dapat “dikelabuhi”. Atau lebih tepatnya, “terlalu cepat mengambil kesimpulan”. Dan media massa memanfaatkan “celah” ini.

Sebagaimana penguji kognitif yang memberikan 3 dari 4 bilangan dalam deret, media massa tak perlu memberikan semua fakta secara utuh. Mereka bisa saja “menggiring” opini masyarakat tanpa perlu dituntun sampai akhir. Cukup beberapa potongan yang mengarah ke tujuan, sisanya diserahkan kepada masyarakat untuk “menebaknya”.

Bahkan, media massa cukup memberikan satu potongan berita dengan highlight besar di judulnya. Saking cerdasnya masyarakat, ia tak perlu membaca berita utuh. Cukup dari judulnya, ia bisa menebak apa isinya.

Entah, frase “saking cerdasnya masyarakat” itu betul tidak menggunakan kata “cerdas”. Mungkin cerdas dalam pattern recognition sehingga cepat dalam memprediksi pola selanjutnya lantas mengambil kesimpulan. Tapi minus dalam melihat whole big picture.

Media massa merupakan data sekunder – data yang sudah diolah. Kevalidannya perlu cek dan recheck. Bisa dengan membandingkan dengan data sekunder lain jika meragukan data tersebut. Karena jika tidak, lahirlah “sumbu pendek”.

Masih ingat paragraf pertama yang saya buat? Jika terdapat tiga bilangan dalam deret, yaitu: 1, 2, dan 3. Lantas anda menjawab “4” merupakan bilangan selanjutnya. Salah. Bilangan “5” merupakan selanjutnya. Tanya bagaimana? Jumlahkan dua bilangan sebelumnya untuk mendapatkan bilangan selanjutnya.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram