Breaking News
Home / Opini / Nilai Akademik sebagai Cap Kecerdasan

Nilai Akademik sebagai Cap Kecerdasan

Menjadi orang tua tentunya menginginkan buah hatinya mendapatkan yang terbaik. (Kali ini akan lebih memfokuskan kepada pendidikan. Masih pendidikan karena karya tulis saya dalam rangka syarat kelulusan di pesantren bertemakan pendidikan juga hehe). Terbaik dalam hal apapun.

Masuk ke Taman Kanak-kanak, berharap putra-putrinya dapat bersosialisasi dengan dunia di luar rumah. Syukur-syukur menguasai keterampilan-keterampilan baru, seperti: melipat kertas, mewarnai, menggambar, bahkan bermain alat musik.

“Di sekolah tadi bikin apa, Nak?”
“Bikin angsa dari kertas, Ma!” begitu girang sambil mengeluarkan lipatan kertas yang berbentuk samar. Entah angsa atau bunga. Tetapi tetap saja pujian manis yang keluar dari lisan Mama, “Duh pintarnya anak mama.”

Jenjang selanjutnya adalah bangku sekolah paling dasar, Sekolah Dasar. Berharap putra-putrinya tidak hanya bersosialisasi dengan teman sekolah, tapi lebih dari itu. Kelas satu, berharap kemampuan baca tulis sudah tertanam pada buah hati. Sang buah hati yang semakin pintar, tak lagi menggambar dirinya dan kedua orang tuanya. Namun, ia membuat tulisan tentang liburan bersama keluarganya dan dengan bangga membacakan di hadapan teman-teman sekelas.

Kedua orang tuanya yang saat itu turut hadir dalam seremonial pengambilan raport itupun terenyuh melihat buah hatinya berani tampil di depan umum. Tetapi kebahagiaan itu sirna sejurus kemudian ketika mendapati NILAI di raport buah hatinya penuh “catatan”.

Kini, kesuksesan buah hatinya tak lagi terlihat dari apa yang nampak pada dirinya tetapi dari apa yang tertulis dalam raport. Angka-angka di raport lebih dipercaya merepresentasikan “kecerdasan” putra-putrinya.

Piagam dan piala penghargaan di ajang-ajang olimpiade lagi-lagi menjadi parameter kecerdasan sang anak. Dan kondisi ini berlanjut ke jenjang-jenjang berikutnya, SMP dan SMA. Bahkan kali ini tak hanya nilai raport saja, tapi nama sekolah menjadi “cap” seberapa cerdas buah hatinya. Ketika berada di sekolah favorit akan berbeda dibanding sekolah negeri atau swasta biasa.

Dan lagi-lagi, kondisi ini masih berlanjut hingga jenjang bangku kuliah. Berada di kampus ternama dengan jurusan favorit menjadi parameter kecerdasan anak.

Mungkin si anak ingin menjerit. Tak bisakah mengganti parameter kecerdasan selain nilai maupun IPK?!

Rumah, 19 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram