Breaking News
Home / Curhat / .:: Kunci dari Menjadi Pengabdian Semau Gue ::.

.:: Kunci dari Menjadi Pengabdian Semau Gue ::.

Beberapa waktu lalu sempat ingin ku bagikan tips menjadi “pengabdian semau gue.” Baru dapat cerita prolog, sisanya menguap seiring mood yang tergerus oleh waktu, buat apa ku bagikan ini, nanti hanya menghasilkan “raport merah” bagi yang mencobanya. Dan terbengkalailah cerita tersebut.

Kunci dari Menjadi Pengabdian Semau Gue darmaone

Sebenarnya kuncinya hanya satu, sebagaimana yang ku coretkan dalam gambar. NoOne => SomeOne. Menjadi “yang sulit digantikan.” Sehingga kelak jika terjadi re-negosiasi dengan Human Resource, bukan kalimat ini yang kau terima, “Siapa kamu?! Saya bisa dapatkan sepuluh orang sepertimu di luar sana dengan mudah.”

Ssssttt, sini ku bagikan satu penggalan kisahku ketika re-negosiasi itu terjadi. Ketika pembaruan kontrak pengabdian, disodorkanlah semua pegawai kontrak dan pengabdian dengan selembar kewajiban dan hak. Ku baca poin per poin, tak beda jauh dengan dua tahun terakhir. Termasuk di antaranya penyesuaian nominal honor. Wah, ndak “cucuk” ini. “Ustadz, saya bisa minta waktunya sebentar? Berdua saja,” | “Temui saya di ruangan saya.”

“Ustadz, saya rasa ndak bisa melanjutkan di Kesantrian,” | “Lha ada apa?” | “Soalnya saya rasa Kesantrian itu lebih membutuhkan kehadiran (waktu), dan itu bukanlah saya,” Kusampaikan beberapa “raport merah” sebagai pendukung alasanku di muka. Berapa kali ku absen tidak mengikuti kegiatan.

“Trus juga masalah nominal ini,” ku tunjuk poin tersebut. {Ini mungkin bagian yang “GILA.”} “Kayaknya terlalu besar buat saya.” GILA. Sebelumnya sempat ku intip berapa nominal pengabdian sepantaranku dan ternyata jauh di bawahku. Ku sampaikan pula bahwa apa yang ku berikan juga tidak sebesar dibanding teman-teman. “Waktu” yang ku berikan tak sebanyak teman-teman.

“Yang ini sebaiknya dikurangi saja, atau kalau perlu dihilangkan saja,” ini bagian yang lebih gila lagi. Kalimat ini pun sudah ku persiapkan jauh-jauh hari. Sebuah “kode” untuk waktunya “angkat kaki” setelah dua tahun lebih lamanya.

Ku ingat sebuah cerita pemuda yang menemui Imam Syafi’i dan mengadukan kegundahan hidupnya, merasa tak cukup dengan upahnya sebesar lima dirham. Jawaban yang diberikan Imam Syafi’i justru di luar nalar. “Temui majikanmu dan mintalah dikurangi menjadi empat dirham.” Pulanglah sang pemuda dan menjalankan apa yang diperintahkan tanpa mengerti apa maksudnya.

Beberapa waktu kemudian, sang pemuda kembali dan masih mengadukan hal serupa. Jawaban yang sama diberikan oleh Imam Syafi’i, “Temui lagi majikanmu dan mintalah dikurangi menjadi tiga dirham.” Maka, pulanglah sang pemuda dan semakin terheran-heran dengan jawaban tersebut. Jawaban yang justru di luar nalar.

Beberapa waktu berlalu, sang pemuda kembali tapi kali ini ia justru berterima kasih karena ternyata dengan tiga dirham tersebut, ia justru mampu memenuhi segala kebutuhannya. WHAT?! Di mana nalarnya batinku ketika membaca cerita ini? Orang yang mengeluhkan kesempitan hidupnya justru merasa cukup ketika upahnya dikurangi. Tetapi penjelasan yang disampaikan Imam Syafi’i lebih mencengangkan.

Beliau katakan bahwa dua dirham yang ia terima itu tidak pantas dengan apa yang ia kerjakan sehingga justru “merusak” keberkahan hidupnya. Lantas dibacakannya syair berikut:

– جَمَعَ الْحَرَامَ عَلَى الْحَلَاِل لِيُكْثِرَهُ

دَخَلَ الْحَرَامُ عَلَى الْحَلَالَ فَبَعْثَرَهُ
– Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
– Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

Kembali ke kisahku. “Lhoh, ya ndak usah seperti itu. Memang tinggal berapa bulan lagi kontrak pengabdian dengan Depag?” Ting-tung. Sinyal bahwa kodeku diterima hehe. Saatnya ku lancarkan “peluru” selanjutnya. “Cuman sampai 31 Maret besok, Ustadz.” (Sekitar lima bulan lagi). “Nah, kan tinggal sebentar lagi. Nanggung.” | “Tapi saya ndak bisa kalau di Kesantrian lagi tadz,” DESH, “peluru” kedua ku tembakkan.

“Ya nanti bisa dibicarakan,” ah, ini kalimat yang sama ku terima beberapa waktu lalu. Bukan jawaban ini yang ku inginkan. “Tapi saya ndak enakkan dengan Ustadz XXXXX (KaBag Kesantrian) kalau begini terus tadz,” | “Trus baiknya bagaimana?” Teng Tong, tembakanku masuk lagi. Saatnya ku tembakkan peluru terakhir.

“Saya mungkin bisa bantu di astronomi saja tadz.” Tak perlu ku ceritakan akhir dari dialognya karena bisa ditebak bagaimana akhirnya. Beberapa hari kemudian sebuah surat ku terima, pemindahan bagian dari Kesantrian ke Laboratorium, Perpustakaan, dan Astronomi. Inilah tips menjadi pengabdian semau gue. Hehe

Rumah, 6 Juni 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram