Breaking News
Home / Nalar / Nikmatnya Merokok, Jangan Ditiru

Nikmatnya Merokok, Jangan Ditiru

Merokok di pesantren – sesekali membahas pesantren lagi. Mumpung baru saja “mini” reuni dengan teman-teman alumni pesantren – merupakan sesuatu yang berada di luar tata tertib pesantren. Meskipun demikian, masih saja ada yang melakukannya. Hukuman pasti yang dikenai adalah botak plontos, mirip seperti biksu. Kencling tak bersisa.

Lantas apa nikmatnya merokok? Mungkin – ini mungkin lho ya – yang dinikmati bukanlah menghisap asap tembakau yang dibakar. Tetapi kondisi “breaking the rules”. Berada dalam kondisi abu-abu. Jika lolos, ada perasaan lega kemudian mencobanya kembali. Tapi jika tertangkap tangan, tetap juga mencobanya dengan strategi yang berbeda. Entah lokasinya. Entah waktunya.

Manusia terkadang memiliki kecenderungan menyukai tantangan yang memacu adrenalin. Dan berada di zona abu-abu tersebut termasuk memacu adrenalin.

Ambil contoh orang yang berakrobatik di ketinggian. Berusaha menyeberang gedung tinggi melalui seutas kabel baja. Jika ia berhasil lolos, yang juga berarti lolos dari maut, maka ia akan berusaha “menantang” dirinya di ketinggian lain. Gedung lain.

Meskipun jatuh, ia memanggul tas parasut di punggung yang dapat dengan mudah ditarik. Atau bisa jadi di bawah sudah disediakan pelampung penyelamat sehingga jatuhpun tak mengundang maut.

Begitulah merokok di pesantren (mungkin). Kenikmatannya bukan dalam setiap hisapannya. Tapi justru sensasi “di ujung tanduk” antara tertangkap tangan oleh bagian keamanan atau lolos dan perasaan lega. Meskipun satu rokok dihisap rame-rame yang mungkin setiap penghisap hanya kebagian tiga hisapan per batang.

Entahlah. Setamat dari pesantren, euforia pasti ada. Tapi juga ada “sesuatu” yang hilang dari menghisap rokok. Mungkin sesuatu yang hilang itu adalah sensasi “breaking the rules”.

Terinspirasi dari celotehan ringan Haris Huda, 2008.

Rumah, 18 September 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram