Breaking News
Home / Curhat / Komuting

Komuting

Saya kira perjalanan komuting Solo – Yogya selama dua tahun dengan kereta Prameks lalu merupakan pengalaman terakhir dalam komuting. Berangkat pagi-pagi sekali, terkadang pulang baru mendapatkan tiket di keberangkatan terakhir.

Belum lagi harus berebut tiket, terutama di awal dan akhir weekend, yaitu Jumat sore dan Senin pagi. Wuih, kalau bisa, hindari keberangkatan tersebut. Atau jauh-jauh hari memesan terlebih dahulu.

Belum lagi jika bertemu dengan penumpang rombongan, umumnya rombongan liburan atau anak sekolahan yang ingin mencicipi kereta api “murah”. Hampir dipastikan kesulitan mendapatkan tiket, apalagi kursi.

Pengalaman tersebut ternyata belum seberapa dibandingkan komuting di ibukota. Meski secara jadwal dan ketersediaan KRL jauh lebih nyaman di ibukota. Tak perlu menunggu lama, KRL silih berganti lewat dengan rute yang sama. Sirkulasi udaranya pun juga lebih baik. Air conditioner gerbong menyembur keras-keras.

Tapi banyaknya KRL yang tersedia, masih belum menampung banyaknya pengguna yang bejibun. Berdesak-desakan dalam gerbong menjadi santapan tiap pagi dan sore. Meski pulang malam pun, KRL masih penuh.

Usulan untuk menambah jumlah gerbong atau jadwal kereta pun rasanya perlu dipikir ulang. Tiap kereta ada sekitar 10-12 gerbong. Belum lagi ada 898 perjalanan KRL yang membelah jantung ibukota setiap harinya. Di peak hour, jangankan duduk, berdiri saja perlu jinjit-jinjit.

Beberapa orang yang dapat tempat duduk langsung “terkapar” di tempat. Tidur. Kepala mendongak. Wajah tertutup masker. Menutupi mulut yang mungkin menganga tanpa sadar.

Sedangkan yang lain yang tidak kebagian, asyik dengan gadgetnya masing-masing. Mengecek lini masa media sosialnya. Sedangkan yang lain, berdiri dengan TaKos – Tatapan Kosong. Menanti pintu gerbong yang membuka-tutup di setiap stasiun pemberhentian.

Entah apa yang ada di dalam setiap kepala mereka. Bisa jadi pekerjaan kemarin yang belum kelar. Dagangan yang belum laku. Biaya sekolah anak yang harus dibayarkan. Atau seperti saya, yang berusaha mengamati sekeliling, menghapal rute perjalanan KRL.

Tapi lambat laun, pandanganku juga kosong. Otakku mati. Mengikuti arus. Tanpa sadar, saya menjadi “robot”. Dan waktu terasa bergulir begitu cepat. Besok malam tarawih. Insya Allah.

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

Ur Keyboard Ur Weapon

Sebagian besar dari kita pasti sudah jengah dengan “perang keyboard” yang terjadi di linimasa media …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram