Breaking News
Home / iseng / Menjadi Pengabdian Semau Gue: Prolog

Menjadi Pengabdian Semau Gue: Prolog

DISCLAIMER. Tulisan ini akan SANGAT subyektif. Sudut pandang yang diambil merupakan sudut pandang pertama. Tulisan ini bisa jadi sangat PROVOKATIF dan menyudutkan beberapa personal. Diambil berdasarkan pengalaman penulis selama tiga tahun terakhir. Maka segala akibat yang ada merupakan tanggung jawab penulis. Feel free to discuss and enjoy to surf my mind 😀

Satu lagi ketinggalan. Pemilihan kata yang digunakan bisa sangat KASAR dan tidak mengenakkan bagi beberapa orang. Jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga itu merupakan kesengajaan penulis XD

Pengabdian, Sebuah “Label”

Pengabdian merupakan “kasta” paling rendah dalam profesi di pesantren. Klasifikasi kasta ini berdasarkan dari nominal bersih yang diterima setiap bulan terlepas dari tunjangan tentunya. Tidak tepat jika disebut gaji. Kalau dulu “wejangan” yang ku terima itu “anggap saja buat beli sabun” :v

Entah berapa kali “diperingatkan” dengan pengalaman di “tempat lain” bahwa yang namanya pengabdian itu ya ndak dibayar.. Namanya juga pengabdian. Mengabdi. Bukan bekerja. Maka, bersyukurlah kalau diberi “uang saku” untuk beli sabun :v

Pengabdian, “label” yang dilihat sebelah mata. (atah bahkan mata tertutup?!). Dikatakan pengabdian bagi mereka yang setamat pesantren mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk keberlanjutan kegiatan pesantren. Umumnya baru lulus bangku SMA sederajat dan berada di awal kuliahnya (beberapa tidak langsung melanjutkan studinya)

Semua itu Bermuara di Kesantrian

Ada tiga unit kerja dalam pesantren (anggap saja begitu, sebenarnya lebih dari itu), yaitu:

  1. Unit Sekolah: di sinilah yang bertanggung jawab mengenai akademik santri. Para pendidik yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan ustadz dan ustadzah
  2. Unit Pegawai: di unit ini yang menangani semua penunjang kegiatan santri, entah itu dari konsumsi, manajemen, administrasi, hingga kebersihan. Salah satu unit yang krusial, tapi disepelekan. Keabsenannya menjadikan lingkungan acakadut dan tak nyaman. Bukan ini fokus pembicaraannya, tapi yang terakhir ini
  3. Unit Kesantrian: di sinilah yang namanya pengabdian “ditempatkan”. Unit yang menangani seluruh kegiatan santri di luar jam pelajaran sekolah.

Perlukah ku ceritakan lingkup Unit Kesantrian ini? Bisa banyak, tapi sederhananya adalah semua kegiatan santri semenjak ia bangun tidur sampai terlelap di ranjangnya masing-masing. Kegiatan akan bervariasi karena yang diurus adalah anak “orang”.

Pengabdian, Sang Pemegang Kunci

Kita sampai pada bagian peran pengabdian di unit kesantrian. Sebenarnya tak banyak. Kedisiplinan santri selama di asrama itu yang utama. Coba ku sebut satu persatu:

  • keberangkatan ke masjid
  • keberangkatan ke sekolah
  • kedisplinan kegiatan malam (tidur)
  • perijinan keluar komplek pesantren
  • pengarahan kegiatan ekstra santri
  • dan semacamnya

Intinya adalah tiga poin pertama. Ketika tiga poin itu berjalan baik, berarti “pengabdian”nya sukses. Cara mengukur keberhasilannya mudah, tidak ada santri yang terlambat. TITIK

Oh iya, maksud “kunci” dari “pengabdian, sang pemegang kunci” adalah karena pengabdian yang memegang kunci gerbang asrama :p

#SegoresTinta

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

2 comments

  1. Aku arep gaawe ngono mas, tapi wes ra sempet… Ttersisa 4 bulaan lagi ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram