Breaking News
Home / Opini / Kopi Maut

Kopi Maut

Kopi itu pahit. Tapi sepahit-pahitnya kopi tidak akan sampai membunuhmu. Kecuali kopi Vietnam di meja 54.

Kasus persidangan kopi maut ini disiarkan langsung di salah satu program televisi dari awal hingga akhir. Mungkin bukan hanya saya yang berpikir, apa nilai edukasinya dari persidangan ini. Kasus pribadi mencuat hingga perlu disiarkan secara nasional.

Tetapi inilah uniknya, bagaimana kita bisa mengulik pembelajaran dari ini (penyiaran langsung persidangan)? Dalam persidangan, pastinya diundang para saksi baik saksi mata maupun saksi ahli atau apapun lah itu namanya (buta hukum :p).

Jika saksi mata, seseorang yang melihat langsung kejadian. Kita bisa melihat atau sedikit mengamati bagaimana gaya bahasa seseorang. Apakah ia berbohong atau jujur. Kita juga bisa mengamati bagaimana sebaiknya menyusun kalimat guna menyampaikan maksud tanpa ada misinterpretasi.

Lain lagi jika saksi ahli, seseorang yang pasti berkompeten dengan bidangnya, baik psikolog klinis, detektif, tim investigasi IT dan lain sebagainya. Gaya bahasa yang digunakannya pasti lebih tinggi dari saksi mata. Kita bisa belajar bagaimana sebaiknya menjelaskan hasil investigasi. Mungkin dari sini kita juga bisa belajar bagaimana presentasi tugas akhir 😝

Dari jaksa maupun pengacara, kita bisa belajar bagaimana kesalahan kata akibat keseleonya lidah saksi bisa dijadikan sebagai counter attack. Terutama jika ia mampu memberikan pertanyaan yang sekiranya sederhana tetapi menjadi “kunci” yang penting sebagai kartu AS-nya.

Dan hakim menjadi peran yang memusingkan. Bagaimana ia harus melihat jalannya persidangan lantas menjatuhkan keputusan yang bisa jadi benar maupun salah. Keputusannya pasti membawa dampak bagi kedua belah pihak.

Dan masih banyak yang bisa dipelajari dari perilaku manusia ini.

Terlepas dari itu, kopi itu pahit. Tapi dari situlah kita bisa menikmati pahitnya hidup. Walaupun tak jarang hidup itu bisa manis.

Rumah, 15 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ramadhan ala perantau

  Sayup-sayup suara tilawah dari speaker masjid saling bersahutan dan langit senja yang mulai menguning …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram