Breaking News
Home / iseng / Konflik

Konflik

Enaknya sinetron atau FTV ialah menonjolkan artis cantik atau aktor yang tampan. Sudah. Cukup itu saja. Entah ceritanya amburadul atau tidak. Selama aktor/artisnya sedap dipandang mata maka tetap saja ada penontonnya. Paling tidak saya ikut menonton hehe.

Lain halnya dengan tulisan entah itu berupa cerpen, cerbung, maupun novel. Ketampanan/kecantikan hanya tergambar dari imajinasi pembaca. Tentunya imajinasi tersebut harus dipacu oleh detail dari tulisan. Terlalu detail bisa jadi akan mengaburkan jalan cerita. Jadi ya sedikit kerumitan di sana.

Lantas yang menjadikan daya tarik dari tulisan adalah alur ceritanya. Alur yang datar dan cenderung monoton hanya mengundang kejenuhan. Kantuk. Apa bedanya dengan koran?!

Buku pelajaran juga datar. Ah tidak selalu datar. Ia mencapai konflik ketika muncul angka-angka. Makin pusing. Haha. Belum lagi jika ditambahi dengan nama-nama ilmiah. Beuh. Tambah bikin pusing.

Teori sederhana sih. Tinggal menyisipkan konflik ke dalam tulisan. Itu menjadi daya tarik dari tulisan.

Terserah konfliknya mau ditaruh di awal, tengah, atau menggantung di akhir. Konsep standarnya konflik berada di tengah. Diawali dengan pengenalan. puncak konflik, resolusi. Standar sekali, sebagaimana yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Namun penulis dapat mengatur konflik berada di depan. Di mana pembaca langsung dibuat kaget dengan konflik yang berada di awal berturut-turut resolusi dari konflik.

Konflik bisa juga ditaruh di akhir, apalagi penulis usil yang suka menggantung ceritanya. Seakan membuat penasaran dan memaksa pembaca untuk menunggu kelanjutannya. Padahal tidak ada kelanjutannya.

Meskipun konflik menyebabkan cerita menjadi menarik, tapi konflik yang terus-menerus hanya membuat pembaca lagi-lagi bosan. Lantas berkomentar, ini apa hidupnya selalu sedih sampai tak ada pahlawan yang membela contohnya.

Ingat sinetron yang beribu-ribu episode? “Tersanjung” contohnya. Entah sampai berapa keturunan itu pemainnya. Bisa jadi karena memang rating tinggi dan masih diminati penonton. Tapi bisa jadi juga pembuat ceritanya bingung untuk menutup ceritanya.

Jika pernah melihat grafik trigonometri, aculah itu dalam menyisipkan konflik hehehe.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram