Breaking News
Home / iseng / .:: Merebut Perhatian Anak dari Ibunya ::.

.:: Merebut Perhatian Anak dari Ibunya ::.

Sebuah melodi berputar dr telepon genggam yg terletak d ujung ranjang, pertanda ada panggilan masuk

Kayaknya baru saja merebahkan badan, melepas penat. Lelah duduk d kursi tegak 90˚, 10 jam d kereta, duduk berhadap2an lutut bertemu lutut. Kepala terbentur2 d diding gerbong

Panggilan dr wali santri, rasanya enggan untuk menerimanya, tapi tangan sudah reflek “menggeser” kanan layar sentuh.

“Assalaamu ‘alaikum” rasanya lemah sekali suaranya
“Walaikumussalaam, ini mamanya Fizza (bukan nama sebenarnya) tadz, ustadz posisi d mana y?” Suaranya sedikit panik

“D rumah bu, ada apa y?” Masih bernada lemah, kepala serasa pusing2
“(((Mulai curhat)))”

Mendengarkan sejenak, “klek”. Melanjutkan mencari “mimpi” d lautan kapuk

Beberapa kali bunyi pesan2 singkat masuk, sepertinya grup WA sdg ramai2nya. Tapi kepala masih suping2. Belum hilang2, tapi tidur sudah terlalu lama, 2 jam terlalu panjang buat istirahat tidur.

Segera bergegas ke loper koran, salah satu lokasi pusat pengambilan korannya agen2 pengantar koran. Mencari kabar2 ttg gerhana bulan semalam, rencana mengambil 3 koran. Lhoh kok, gambarnya sama. Liat koran lain, lhoh kok beritanya sama. Lhoh yg ini juga, walhasil mborong koran. Bahkan bapak2 yg datang setelah saya, kehabisan Solopos.

Semua headline membahas Gerhana Bulan Total, dn yg “mejeng” d situ, siapa lagi klo bukan Pakarfisika (y)

Sampai d pondok, tampak Fizza (bukan nama sebenarnya) duduk berdua dgn ibunya d depan kantor

“Lhoh, Fizza kok ndk sekolah?” Basa basi biasa, sambil ibunya main mata ke saya, mengkode2

Dari kode ibunya, saya baca ‘ustadz, titip Fizza y? Saya mau pulang’

Maka saya balas dgn anggukan, karena klo membalas dgn main mata jg, khawatir ibunya ndk bisa mmbaca mata sipit saya :v

Dn sperti sebelumnya, Fizza akan menangis, makin keras ketika ibunya berjalan menjauh tanpa menoleh sedikitpun. Wow tegar sekali ni ibu, bisa meninggalkan putranya k org lain, apalagi k saya. Dn memang seperti itulah seharusnya wali santri yg sdh berniat menyantrikan d pesantren. Tapi apakah sang ibu tak menoleh sedikitpun, tidak. D belokan terakhir sebelum hilang dr pandangan, sang ibu terlihat menoleh, dr tolehannya menampakkan satu tanda pasti, khawatir.

Satu teknik yg biasa saya pakai k Fizza adalah mencoba menghentikan nangisnya dgn mengalihkan cerita k hal lain. Dn sepertinya ia jg sdh tau teknik saya, tak mempan. Santri2 lain mulai menaruh curiga pada saya. Tatapan2 tajam k saya mulai ndk mengenakkan. Seakan2 menjudge saya yg bersalah T︵T

“Ayo Fizza, balik k kamar aja, tuh diliat kakak2 kelasmu lho, masa’ ndk malu”
Agk susah mengajaknya, tapi alhamdulillah ia mau walaupun masih menangis sedu sedan

Sampai di kamar, berdua karena yg lain masih sekolah, jam sekolah masih 1.5 jam lagi. Apa yg terjadi, Fizza mengamuk sejadi2nya, menangis sambil tiduran, menendang2 udara yg tak bersalah. Berusaha membuka kancing bajunya bak superman, tapi baju tak robek2, mungkin tak kuat, maklum badannya mungil.

Tak lama ia berdiri, berjalan menuju rak sepatu. Saya pikir ia ingin mengambil sandal lalu berlari keluar kamar, tapi tidak. Satu sepatu jatuh, satu lagi jatuh. Mungki sandalnya tertutup sepatunya. Tapi sandalnya kemudian ia jatuhkan. Yg lain ia jatuhkan. Tak ada yg diambil, hanya menjatuhkan acak sambil air mata dn ingus bercampur jadi satu d dagunya.

Merasa rak sepatu sudah kosong, ia berjalan lagi menuju rak almarinya. Mata melirik isinya, saya juga ikut melihat sekilas isinya. Ada botol, gelas, sabun, banyak. Tak jadi ia berantakkan. Sepertinya ia masih mikir2 mau berantakkin

Lalu ia tiduran d ranjang, kembali menderu2 nangisnya. Apa yg saya lakukan waktu itu?

Hanya duduk, melihat tingkahnya. Dr awal sampai akhir, hanya saya lihat. “Do Nothing View”

Otak saya berputar, memikirkan sakjane apa maunya dia. Sepertinya ia membuat berantakan, dgn harapan mamanya akn datang. Tapi itu sia2 bro. Sayangnya, saya yg menghadapinya. Tak “putus” hubungan org tua – ank sementara. You’ve to face me. Sedikit “radikal” tapi ini saya jg sdg belajar. Belajar menjadi. . . ..

Energinya saya biarkan habis utk menangis, biarin aja ia menderu2. Toh ia akn capek sendiri, sekali lagi, hanya saya lihat. Tak ada energi yg saya keluarkan, energi saya simpan utk menahan pusing sedari tadi. *saya jadi teringat seseorang klo gini, haha – nangis, berantakin kamar, diberesin sendiri haha

Agak lama, adu kuat, mana yg lebih lama, energi dia habis atau saya, tapi lambat laun deru tangisnya melambat. Lama2 terlelaplah ia. Josss. I win

Selama ia tertidur, saya coba menelaah kenapa tiap ia dijenguk, pasti akn menangis. Padahal kesehariannya biasa2 aja. Tapi begitu dijenguk, trus mamanya mau pulang, nangisnya pasti tumpah.

Dari ceritanya yg tersamarkan tangisannya tadi, saya simpulkan bahwa mamanya sering mengatakan sesuatu, tapi ditangkap si anak sbg sebuah “janji” yg harus ditepati. Mungkin sang ibu mengatakn tsb berusaha menenangkan. Tapi trnyata sng anak menangkap lain. Klo istilah ank geol jaman sekarang itu “PHP”

Hmmm…1 lagi “pengalaman” yg bisa dipelajari

Saya pun ikut tiduran, d ranjang sebelahnya. Menunggu teman2 sekamarnya pulang sekolah. Sesekali ia bangun, bingung, seakan lupa apa yg telah terjadi, lalu nangis lagi, tiduran lagi, lelap. Begitu sampai 2 kali.

Mahen (bukan nama sebenarnya) pun datang pulang sekolah. Melihat jam, lumayan juga ni ank “menyita” waktu saya. Y sudah saya tinggal saja, sekalian titip k Mahen, klo ia bangun, suruh sholat dhuhur.

Setengah jam saya tinggal, makan siang. “Eh Fizza tu ank kamar antum y?”
“Iya, kenapa?”

“Itu tadi tak lihat d depan kamar”
Huaaaa..saya jg pengin bociiiii

*eh, tapi kenapa justru ia mencari saya? Bukannya sudah saya tinggal? Kenapa ia tidak pergi ke wartel, menelepon mamanya? Kenapa malah menempel k saya? Kenapa?

Tulisan ini pernah dipublish di halaman fb darmawan.rhs 5 April 2015

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram