Breaking News
Home / Curhat / Mbak Fadiyah & Mas Nafron Wedding

Mbak Fadiyah & Mas Nafron Wedding

“Selamat ya Wan? Akhirnya masuk Mesin ITS. Salam, kakakmu, Echa.”

Satu pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal ketika aku baru menginjakkan kaki di kampus “perjuangan” itu. Echa? Siapa pula ini? Mengaku-aku sebagai kakakku lagi. *angkat bahu.

“Iya Mbak. Terima kasih. Sampai ketemu di kampus besok.” Ku balas juga pesan singkat itu. Pura-pura kenal. Mungkin saja aku yang lupa pernah kenalan di pesantren dulu. Tapi kayaknya juga ndak kenal deh. Karena pergaulanku dengan santriwati sangat terbatas. Tak lupa, ku simpan dulu nomor kontaknya.

Esoknya, ada telepon dengan nomor tak dikenal lagi. “Dek, ini Mbak Zia.”

“Mb… Mbak Zia?” sambil ku mengingat-ingat. Siapa ya?

“Iya, mbakmu di pesantren.Nanti malam bisa ketemu di aula asrama?”

“Bi… Bisa Mbak,” rasanya masih canggung berbicara dengan lawan jenis. Belum terbiasa semenjak tamat dari pesantren.

“Ok, nanti habis jam makan malam. Mbak tunggu di sana.” Klek. Ditutup. Gaul banget mbaknya ini.

 

“Kenalin ini temen Mbak, Putri,” (Putri bukanlah nama sebenarnya. Saya lupa nama mbak yang menemani Mbak Zia saat itu).

“Lhoh, bukan Mbak Echa tho?”

“Echa? Echa siapa ya?”

“Ndak tau Mbak. Saya dapat SMS dari Mbak Echa,” sambil ku tunjukkan isi pesan singkatnya. “Coba Mbak cek nomor hapenya itu.”

“Ndak ada Dek.”

“Trus siapa ya Mbak?”

 

Sebelum meninggalkan pesantren, aku diberi tahu bahwa ada dua kakak kelasku di kampus yang ku tuju nanti. Dua-duanya santriwati. Mbak Ziadatul Hasanah dan Mbak Fadiyah Dinillah. Keduanya pernah ku temui. Keduanya aktivis kampus juga walaupun berbeda jalur. Mbak Zia di jalur LDK dan Mbak Fadiyah di jalur Himawa.

 

Hampir satu semester lamanya belum kunjung juga ku bertemu dengan Mbak Echa. Belum pernah ku dihubungi setelah itu. Belum juga ku hubungi. Bahkan sampai terlupa seiring berjalannya waktu dan kepadatan prosesi “penkaderan” mahasiswa baru.

Mas Ersyad, Steering Committee di kelompok “pengkaderan”ku. Sekretaris HMM (Himpunan Mahasiswa Mesin) yang sekaligus menjadi Presiden BEM ITS di tahun berikutnya. Komunikasi jarang ku lakukan dengan masnya ini selain melalui tatap muka “hampir” setiap minggu. Sampai suatu ketika ku membuat janji melalui SMS.

“Lhoh, kok ada history chatnya?! Padahal ini kan baru pertama ku SMS masnya?” hanya ada dua balon percakapan. Punyanya dan punyaku.

“Lhoh, kok dari Mbak Echa,” ku coba cocokkan nomor Mbak Echa dengan Mas Ersyad.

“Lhoh, kok sama?!” hmmm ada yang perlu diklarifikasi ini, masa Mas Ersyad “menyamar” menjadi Mbak Echa. walaupun namanya homofon, Ersyad dan Echa.

“Mas, dulu pernah SMS saya? Waktu pertama kali saya masuk kampus?”

“Ndak pernah.”

“Mas kenal Mbak Echa?”

“Echa?”

Ku tunjukkan isi percakapan dulu dengan Mbak Echa yang cepat dibaca olehnya. “Oooo ini paling kerjaannya Fadiyah ini. Sewaktu pinjam hape saya.”

 

Barakallah Mbak Fadiyah yang hari ini menyempurnakan separuh agamanya.

Gedung Setyowati, 17 Juli 2016

fadiyah&nafron wedding

fadiyah&nafron wedding2

 

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram