Breaking News
Home / Kajian / Mengapa Membaca AlQuran “Tidak” Asyik?

Mengapa Membaca AlQuran “Tidak” Asyik?

Jika membaca alQuran tidak seasyik buku bacaan (novel/komik/cerpen), berarti ada sesuatu yang kurang. Masihkah kita ingat kapan kali pertama membaca alQuran? Saat sekolah? TPA/TPQ? Selepas masa balita? Setamat mengkhatamkan buku Iqro’? Saya pastikan saat itu kita dalam keadaan terpaksa (paling tidak bagi saya sendiri). Dipaksa untuk belajar membaca. Panjang pendeknya, kapan harus berhenti atau wajib lanjut, hingga pelafalan setiap hurufnya.

Lain halnya dengan membaca buku bacaan. Adakah keterpaksaan dalam membacanya? Bahkan mungkin kita dengan mudahnya merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan buku bacaan tersebut. Kalaupun tidak membeli, paling tidak mencari pinjaman dari teman yang lebih tajir atau sudah memilikinya lebih dulu. Belum kalau novel/komik asing. Rela membaca novel/komik berbahasa asing karena edisi terjemahan belum keluar.

Sampai sini, jelas apa yang membedakan antara membaca alQuran dengan buku bacaan. Ada dua, yaitu keterpaksaan dan rasa penasaran.

Membaca alQuran terdapat keterpaksaan sedangkan sebaliknya dengan buku bacaan. Bahkan membaca buku bacaan lebih mengundang rasa penasaran. Apalagi buku bacaan serial yang secara periodik terbit. Sudah pasti ditunggu-tunggu kelanjutannya.

Adanya keterpaksaan membuat kita membaca alQuran. Tetapi ketika keterpaksaan tersebut sirna, tidak ada yang memaksa, maka sirna pula keinginan untuk membaca. Namanya juga terpaksa, apa mungkin rasa penasaran muncul karenanya? Lain halnya jika rasa penasaran itu sudah ada, tanpa ada keterpaksaan pun maka suka rela akan membacanya, kesadaran.

Padahal jelas, ketika membaca alQuran diganjar dengan 1 pahala setiap hurufnya. Mau diulang berapa kalipun, tawaran ini tidak begitu manjur. Sama seperti peringatan dalam bungkus rokok. Baca tapi pura-pura tidak baca. Baca tapi pura-pura tidak percaya.

Membaca alQuran mendapat pahala. Tetapi pahala itu sesuatu yang tak terlihat.  Walaupun itu merupakan sebuah investasi, tabungan akhirat. Tetap saja manusia itu ingin yang instan. Langsung terlihat apa yang didapatnya. Sedangkan buku bacaan, hasilnya “langsung” didapat ketika menamatkan buku tersebut. Terpuaskannya rasa penasaran. Padahal rasa penasaran tersebut memang terbentuk ketika membaca intro atau abstraknya.

Lantas bagaimana bisa menjadikan membaca alQuran itu seasyik buku bacaan?

Mindset. Mengubah cara pandang. Satu cara yang saya coba aplikasikan adalah “menjadikan” alQuran seperti buku bacaan. Sehingga dengannya memupuk rasa penasaran.

Pernah beli buku bacaan kan? Bagaimana seketika sampai di rumah, langsung merobek plastik kemasannya. Sebagian dari kita mungkin akan memberikan sampul, memberi nama, tanda tangan, dan tanggal pembelian. Sesegera mungkin ingin menamatkan dalam sekali duduk.

Pernah beli ponsel pintar? Kali pertama memilikinya, serta merta merobek kemasannya, memasang baterai, dan menghidupkannya tanpa perlu membaca buku penggunaan terlebih dahulu. Bagaimana bisa demikian?

Kita sudah tahu lah bahwa alQuran merupakan kalam Ilahi. Kita juga sudah tahu bahwa alQuran “turun” 14 abad yang lalu, masih sama dan tidak berubah isinya. Kita juga tahu bahwa alQuran merupakan satu dari dua warisan peninggalan Rasul.

Tahukah anda tongkat, mukjizat Nabi Musa, yang mampu berubah menjadi ular mengalahkan ular-ular penyihir Fir’aun? Tongkat yang sama yang mampu membelah lautan sehingga kaum Nabi Musa mampu menyeberanginya?

Tahukah anda mukjizat Nabi Ibrahim yang justru kedinginan ketika dibakar dalam api yang membara? Tahukah anda mukjizat Nabi Sulaiman yang mampu berkomunikasi dengan hewan? Merajai kaum jin dan hewan? Tahukah anda mukjizat Nabi Isa yang mampu berbicara ketika masih bayi?

Dan tahukah anda bahwa alQuran merupakan salah satu mukjizat Rasul? Masih ada sampai sekarang. Terpajang manis di rak buku di rumah. Mungkin ada sedikit debu di atasnya. Mungkin ada sarang laba-laba di sekitarnya. Mungkin masih like a new, seperti baru dibeli.

Kan WOW banget bisa memiliki mukjizat tersebut. Tidak dipajang eksklusif di museum dengan tulisan “Do not touch”. Tidak harus pergi ke museum The Louvre di Paris untuk melihatnya. Tidak harus masuk ke dalam perpustakaan Vatikan untuk membacanya. Masih terpajang manis di rak buku di rumah.

Tahukah anda mengapa ayat pertama di alQuran itu lafal basmalah? Mengapa nama “ArRahman” dan “ArRahiim” yang tercantumkan di sana, sedangkan ada 99 Asma’ul Husna? Terakhir. Tahukah anda mengapa wahyu pertama yang turun ialah “Bacalah” lantas disambung dengan “Dengan nama Rabbmu yang menciptakan”?

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram