Breaking News
Home / Curhat / Kunci Pengabdian Semau Gue: “Mata Santri”

Kunci Pengabdian Semau Gue: “Mata Santri”

Segores Tinta bukanlah satu-satunya balas dendam saya ketika “ambisi” saya tak tersalurkan ketika menjadi tenaga pengabdian selama di pesantren tiga tahun terakhir. Sebagai intermezzo, seperti yang anda kunjungi ini merupakan wadah dari Segores Tinta, klub menulis. As simple as that.

Salah satu “ambisi” saya yang tak sempat terrealisasi  ketika itu adalah “Mata Santri”. Klub fotografi. Sederhana kan ya? Memang. Klub fotografi sebenarnya sudah ada di pesantren itu dengan label “FlashOn”. Anggotanya merupakan santri-santri yang bergadget mahal. Minimal menggunakan kamera DSLR dengan berbagai macam model lensa.

Sayangnya, kegiatannya seakan tak terarah. Setiap ada kegiatan pesantren yang menghimpun banyak santri, anggota klub ini akan berkeliaran dalam acara. Bergerombol di pojokan maupun pinggir lokasi acara. Harapannya minimal adalah mendokumentasikan kegiatan tersebut. Sederhana kan ya? Memang sederhana sekali, tapi sayangnya selepas acara, ya bubar. Termasuk dokumenternya. Padahal seharusnya tim dokumenter yang diambil dari klub fotografi tersebut paling tidak memajang hasil potretnya di mading.

Kalau dibiarkan begini terus, kapan mau “dilirik”? Apa hanya ingin memamerkan gengsi dengan klub yang memiliki peralatan canggih? Minimal ketika bergabung dengan klub tersebut, santri sudah merengek meminta kamera DSLR yang berharga lima jutaan. Lima juta jika dibandingkan dengan honor saya ketika menjadi tenaga pengabdian mah, cuman geleng-geleng kepala.

Saya tanya sana-sini, siapakah pembimbing dari klubnya. Kok rasanya “ndak cetha” haha. Mungkin karena kesibukannya atau lain hal, akhirnya saya ambil alih tanpa permisi. Ketua klub saya panggil, saya beri tugas untuk memotret segala kegiatan santri. Entah itu sedang berangkat sekolah, latihan berpidato, makan di ruang makan, kerja bakti, antri makan, bahkan ketika sedang mandi antri mandi.

Setiap minggu minimal serahkan ke saya sepuluh foto. (Saya lupa, entah seminggu sekali atau sehari sekali). Nanti saya buatkan media untuk dimuat di media sosial dengan label “Mata Santri”

Apa harapannya? Saya masih ingat betul sebuah teori 10.000 jam. Seseorang yang melakukan kegiatan berulang-ulang hingga sepuluh ribu jam, berlatih selama sepuluh ribu jam, maka ia akan mahir dalam kegiatan tersebut. Begitulah dengan anggota klub tersebut. Dengan minimal memegang kamera selama sepuluh ribu jam, kelak di kemudian hari ia bisa menjadi master dengan kameranya. Mestinya bukan hanya memegang, tapi juga memotret.

Berikutnya ialah, stigma orang tentang pesantren yang kumuh atau kental dengan senioritas bisa sirna ketika melihat keseharian santri yang dibidik di balik lensa kamera. Mungkin karena kegiatan pesantren yang tertutup, hanya seputar komplek selama 24/7 hari.

Alumni yang pernah merasakan kehidupan tersebut juga akan merasakan nostalgia, kenangan, rasa rindu dengan masa santrinya dulu ketika melihat hasil bidikan “Mata Santri”. ~Ah, rasanya amboi.

Ujung-ujungnya adalah “merebut” perhatian para pimpinan pesantren sehingga mereka tanpa segan akan “menggelontorkan” sejumlah dana untuk memanjakan “Mata Santri”. Untuk bagian ini mata bisnis saya encer sekali. Mencoba menarik perhatian “investor” hahaha. Toh jika mereka mau, “Mata Santri” dapat dijadikan media publikasi yang ampuh.

Dengan mengumpulkan sepuluh foto dalam sehari atau seminggu, maka ketika satu tahun periode kepengurusan klub, mereka sudah mendapatkan beberapa album penuh foto yang dapat dikenang. Bukan hanya menjadi sesuatu yang dapat dikenang, tapi bisa dijual. Setiap album yang terjual, tinggal dibagikan kembali kepada kontributor album tersebut yang notabene adalah anggota klub fotografi.

Bahkan ini belum mempertimbangkan keikutsertaan dalam kompetisi fotografi yang setiap tahun pasti ada yang mengadakannya. Kalau ada kompetisi, tinggal comot saja dari album, atasnamakan santri yang bersangkutan, tinggal tunggu pengumuman. Kalau menang ya alhamdulillah, tidak menang pun tidak dirugikan.

Yah, sayang. Semua itu hanya “ambisi” saya yang tak tersalurkan. Sudah saya salurkan tapi sepertinya tidak ada yang “menangkap”. Ya sudah. Paling tidak pernah saya usahakan termasuk membuat tulisan ini. Entah siapapun yang membacanya kemudian merealisasikannya. Entah direalisasikan ke pesantren “itu” atau pesantren lain, atau bahkan lembaga pendidikan lain.

Masih terngiang-ngiang ketika berdialog dengan bapak-bapak ketika di kereta. Salah satu pelanggan tiket saya, yang setiap minggu menglaju Solo – Surabaya. Seorang hakim.

“Gimana, masih di pesantren?” tanya beliau.
“Sudah ndak, Pak.”

“Lha kenapa?”
“Sudah habis masa kontrak saya tiga tahun.”

“Ooo kirain karena ada ‘crash’ dengan pimpinan.”
“Haha mau dibilang ‘crash’ pun juga bisa Pak.”

*ups. Cukup sekian saja Goresan Tinta ini, daripada melebar ke bahasan yang lain hehe.

Rumah, 26 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram