Breaking News
Home / Kajian / Kisah Yusuf, Si Nabi Ganteng #24

Kisah Yusuf, Si Nabi Ganteng #24

Saya teringat betul masa di mana saya baru menjadi wali kamar di pesantren. Sekitar dua tahun lalu. Mengurus santri baru menjadi sesuatu yang sangat baru. Terlebih ketika mereka masih membiasakan diri dengan lingkungan dan kegiatan yang masih asing.

Menjembatani mereka untuk beradaptasi merupakan hal utama ketika menjadi wali kamar. Belum lagi harus mengambil alih peran orang tua mereka untuk mengawasi.

Wali kamar baru tanpa ada pembekalan khusus menjadikan saya harus melakukan trial-error dalam membina santri baru. Mencoba bertanya kepada wali kamar yang lebih senior hanya akan membawaku pada metode lama yang sudah berjalan bertahun-tahun. Bahkan mungkin kurang relevan dengan gaya santri yang berubah seiring perkembangan jaman.

Pikiran demi pikiran menumpuk di benakku. Ingin ku keluarkan, menanyakan ini itu atau lebih tepatnya – mencurahkan suka duka. Mencoba mencari metode yang paling efektif dan efisien dalam mengurus santri baru yang notabene setengah generasi di bawahku. Tetapi kepada siapa?

Sampai akhirnya saya bertemu dengan psikolog yang memang membidangi hal ini. Sekedar meminta pendapatnya saja sudah cukup membuat lega. Terutama ketika memberi masukan. Tak perlu waktu lama hingga akhirnya saya jadikan pedoman jika suatu saat saya temui permasalahan serupa tentang psikologi anak.

Dan mungkin seperti inilah ketika Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. Dua pemuda lain juga dimasukkan ke dalam sel yang sama. Seakan mereka menemukan seseorang yang sekiranya mampu memberikan takwil dari bunga tidur yang pernah dimilikinya. Bunga tidur yang mungkin terkesan tidak wajar, menghantui selama beberapa malam.

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”. Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi). [QS Yusuf: 35]

Mendapati Yusuf dalam sel yang sama seakan mendapatkan guru spiritual langsung. Hidup sehari-hari dengannya mungkin akan membawa ke dalam kehidupan yang lebih bijak. Bijak dalam menafsirkan berbagai fenomena. Bijak dalam membuat keputusan. Bahkan siapa tahu dapat menyerap banyak ilmunya dalam menafsirkan mimpi

Tetapi menjadi pertanyaan besar dalam benakku sekarang adalah dari mana mereka tahu bahwa Yusuf pandai dalam menafsirkan mimpi? Pernahkah selama hidup Yusuf muda ini menunjukkan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi? Sejak menjadi budak? Sejak dimerdekakan?

Atau mungkin berada dalam satu sel yang sudah cukup lama lantas lambat laun mereka mengetahui bahwa Yusuf bukan manusia biasa. Mengetahui gelagat dan tindak tanduk yang berbeda dari kebanyakan. Melihat Yusuf yang lebih arif bijaksana. Adakah garis kearifan tergurat di wajah gantengnya?

Rumah, 26 Agustus 2016

About darmaone

always unpredictable, and will be being like this

Check Also

“Qurban” tanda cinta

Eits..kata qurban bukan berasal dr kata “korban” loh ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tidak ingin ketinggalan  Goresan Tinta

terbaru kami?

 

Cantumkan Nomor WhatsApp anda di sini

BERLANGGANAN GRATIS

Channel Telegram