Breaking News
Home / Opini / Mempertanyakan Modal

Mempertanyakan Modal

Ke mana orang pergi ketika ia membutuhkan modal bisnis? TEMAN DEKAT. Bermodalkan kepercayaan yang sudah terbangun seiring dengan keintiman pertemanan, maka suntikan dana modal bisnis lebih mudah didapat.

Jika skala diperbesar. Ratusan ribu hingga dua digit juta tidak cukup untuk memodali bisnis, ke mana orang pergi? BANK (dan sejenisnya). Untuk satu ini, keintiman pertemanan tak lagi bisa diandalkan. Butuh katalisator lain untuk menumbuhkan KEPERCAYAAN.

Strategi bisnis dibuat dalam bentuk proposal. Serentetan pertanyaan pun diajukan. Semuanya hanya untuk menumbuhkan KEPERCAYAAN. Termasuk di antaranya, “Berapa persen keuntungan yang bisa saya dapatkan?”. Walaupun itu tersirat.

Kasus serupa mungkin bisa menjadi analogi kehidupan kita. Sang Pencipta memberikan modal termahal kepada manusia berupa AKAL. Mereka tak perlu “mengemis” untuk mendapatkannya. Bahkan tak perlu membangun KEPERCAYAAN. Bagaimana bisa IA percaya pada manusia jika manusia saja belum ada?

Ah, betapa bodohnya aku. Mencoba MERABA-RABA Dzat-Nya. Sudah jelas, Sang Pencipta mengetahui segala sesuatu termasuk masa depan karena Ia lah Yang Maha Mengetahui. Lantas, jika Ia sudah mengetahui, mengapa MODAL tersebut tetap diberikan kepada manusia? Apakah itu sebuah pertanda bahwa Ia PERCAYA dengan kemampuan manusia mengelola MODAL tersebut?

Duh, sekali lagi. Bodohnya aku jika mencoba MERABA-RABA Dzat-Nya. Tapi rasa penasaranku pada-Nya kadang kali menghantui. Setiap kali penasaran, maka setiap kali itu pula terbentur dengan namanya keGILAan. Mencoba MERABA Dzat-Nya, (mungkin) sama saja dengan menghitung jumlah bintang di langit.

Semakin jauh ku coba mengkaitkan antara MODAL, KEPERCAYAAN, dan MASA DEPAN, sekali lagi aku bertemu dengan yang namanya TAKDIR. Ah, sejauh mana ku bisa memanfaatkan MODAL ini untuk mengetahui-Nya lebih jauh?

*nb: tulisan singkat yang dibuat berdasarkan ayat yang dikutip dalam buku “A Book of Success” seri SMART. cc: @raisaauliaanwar @dzaestii

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram