Breaking News
Home / iseng / Om Telolet Om

Om Telolet Om

Tampak beberapa pemuda berdiri di tikungan jalan raya. Mereka mengacungkan ponselnya ke depan dan membidikkan lensa kameranya pada kendaraan yang lalu lalang. Absurd. Entah apa yang mereka rekam sebenarnya, mungkin mereka menunggu momen kecelakaan yang sering terjadi di tikungan. Supir bis yang biasa nekat “memakan” jalur yang berlawanan arah, menghiraukan kendaraan roda dua yang jauh berukuran lebih kecil. Atau truk bermuatan berlebihan, melewati batas ketinggian muatan, sehingga ketika berada di tikungan muatan oleng sedikit demi sedikit dan terguling. Persis yang biasa di situs video streaming. Lucu bagi yang melihat, tapi petaka bagi yang merasakan.

Akhirnya yang ditunggu pun tiba juga. Bis berkapaditas lima puluh penumpang yang melaju kencang. Membelah jalanan layaknya King of The Street. Melibas kendaraan yang lebih kecil. Suara klakson pun nyaring mengagetkan pengguna jalan yang lain. Tapi hei. Suara klaksonnya aneh. Unik. Bukan bersuara tiiin tiiin seperti klakson kendaraan, tetapi memiliki nada yang berirama. Telolet. Seperti bunyi terompet.

Sorak sorailah segelintir pemuda tadi. Whaaaat?! Mengapa mereka senang dengan hal tersebut? Apa menggembirakannya? Rasanya saya rugi sudah menonton video “lucu” ini. Give me back my last two minutes.

Tak berselang lama, tepatnya awal bulan lalu, saya melihat di lini masa sebuah foto yang menunjukkan empat dara mengangkat tinggi-tinggi kertas berukuran besar yang bertuliskan: “TELOLETNYA BANG!”, “TELOLET OM”, “OM TELOLET OM”, dan “OM GANTENG TELOLETNYA”. Wahahaha. Sontak saya tertawa membayangkan bapak-bapak sopir bis jika melihat tingkah laku mereka. (Walaupun sampai sekarang saya masih heran kenapa tertawa).

Menurut penelitian, tertawa itu dipicu oleh frontal lobe, bagian otak yang mengendalikan emosi [1]. Apa yang ditangkap oleh indera penglihatan disalurkan ke otak dan diolah di sana. Sedangkan tingkat humor manusia berbeda satu sama lain [2]. Bagi sebagian orang, “Om Telolet Om” itu tidak lucu, tapi bagi sebagian yang lain, itu lucu. Lantas bagaimana hal tersebut dapat viral dan mengundang gelak tawa bagi sebagian yang semula tak menganggapnya lucu?

Pernah dengar bahwa tertawa itu bisa menular? [3]. Pada tahun 1962 di Tanganyika (Tanzania), tiga pelajar perempuan tertawa. Lantas tawa tersebut menular ke puluhan pelajar yang lain hingga menyebabkan sekolah tersebut ditutup. Tawa tersebut relatif dari hitungan menit hingga jam dan terjadi berulang hingga empat kali sehari. Celakanya, tawa tersebut menular ke desa yang lain dan menyebabkan indikasi yang serupa.

Bagi kita, tertawa mungkin tidak separah hal tersebut, tapi pernahkah kota menonton film komedi tetapi tidak tertawa karena memang jayus/garing/tidak lucu. Namun, karena ditonton bersama dan ada penonton lain yang tertawa terpingkal-pingkal, sensor humor kita tanpa sadar juga terpancing. Ikut tertawa walaupun tidak tahu apa yang ditertawakan.

Belum lagi jika kejadian emosional itu lebih mudah terekam dalam ingatan jangka panjang. Maka ketika kita membaca “Om telolet om”, otak kita memanggil ingatan tersebut serta emosi yang tersimpan di dalamnya. Ingatan tentang foto empat dara yang mengangkat tinggi-tinggi tulisan “Om ganteng teloletnya”, dan tiga tulisan yang lain.

Pssst, habis ini jangan lupa pasang telolet.

 

[1] Brain, Marshall. 2000. “How Laughter Works”. Howstuffworks. http://science.howstuffworks.com/life/inside-the-mind/emotions/laughter3.htm.

[2] WAHYUNINGSIH, NUR ‘AINI, and Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. 2012. wacana teka-teki humor bahasa indonesia: Analisis struktur, aspek kebahasaan, dan fungsi.Universitas Gadjah Mada.

[3] Warren, Zachary J., and Séamus A. Power. 2015. It’s contagious: Rethinking a metaphor dialogically. Culture & Psychology 21 (3): 359-79.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram