Breaking News
Home / Curhat / Mencari Lubang

Mencari Lubang

Fase ini mungkin sudah pernah Anda lewati, ujian. Sekolah, kata seorang penyair, merupakan masa yang paling indah. Karena ada kisah kasih di sana. Itu katanya. Tetapi ujian menjadikan masa yang paling indah tersebut dapat menjadi mimpi buruk ketika tidak lulus ujian. Dampaknya ialah tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya atau minimal tidak mencapai passing grade yang diharapkan.

Kebetulan baru saja saya menemukan bagaimana “mempersiapkan” dalam menghadapi ujian. Bukan cara baru, bahkan mungkin sudah diterapkan oleh para pendidik sebelumnya. Mencari “lubang”.

Teknisnya ialah murid mengerjakan serangkaian soal yang merangkum serangkaian materi yang diujikan. Mana jawaban yang salah, di sanalah “lubang” yang harus ditambal. Fokus selanjutnya yang perlu dipelajari lebih dalam adalah hanya “lubang-lubang” tersebut.

Kelemahan dari pencarian lubang ini ialah jika murid mengerjakan dengan cara “silang indah” dan secara kebetulan memilih jawaban yang benar. Faktor keberuntungan ini tidak dapat selalu datang. Ia hanya memiliki probabilita 25% untuk soal dengan empat pilihan dan 20% untuk soal dengan lima pilihan. Jika anda ingin “bertaruh” dengan probabilita itu, saya angkat tangan. (Meski ada cara lain untuk “mencurangi” probabilita tersebut hehe).

Saya termasuk murid sekaligus pendidik yang “malas”. Sebagai murid yang “malas” untuk mencari pendidik dan pendidik yang “malas” mengajari murid dari nol.

Sebagai murid, kali terakhir saya mencari “lubang” ialah dua bulan lalu, sebelum mengambil ujian TOEFL. “Malas” mencari pendidik sehingga “terpaksa” otodidak. Apa yang saya lakukan selanjutnya persis seperti di atas, mengerjakan serangkaian soal dan menambal “lubang” yang ditemukan. Sebulan kemudian ujian dan setengah bulan kemudian hasilnya muncul. Alhamdulillah ada “sedikit” peningkatan sebesar 6% atau 30 poin. Bukan sesuatu yang memuaskan, tetapi jika dilihat dari “kemalasan” saya, sudah lebih dari cukup hehe.

Lain lagi sebagai pendidik. Mengajari murid dari nol bukanlah tugas saya. Itu tugas guru yang mengajar di sekolah, tentunya bukan saya. Maka saya terlalu “malas” untuk mengajari dari nol. Dengan demikian, pencarian “lubang” bisa lebih mudah.

Murid dibekali dengan serangkaian soal yang merangkum serangkaian materi yang diujikan. Ia diminta untuk menyelesaikannya sebelum pembelajaran tatap muka. Hanya dikerjakan yang memang yakin dengan jawabannya. Jika ragu atau tidak tahu, tinggalkan kosong. Dengan demikian dapat mengeliminasi faktor keberuntungan yang tidak dibutuhkan dalam tahap persiapan. Ia dibutuhkan hanya ketika ujian sudah berlangsung. Betul kan? hehe

Selanjutnya, “lubang” teridentifikasi. Kemudian pembelajaran difokuskan pada menambal lubang tersebut. Bagian ini harus berbeda dengan cara pengajaran guru di sekolah, karena menambal lubang tidak sama dengan membangun pondasi bukan?

Sayangnya, tidak semua murid seperti Bu Kek Siansu.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram