Breaking News
Home / Nalar / Pandangan Helikopter

Pandangan Helikopter

Mungkin anda pernah menemui postingan mengenai koalisi negara-negara Islam dan bertanya-tanya mengapa Indonesia, negara kita, negara yang memiliki jumlah penduduk mayoritas umat Islam ini tidak bergabung dengan koalisi tersebut?

Ah, sebenarnya sebisa mungkin saya menghindari tulisan yang mengomentari atau berkaitan dengan agama. Tak lain tak bukan karena khawatir tulisan saya menjadi bumerang hanya karena ada kesalahan dari apa yang ingin saya sampaikan dengan apa yang ditangkap. Ujung-ujungnya hanya menimbulkan putusnya silaturahim. Sesuatu yang saya hindari karena bersosialisasi adalah sesuatu yang sedang saya pelajari. Maka, anggaplah ini hanya sebuah contoh yang kebetulan terlintas di benak saya.

Melihat postingan tersebut keheranan saya segera membawa saya ke masa lalu di mana guru saya mengajarkan pelajaran Sejarah. Pelajaran yang membosankan. Serius. Bahkan menjadikan sang guru tak ubahnya sebagai pendongeng yang meninabobokan murid-muridnya. Jujur saja, siapa yang tidur ketika pelajaran Sejarah?

Mungkin karena saking asyiknya dininabobokan maka ada sedikit yang terlewatkan bagaimana sistem politik luar negeri yang dianut oleh Indonesia. Bebas Aktif. Ring a bell? Apa itu bebas aktif? Silahkan anda manfaatkan ponsel pintar anda untuk mencari tahu. Bisa dari sekedar blog atau wikipedia, atau kembali membuka buku Sejarah.

Hanya untuk menulis sampai titik ini, saya harus menyempatkan untuk mencari jurnal ilmiah yang menceritakan Bebas Aktif ini dan mencoba mengkaitkan apakah Bebas Aktif ini masih dianut atau sudah kadaluarsa. Satu jurnal yang saya baca berjudul “Balancing ASEAN, the U.S. and China: Indonesia’s Bebas- aktif Foreign Policy in the 21st Century by Damian Wnukowski”.

Apa yang terkandung di sana mungkin tidak serta merta membahas tentang koalisi negara-negara Islam, tetapi paling tidak membuka wawasan mengenai apa itu Bebas Aktif yang dianut oleh negara kita.

Membosankan memang. Tidak semua dari kita ingin meluangkan waktu membaca jurnal-jurnal demikian. Bahkan saya sendiri sering kali mengantuk ketika membaca beberapa baris. Tetapi wawasan kita akan semakin bertambah. Pandangan kita akan semakin luas. Hingga akhirnya obrolan kita bisa lebih berbobot jika memang berujung pada diskusi.

Secara tidak langsung saya mungkin merendahkan orang-orang yang berkomentar bebas mengenai postingan tersebut atau yang semacamnya. Terlebih begitu masifnya hoax yang bertebaran di media sosial. Tetapi saya ingin melihat teman-teman saya, maksimal orang-orang yang berada di daftar pertemanan saya, tidak mudah termakan oleh hoax. (Please, bukan berarti paragraf pertama di awal merupakan hoax lho?! Jangan disalahartikan). Tetapi melihat sesuatu dari pandangan helikopter (helicopter view).

Pernah membayangkan terjebak dalam taman labirin? Di mana banyak jebakan dalam labirin tersebut, bahkan dalam memilih persimpangan. Bisa jadi jalan keluar dari labirin tersebut harus mengambil simpangan ke kanan daripada mengambil simpangan ke kiri yang terlihat lebih dekat. Bisa juga sebaliknya. Atau bisa juga mencoba semua jalan, kembali ke checkpoint jika menemukan jalan buntu atau salah jalan. Tetapi bukankah hal tersebut time consuming?

Cara yang paling efisien ialah melihat alur labirin dari atas. Masih ingat permainan anak-anak yang biasa dicantumkan dalam buku mainan tentang labirin? Bukankah lebih mudah kita memecahkan labirin ketika kita melihat dari atas? Itulah pandangan helikopter. Sesuatu yang terlihat remeh seperti ini tanpa kita sadari ternyata tersirat dalam permainan anak.

Bayangkan jika sedang terjebak dalam labirin tersebut. Ditambah dengan suasana mencekam, gelap, dan suara-suara monster yang menghantui (seketika saya jadi teringat adegan Harry Potter and the Goblet of Fire hehe). Panik. Takut. Menyebabkan kita lari tunggang langgang, mengambil acak jalan di persimpangan. Jalan mana yang terlihat aman dan terang segera kita tuju. Begitu monster atau jalan buntu, putar balik. Terjebak.

Maukah kita juga terjebak dalam labirin tersebut, seperti kisah labirin dan Minotaur? Sudah saatnya kita menggunakan pandangan helikopter. Susah. Tapi tak ada salahnya untuk membiasakannya bukan? Ini perang pemikiran. Jangan mau hanya jadi korban atau bidak catur.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram