Breaking News
Home / Curhat / Kunci Pengabdian Semau Gue: “Licik”

Kunci Pengabdian Semau Gue: “Licik”

Jabatan, sudah barang tentu bukanlah sesuatu yang “permanen”. Bisa jadi besok dilantik, tapi sekejap kemudian dilengserkan. Masih ingat kasus menteri dengan kewarganegaraan ganda?

1 April 2013 merupakan hari pertama saya memiliki label “ustadz” (berdasarkan hitam dia atas putih). Dan di saat itulah mulai hari demi hari bercengkerama dengan santri baik di asrama maupun di kantor kesantrian. Memberikan surat ijin keluar komplek.

Jumat demi Jumat berlalu. Semakin banyak Jumat yang berlalu, semakin berkurang pula kontrak pengabdian yang hanya 3 tahun. Sesuatu yang dirasa “pengalaman baru” menjadi tidak lagi baru. Menjadi wali kamar dengan segala rasa yang nano-nano.

Tak terasa 3 tahun hanya tersisa 2 tahun. Dan saya?! Masih begitu-begitu saja. Begitu-begitu saja jika dilihat hanya dari “status”. Pemikiran idealis ala ala mahasiswa mulai menggelayuti. Dalam hati berteriak, “SAYA TIDAK BISA BEGINI TERUS!!!”

Sentilan-sentilan senior satu kos masa kuliah yang sempat saya kubur dalam-dalam kembali mencuat.

Sisa 2 tahun jika begini terus maka tak ada “ambu-ambu”nya. Tidak berbekas. Katakanlah sudah tamat, maka ya sudah. Pergi begitu saja. Tak ada yang merasa kehilangan. Karena apa yang saya lakukan dapat dengan “mudah” dicari penggantinya.

Perlu sebuah “gebrakan” agar “precil” satu ini yang dulu “diremehkan” tidak dipandang sebelah mata. Ada semacam “dendam” yang dikubur dan dibungkus dengan senyuman.

Pikiran licik saya selalu mengatakan, “Gigit sedalam-dalamnya agar ketika dilepas, terlihat bekasnya.”

Mulai dari itu, ketika ada celah untuk melakukan sesuatu yang “beda” maka saya ambil. Dan secara ajaib, gayung bersambut. CASA (Club Astronomi Santri Assalaam) dapat saya gunakan sebagai “taring” untuk menggigit.

Tentunya CASA bukanlah taring pertama yang saya gunakan. Baca juga Kunci Pengabdian Semau Gue: “Mata Santri”

Taring ini perlu diasah agar semakin tajam dan menggigit semakin dalam. Tulisan demi tulisan di facebook dipenuhi seputar CASA. Foto-foto hasil karya CASA juga turut memenuhi galeri album di facebook. Ustadz-ustadzah yang punya facebook ditambahkan ke dalam daftar pertemanan. Sehingga lambat laun, CASA melekat pada identitas saya.

Dua tahun merupakan waktu yang cukup untuk semakin menajamkan taring. Sekecil apapun, seremeh apapun yang sekiranya bisa digigit, saya gigit. Tak terasa, meskipun saya berada di naungan kesantrian, tapi juga bergerak di laboratorium. Padahal keduanya berbeda unit.

Nakal memang. Tetapi demi memuluskan rencana licik tadi, cara seperti ini perlu ditempuh.

Kini, enam bulan sudah terlewati dari habisnya masa kontrak pengabdian. Tinggal dilihat hasil gigitan saya. Sedalam apakah gigitannya? Dan yang terpenting, adakah rasa kehilangan di sana?

Adakah rasa kehilangan di sana?

Rumah, 3 Oktober 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram