Breaking News
Home / Opini / Menunggangi Kaum Nyinyir

Menunggangi Kaum Nyinyir

Beberapa tahun lalu ramai diperbincangkan tingkat kecelakaan yang tinggi oleh salah satu PO bis antar propinsi dengan trayek Surabaya – Yogyakarta. Apalagi kalau bukan dipicu oleh laju kendaraan yang sangat tinggi dan keberanian pengemudi dalam “menguasai” lajur yang berlawanan. Ramailah masyarakat untuk menuntut agar segera ditutup PO tersebut. Lantas apa yang terjadi, ia hanya berganti nama. Dan tetap saja masih ramai pelanggannya. Akhir bulan lalu saya naiki, bahkan lebih nyaman.

Demikian juga dengan maskapai yang terkenal karena keterlambatan jadwal penerbangan. Belum lagi ditambah handling bagasi yang sempat membuat ricuh kehilangan barang-barang penumpang. Masyarakat menuntut. Tetapi tetap saja seperti benci-benci rindu. Berapa kali saya melayani pemesanan tiket penerbangan, maskapai ini juga masih menjadi incaran karena harganya murah.

Dan yang baru-baru ini, masyarakat dibuat ramai serupa dengan merek roti. Ya elaaah broo bro. Ramai hingga berujung pada broadcast untuk memboikot. Hadeeh, entah berapa kali saya geleng-geleng ajeb-ajeb dengan seruan seperti ini. Bukan begini caranya kalau ingin “membangkrutkan”. Pemiliki perusahaan pastilah sudah mengukur risiko dari setiap tindakan yang dilakukannya. Bahkan terjadinya bencana hingga chaos pun sudah diukur. Itulah tugas para profesional di bidang chaos management.

Di waktu yang sama, saya mengamati orang-orang yang selalu memperhatikan pergerakan harga minyak dunia. Tahu sendiri bagaimana masyarakat Indonesia sangat sensitif dengan harga BBM kan? Harga naik karena pengurangan subsidi saja sudah diiringi dengan menaikkan harga-harga di pasar. Belum lagi ketika harga-harga tersebut naik, kemudian masyarakat menuntut kenaikan upah. Tapi di sisi lain, kenaikan upah mendorong masyarakat menaikkan gaya hidupnya. Saya ulangi sekali lagi. GAYA.

Kendaraan roda dua dengan CC yang besar, “motor lanang”, tetapi membayarnya menggunakan kredit itu bisa jadi salah satu contoh betapa GAYA juga ikut naik. Apakah kendaraan tersebut merupakan kebutuhan pokok? Apakah kendaraan tipe bebek saja tidak cukup, harus yang bertipe sport? Apa ndak kasihan lihat emak-emak tunggangannya “motor lanang”?

Bukan hanya harga minyak dunia saja yang mereka perhatikan, tapi juga berbagai komoditas seperti batu bara, sawit, dan semacamnya. Bukankah barang-barang tersebut merupakan beberapa kekayaan bangsa Indonesia? Belum lagi mereka juga sudah membuat rencana bagaimana jika Hillary atau Trump yang terpilih jadi presiden. Orang Indonesia di Indonesia nih, bukan bule, bukan juga orang Amerika. Apa tujuannya kalau bukan membuat dompet orang-orang kaya semakin tebal?

Buat apa nyinyir-nyinyir tak jelas. Mudah termakan oleh isu-isu gorengan lantas menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang negatif, atau paling tidak beraura negatif?

Astaghfirullah, semoga lisan ini terjaga dari nyinyir-nyinyiran 😀

Menjadi guru, sebagai tenaga pendidik, mendidik itu merupakan tindakan preventif yang memiliki prospek sangat panjang. Orang-orang sekarang yang menapuk kepemimpinan apalagi kalau bukan jasa para guru. Ajarilah anak didik apa itu kompetisi. Sudah itu saja. Meski nilai sudah di tangan (karena adanya KKM yang menjadikan nilai minimal 7), tetapi jodoh kan tidak di tangan tho? Tetapi di tangan Tuhan 😀

Bagaimana kompetisi itu perlu dipupuk. Kalaupun tidak mampu berkompetisi, paling tidak tahu bagaimana berkoalisi. Kalaupun susah untuk berkompetisi mendapatkan doi karena paras atau dompet, paling tidak rekomendasi dari teman yang punya paras atau dompet kan memiliki nilai tambah tho? *ok, bagian ini sekedar guyuon hehe

Lihat bagaimana kompetisi itu terjadi ketika sudah di luar kelas. Pernah membayangkan kompetitor dari PO bis, maskapai, maupun merk roti yang dituntut tersebut? Bagaimana dengan mudah mereka “menunggangi” masyarakat yang menyinyir dengan produk saingan mereka? Apalagi yang “sumbunya pendek”. Ah, jadi sabotase dengan biaya yang murah. Mau ditunggangi?

Lantas, bagaimana yang harus dilakukan? Sini biar ku bisiki.

Dukung saya jadi walikota Solo hoho

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram