Breaking News
Home / Kajian / .:: Lailatul Qadr dan “Mahkota” Kemuliaan ::.

.:: Lailatul Qadr dan “Mahkota” Kemuliaan ::.

Mengapa Lailatul Qadr? Mengapa malam? Mengapa bukan waktu selain malam? Ada apa dengan malam? Mengapa malam yang dijadikan lebih istimewa?

Apa itu Lailatul Qadr tak perlu ditanyakan kembali. Jawabannya sudah jelas di QS AlQadr. Ialah satu malam yang LEBIH baik dari seribu bulan. Tuh kan, pembandingnya adalah dengan satuan bulan, bukan satuan malam. Bisa saja dong pagi, siang, atau sore. Toh pembandingnya dengan satuan bulan.

Membandingkannya juga tidak “apple to apple”. Satuan malam tidak sebanding dengan satuan bulan. Satu bulan bisa 28-30 malam tergantung sistem kalender yang digunakan. Tapi ini juga menggambarkan secara tidak langsung bahwa penggandaan waktu yang berlipat-lipat. Sholat semalam dihitung 30.000 malam (dengan rincian 1.000 bulan x 30 malam/bulan).

Malam yang di mana para malaikat turun untuk mengatur segala urusan. Malaikat apa? Malaikat yang mana? Urusan yang mana? Apakah sepuluh malaikat yang sering didongengkan semasa kecil? Malaikat Jibril sang pembawa pesan? Malaikat Raqib sang pencatat amal kebajikan? Malaikat Mikail sang pembawa rejeki? Atau Malaikat Izrail sang pencabut nyawa?

Kesejahteraan hingga terbit fajar. Mengapa hanya sampai fajar? Mengapa tidak dilanjutkan hingga siang. Apakah hanya karena namanya malam kemuliaan? Hanya malam saja? Maka pertanyaannya kembali ke semula? Mengapa malam?

Mengapa waktu “malam” yang terpilih mendapatkan “mahkota” kemuliaan? Ada apa dengan waktu yang lain? Kurang pantaskah waktu-waktu yang lain untuk dinobatkan dengan “mahkota” tersebut?

Waktu “pagi” misalnya. Ia yang selalu membawa gairah semangat. Kemunculan mentari di ufuk Timur menebarkan energi tak terbatas. “Undepleted resource” kata para ahli. Langit yang terang sehingga manusia tak perlu mengaktifkan “mentari-mentari” sintetis untuk membantu penglihatannya. Bulir embun sejuk menetes di dedaunan. Mengapa bukan waktu “pagi” yang dipilih?

Begitu juga dengan waktu “siang”. Puncak di mana tumbuhan hijau dapat berfotosintesis dengan maksimal. Puncak di mana manusia berada pada hiruk-pikuk produktivitasnya. Puncak di mana air bersirkulasi untuk “melangit”. Puncak di mana manusia memenuhi permukaan Bumi. Mengapa bukan waktu “siang” yang dipilih?

Demikian juga dengan waktu “senja”. Akhir dari mayoritas kegiatan manusia tapi merupakan awal untuk menikmati kebersamaan keluarga. Awal dari ibadahnya istri pada suami. Senyumnya menghilangkan penatnya. (aduh jadi baper, skip aja hehe). Mengapa bukan waktu “senja” yang dipilih?

Mengapa justru waktu “malam” yang “menjuarai” waktu kemuliaan? Apakah karena manusia bisa lebih mencurahkan pikiran dan perasaannya pada Kekasihnya? Apakah karena manusia menjadi lebih dekat dengan Rabbnya? Apakah karena Allah “turun” di sepertiga waktu terakhir?

Semoga kita dapat “merangkul” sang juara “mahkota” kemuliaan tahun ini.

Rumah, 27 Juni 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram