Breaking News
Home / Nalar / Menjadi Lebih Sempurna

Menjadi Lebih Sempurna

Manusia merupakan makhluk paling “sempurna”. Meski begitu, kesempurnaan ini tak membuat manusia menjadi makhluk yang puas. Justru ia merasa dirinya kurang sempurna sehingga ia berusaha untuk menjadi lebih sempurna.

Manusia mengamati burung yang terbang melayang di langit. Mengepakkan sayap ketika lepas landas, membentangkannya ketika mencapai ketinggian tertentu, dan menekuknya sedikit ke atas ketika mendarat. Manusia berusaha untuk lebih sempurna. Ia juga ingin terbang. Seperti burung. Terciptalah pesawat.

Manusia mengamati kangguru yang lari berjingkat di padang rumput. Kecepatan lari seekor kangguru bisa mencapai 72 km/jam. Bahkan seorang pelari terkenal seperti Usain Bolt saja hanya mampu mencapai kecepatan 45 km/jam. Itu pun belum menghitung stamina yang dimilikinya sehingga kecepatan tersebut hanya sebentar saja. Katakanlah 100 meter. (FYI: Usain Bolt, juara lari 100 meter Olimpiade 2016 lalu). Manusia berusaha untuk lebih sempurna. Ia juga ingin lari secepat itu. Seperti kangguru. Terciptalah kendaraan bermotor: motor, mobil, dan kereta.

Manusia mengamati ikan salmon yang berenang menempuh ribuan kilometer ketika migrasi. Migrasi yang dilakukan ikan salmon bisa mencapai 1.400 kilometer kemudian “memanjat” hingga 2.100 meter. Manusia berusaha untuk lebih sempurna. Ia juga ingin berenang melintasi samudra. Bahkan kalau bisa, lebih jauh dari ikan salmon. Terciptalah kapal laut.

Tak sampai di situ. Manusia masih ingin menjadi lebih sempurna. Sudah mampu terbang, tetapi ingin terbang lebih tinggi. Membelah angkasa. Keluar dari “kubah” Bumi. Menjejakkan kaki di “batuan asing”. Terciptalah pesawat ulang alik.

Tak sampai di situ. Manusia masih ingin menjadi lebih sempurna. Sudah mampu berenang, tetapi ingin berenang (menyelam) lebih dalam. Membelah lautan. Masuk ke relung kegelapan laut. Gelap. Mungkin ada “makhluk asing” yang tak pernah sekalipun mengetahui adanya cahaya. Terciptalah kapal selam.

Manusia sudah sempurna, tetapi ingin menjadi lebih sempurna. Eksplorasi lebih jauh, lebih dalam, lebih tinggi.

Melihat matahari yang mampu memancarkan sinar. Manusia ingin membuat “matahari” juga, minimal mampu memancarkan sinar juga. Terciptalah senter.

Melihat hewan yang mampu melihat dalam gelap. Manusia juga ingin memiliki “penglihatan” makhluk tersebut, minimal mampu mengenali obyek dalam kegelapan. Terciptalah night vision.

Melihat unta dengan punuknya yang mampu menyimpan cadangan air. Manusia juga ingin memiliki punuk unta, minimal mampu mencadangkan air kala musim kering. Terciptalah kantung air, tandon, maupun termos.

Masih banyak lagi. Banyak lagi. Manusia, makhluk sempurna, melihat makhluk lain yang tidak sesempurna dirinya. Ingin menjadi makhluk tersebut. Bukan kekurangsempurnaannya. Justru dengan melihat tersebut, ia tahu apa yang belum sempurna dari dirinya (manusia). Dan berusaha menjadi lebih sempurna.

Manusia, selalu ingin terlihat sempurna. Paling tidak, di depan kecengannya.  *diiringi lagu “Sempuna” oleh Andra and The Backbone

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram