Breaking News
Home / Kajian / .:: Merengkuh Kenikmatan Shalat ::.
Muslim man prays in mosque

.:: Merengkuh Kenikmatan Shalat ::.

Merupakan sebuah “siksaan” bagi seseorang ketika ia tak lagi merasakan nikmatnya shalat. Begitulah pernyataan yang pernah ku dengar dalam kultum di masjid. Pernyataan khotib yang “menampar” muka. Tak sakit di muka, tapi menusuk dalam di hati. Saya sedang “DISIKSA”.

Saya tahu bahwa shalat bukan hanya gerakan teratur semata. Gerakan yang menurut para ahli (begitu kata mereka) dapat melancarkan peredaran darah. Mulai dari mengangkat tangan takbiratul ikhram hingga salam dalam duduk tahiyyat akhir. Gerakan yang jika dilakukan dengan benar dan sesuai, akan memberikan kesehatan bagi tubuh. Dan itulah salah satu “efek samping” dari shalat.

Namun, apakah shalat hanya merupakan gerakan kesehatan semata? Ada kerisauan dalam hati ketika pertanyaan ini muncul dalam benak. Seharusnya ada yang lain yang bisa didapat dari shalat. Merasakan kenikmatannya. Merasakan bahwa shalat bukanlah “beban” kewajiban yang harus dilaksanakan lima kali sehari. Tanpa boleh meninggalkan satu waktu pun. Tapi bagaimana? Bagaimana menikmati shalat?

Apakah dengan tempat yang nyaman? Tempat yang jauh dari kebisingan kendaraan bermotor dan pekikan orang menjajakan dagangannya? Hawa yang sejuk hingga tak ada bulir keringat menetes dari balik punggung? Sajadah yang empuk ketika dahi menempel dalam sujud? Bacaan imam yang merdu, menyenandungkan ayat demi ayat?

Apakah dengan pakaian yang bersih dan harum aromanya? Jauh dari aroma menyengat yang mengganggu orang di samping? Gerakan shalat yang kilat agar cepat selesai? Atau sebaliknya, gerakan yang lambat, berlama-lama dalam sujud?

Kenikmatan seperti apa yang bisa ku raih dalam shalat? Lantas bagaimana cara ku menikmatinya? Pikiranku berontak, melemparkan berbagai pertanyaan pada diri sendiri, apakah dengan ini, apakah dengan itu. Tapi tak satupun jawaban memuaskan yang terlintas dalam pikiran.

Sesekali pernah mendapati imam yang sesenggukan dalam melantunkan ayat. Bacaan terhenti karena imam tak sanggup menahan air mata yang deras menetes. Jamaah pun bingung. Ah bukan, hanya saya yang bingung. Mengapa ia menangis lantas saya tidak? Bukankah saya salah satu jamaahnya yang mengikuti setiap gerakan imam? Bagaimana mencapai kenikmatan dalam shalat?

“Bekerjalah kamu seakan-akan hidupmu masih seribu tahun lagi. Beribadahlah kamu seakan-akan nyawamu akan dicabut selepas ibadahmu.”

Apakah itu jawaban yang ku cari? Sesederhana itu? Menganggap bahwa itu merupakan hal terakhir sebelum ajal menjemput kemudian?

Rumah, 25 Juni 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram