Breaking News
Home / Nalar / Pandawa, Si Lintah Darat

Pandawa, Si Lintah Darat

Beberapa pekan lalu, kita menemukan kasus penggandaan uang di padepokan Kanjeng Dimas. Konsepnya, dengan membeli sejumlah “properti”, kita bisa menggandakan uang berlipat-lipat. From nowhere. Beberapa hari lalu, kita juga menemukan koperasi simpan pinjam Pandawa. Konsepnya, dengan menyimpan sejumlah uang, kita mendapatkan “tingkat pengembalian” sejumlah berapa persen dari uang yang disimpan. Looks logical, tapi mari kita sedikit telisik lebih lanjut.

Pandawa, layaknya koperasi simpan pinjam yang lain, mencari nasabah yang ingin menyimpan dananya. Semakin banyak nasabah yang didapat, semakin besar aset yang dimilikinya. “Pemanis” utama yang digunakan untuk menjaring nasabah ialah “tingkat pengembalian” sebesar 10% setiap bulan dari dana yang disimpan. Jika anda menganggap 10% per bulan tersebut kecil, maka saya perlu memberikan gambaran lain. Bank Mandiri memberikan “tingkat pengembalian” sebesar 4,25% per bulan untuk deposito di bawah Rp 100 juta dengan tenor 1 bulan. Maka, “tawaran” Pandawa jauuuh lebih “menarik”.

Itu baru satu aktivitas bisnis koperasi tersebut. Agar ia tetap dapat memberikan 10% setiap bulan, maka ia harus bisa “memutar” uangnya. Peminjaman merupakan aktivitas bisnis lainnya. Menurut penuturan Nuryanto, pemilik koperasi tersebut, dalam wawancara eksklusif salah satu program televisi, ia menuturkan bahwa koperasi memberikan pinjaman dengan “tingkat pengembalian” sebesar 20% setiap bulan. Sebagai pembanding, Bank Mandiri menetapkan “tingkat pengembalian” serupa pada bisnis mikro sebesar 18,75% per tahun. Bagi saja angka tersebut dengan 12 untuk mendapatkan senilai bulanan. Sekitar 1,6% per bulan. Serta merta, saya menyebut Pandawa sebagai “Lintah Darat”.

Konsepnya mudah. Mencari nasabah untuk memperbesar aset kemudian menyalurkan aset tersebut ke peminjam. Ada selisih besaran “tingkat pengembalian” sebesar 10%, dengan rincian 10% beban yang harus dibayarkan setiap bulan kepada nasabah dan 20% pendapatan yang diterima setiap bulan dari peminjam. Itulah keuntungan bagi koperasi.

Asumsi dana mengendap, maka koperasi hanya punya waktu selama 10 bulan sebelum nasabah “menagih” 10% per bulannya. Maka, ia perbanyak asetnya sehingga ia masih bisa memberikan 10% tersebut. Di sisi lain, dengan semakin banyak asetnya, maka semakin besar pula bebannya. Ia harus memberikan 10% ke lebih banyak nasabah. Untuk mengurangi bebannya, ia harus segera “memutar” asetnya. Di sinilah koperasi memiliki masalah likuiditas. Satu masalah.

Masalah berikutnya ialah munculnya skema piramida, layaknya MLM. Ia merekrut “leader” untuk mencari sebanyak-banyaknya nasabah, memperbesar aset. Leader juga semakin terpacu meningkatkan levelnya agar “bonus” yang dimilikinya semakin besar. Bukannya koperasi menyelesaikan masalah likuiditasnya, ia justru memperbesar bebannya. Jika ia berpikir dengan semakin banyaknya aset, ia dapat tetap memberikan 10% setiap bulan bagi nasabahnya, maka tunggu saja tanggal kebangkrutannya. Nasabah “menagih” 10%, terutama nasabah yang sudah berumur di atas 10 bulan.

Dua kasus di atas mencerminkan betapa masyarakat mudah “keblinger” dengan imbalan yang besar. Begitu menginginkan imbalan yang besar, tetapi tidak ingin menerima risiko yang juga sebanding dengan imbalannya. Jika anda menginginkan “bisnis” demikian, imbalan besar dengan risiko kecil, berbisnislah dengan Tuhan, jangan dengan makhluk-Nya. Karena dengan makhluk, hanya ada “zero-sum game”.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram